Spartavbud Digodok di Semarang: Platform Digital Ini Siap Ubah Cara Seniman Jual Karya

FOLKSTIME.ID – Upaya penguatan ekosistem seni budaya di Kota Semarang kembali digencarkan. Melalui Focus Group Discussion (FGD) keempat, yang diselenggarakan oleh Yayasan Dewi Sartika, arah pengembangan platform digital Spartavbud semakin dipertajam.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2025 ini telah dihadiri oleh pelaku seni, akademisi, hingga praktisi media. Dalam forum tersebut, gagasan besar tentang pemasaran karya seni secara digital telah dibahas secara mendalam dan sistematis.

Sejak awal perancangannya, Spartavbud telah diposisikan sebagai jembatan pemasaran yang dapat menghubungkan seniman dengan pasar yang lebih luas. Harapan tersebut semakin diperkuat melalui berbagai masukan yang telah diberikan dalam setiap sesi diskusi.


Spartavbud Dinilai Punya “Nyawa” Pemberdayaan

Ketua pelaksana kegiatan, Yanuar Aris Budiarto, menyampaikan bahwa respons positif terus diterima sejak FGD pertama digelar. Platform ini tidak hanya dilihat sebagai alat digital, tetapi juga sebagai gerakan pemberdayaan.

“Platform SPARTAVBUD ini dinilai memiliki ‘nyawa’ dan semangat pemberdayaan yang berpotensi memperkuat ekosistem seni dan budaya,” ujarnya.

Dalam FGD yang digelar di Gedung Business Learning Center (BLC) Unwahas Semarang, fokus pembahasan diarahkan pada strategi promosi dan distribusi konten secara masif. Hal ini dianggap penting karena sebelum aplikasi dikembangkan, fondasi ekosistem pengguna perlu dipersiapkan terlebih dahulu.

“Nah, pada FGD kali ini kami fokus pada topik ‘Strategi Pasukan Iklan & Distribusi Konten Massal SPARTAVBUD’, kami berharap sebelum aplikasi ini didevelop, sudah ada masukan dari para budayawan dan masyarakat yang akan jadi penggunanya,” jelasnya.


Potensi Ekonomi Seni Rupa Masih Terbuka Lebar

Potensi besar sektor seni rupa di Semarang juga telah disorot dalam diskusi tersebut. Menurut Singgih Adhi Prasetyo, peluang ekonomi dari sektor ini dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Peluangnya besar, termasuk untuk pola kerja freelance. Saya yakin platform SPARTAVbud ini mampu memberdayakan pelaku seni budaya dan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, konsep Spartavbud dinilai mampu menjawab kebutuhan dua pihak sekaligus: seniman yang membutuhkan promosi, dan masyarakat—terutama mahasiswa—yang membutuhkan tambahan penghasilan.

“Kepentingan pelaku seni budaya adalah dibantu promosi, dan kepentingan masyarakat, dalam hal ini mahasiswa, adalah butuh penghasilan tambahan. Maka konsep ini langkah jitu,” katanya.


Idealisme Komunitas Jadi Kekuatan Pembeda

Keunggulan Spartavbud juga telah dilihat dari sisi nilai yang diusung. Direktur Gambang Semarang Art Company, Tri Subekso, menilai bahwa platform ini memiliki kekuatan pada idealisme komunitas.

“Spartavbud ini punya idealisme, punya ‘nyawa’ untuk memfasilitasi teman-teman komunitas,” ujarnya.

Namun demikian, pentingnya kurasi yang ketat juga telah diingatkan. Hal ini diperlukan agar kualitas karya yang ditampilkan tetap terjaga di tengah keberagaman pelaku seni.


Tantangan Penjualan Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Dari perspektif media, tantangan terbesar dalam dunia seni budaya saat ini bukan lagi pada kesadaran branding, melainkan pada kemampuan menjual karya.

Prasetyo Widodo menyampaikan bahwa narasi produk harus dibangun dengan kuat agar mampu menarik minat konsumen.

“Brand awareness seniman sudah cukup, tapi bagaimana menjual karya itu yang masih lemah. Narasi produk harus dibangun agar memikat konsumen,” paparnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Hery Priyono, yang menilai bahwa potensi seni di Semarang sangat besar, namun belum diimbangi dengan strategi pemasaran yang optimal.

“Aplikasi seperti Spartavbud ini bisa jadi batu loncatan para pelaku seni dan budaya untuk memperkenalkan dan menjual karyanya,” ungkapnya.

Ia bahkan menggambarkan militansi seniman Semarang dengan pernyataan yang cukup tajam.

“Seniman Semarang itu ‘gila’. Sudah tahu Semarang itu kuburan seni, tapi tetap nekat berkesenian,” ujarnya.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional berkapasitas 100 gigawatt. Tahun ini, pemerintah menargetkan pembangunan 17 gigawatt PLTS sebagai bagian dari transisi energi bersih. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan, Presiden secara khusus meminta percepatan implementasi, terutama untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). “Ditargetkan 10 gigawatt dari diesel bisa dikurangi, sementara sekitar 7 gigawatt lainnya berasal dari penambahan kapasitas baru PLTS,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (21/4/2026). Program ini melibatkan Kementerian ESDM, PLN, Danantara, serta kalangan akademisi. Adapun penentuan lokasi pembangunan akan dilakukan oleh PLN sebagai implementator utama. Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mempercepat transformasi menuju energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Video : Sektetariat Presiden #energiterbarukan #plts #prabowosubianto #energibersih #IndonesiaMaju

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya