Semarang Gelar Maraton Tari 24 Jam Jelang Hari Tari Dunia 2026, Ratusan Penari dari Dalam hingga Luar Negeri Tampil Nonstop

FOLKSTIME.ID – Peringatan Hari Tari Dunia 2026 Semarang mulai disemarakkan lebih awal melalui sebuah pergelaran maraton tari selama 24 jam yang digelar di halaman Hotel Front One HK Resort. Acara tersebut telah dimulai sejak Jumat sore dan akan berlangsung hingga Sabtu sore, menghadirkan atmosfer seni yang terus hidup tanpa jeda.

Momentum ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai ajang perayaan, tetapi juga dijadikan ruang ekspresi yang semakin luas bagi para pelaku seni tari. Sebuah peningkatan signifikan telah ditunjukkan pada tahun ini, di mana durasi pertunjukan diperpanjang menjadi 24 jam penuh setelah sebelumnya hanya berlangsung selama 12 jam.

Ratusan Penari Dilibatkan dalam Panggung Tanpa Henti

Dalam pergelaran tersebut, sedikitnya 320 penari telah dijadwalkan untuk tampil melalui 84 penampilan yang berasal dari 17 sanggar serta sejumlah perwakilan kampus. Ragam pertunjukan telah disuguhkan, mulai dari tari tunggal hingga kolaborasi lintas daerah yang memperkaya nuansa artistik sepanjang acara.

Partisipasi yang luas ini menunjukkan bahwa ruang kolaborasi telah semakin terbuka. Penari dari berbagai wilayah seperti Semarang, Yogyakarta, Kediri, hingga daerah lain di Indonesia telah dilibatkan. Bahkan, sentuhan internasional turut dihadirkan melalui keikutsertaan penari mancanegara.

Ruang Inklusif untuk Berkarya dan Berekspresi

Ketua panitia, Mochamad Fajri Fadhilah, menegaskan bahwa kegiatan ini telah dirancang sebagai ruang inklusif yang mampu menampung ekspresi para penari secara berkelanjutan.

“Pada tahun 2026 ini, kegiatan menari dilaksanakan selama 24 jam, dimulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB di hari berikutnya, yang sebelumnya hanya berlangsung 12 jam. Ini menjadi upaya untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi para penari agar bisa terus berkarya dan berekspresi,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Melalui konsep tersebut, ruang berkarya tidak hanya diperluas, tetapi juga telah difasilitasi agar potensi para penari dapat terus dikembangkan secara optimal.

Sentuhan Internasional: Penari Jepang Tampilkan Tari Jawa

Kehadiran penari dari luar negeri menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam peringatan ini. Meskipun semula direncanakan dua penari mancanegara akan hadir, hanya satu yang akhirnya dapat tampil akibat kendala penerbangan.

Menariknya, penari asal Jepang tersebut justru dijadwalkan membawakan tari tradisional Jawa sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya Indonesia.

“Untuk peserta dari luar negeri awalnya ada dua, namun yang hadir satu karena kendala penerbangan. Menariknya, penari dari Jepang tersebut justru akan membawakan tari Jawa,” kata Fajri.

Hal ini memperlihatkan bahwa budaya Indonesia tidak hanya dikembangkan di dalam negeri, tetapi juga telah diapresiasi di tingkat global.

Generasi Muda Hingga Anak Usia Dini Turut Dilibatkan

Keikutsertaan peserta dalam kegiatan ini tidak dibatasi oleh usia. Mulai dari anak usia pra sekolah hingga pasca sekolah telah dilibatkan, sehingga regenerasi penari dapat terus terjaga.

Pertunjukan yang ditampilkan pun dibuat beragam. Tari tradisional dan kreasi modern telah dipadukan dalam format tunggal maupun kelompok. Variasi tersebut telah memberikan pengalaman visual yang dinamis bagi penonton yang hadir selama 24 jam penuh.

Persiapan Singkat, Kualitas Tetap Dijaga

Pelatih sanggar tari dari Gunungpati, Desti Herdiana, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan beberapa kelompok tari untuk tampil selama dua hari pelaksanaan.

“Kami membawa tiga kelompok untuk hari ini, terdiri dari Tari Kelinci, Tari Nusantara, dan Tari Denok Semarang. Untuk besok juga ada tiga kelompok lagi,” ujarnya.

Meskipun waktu persiapan relatif singkat, kualitas penampilan tetap diupayakan maksimal.

“Latihannya tidak sampai satu bulan, hanya sekitar tiga kali pertemuan sudah siap tampil,” katanya.

Tren Positif Perkembangan Seni Tari di Semarang

Perkembangan seni tari di Kota Semarang dinilai telah menunjukkan tren yang semakin positif. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya sanggar yang aktif serta meningkatnya minat generasi muda terhadap seni pertunjukan.

“Perkembangan tari di Semarang sudah cukup baik dibanding sebelumnya. Sekarang mulai terlihat peningkatan, terutama di sanggar-sanggar yang semakin banyak dan aktif,” ungkap Desti.

Pertumbuhan ini menjadi indikator bahwa ekosistem seni tari di daerah terus berkembang secara berkelanjutan.

Harapan untuk Masa Depan Seni Tari Indonesia

Melalui kegiatan maraton tari 24 jam Semarang, harapan besar telah disematkan kepada para pelaku seni agar dapat memperoleh ruang yang lebih luas dan fasilitas yang lebih memadai.

“Harapannya, teman-teman penari bisa diberikan ruang yang lebih baik untuk berkarya dan difasilitasi dengan maksimal agar potensi mereka bisa terus berkembang,” tutur Fajri.

Selain itu, peringatan Hari Tari Dunia di masa mendatang diharapkan dapat digelar lebih megah dan kompetitif.

“Semoga ke depan bisa lebih megah, lebih meriah, dan kompetisinya juga semakin ramai,” tandasnya.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Peringatan Hari Tari Dunia 2026 Semarang mulai disemarakkan lebih awal melalui sebuah pergelaran maraton tari selama 24 jam yang digelar di halaman Hotel Front One HK Resort. Acara tersebut telah dimulai sejak Jumat sore dan akan berlangsung hingga Sabtu sore, menghadirkan atmosfer seni yang terus hidup tanpa jeda. Momentum ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai ajang perayaan, tetapi juga dijadikan ruang ekspresi yang semakin luas bagi para pelaku seni tari. Sebuah peningkatan signifikan telah ditunjukkan pada tahun ini, di mana durasi pertunjukan diperpanjang menjadi 24 jam penuh setelah sebelumnya hanya berlangsung selama 12 jam. Dalam pergelaran tersebut, sedikitnya 320 penari telah dijadwalkan untuk tampil melalui 84 penampilan yang berasal dari 17 sanggar serta sejumlah perwakilan kampus. Ragam pertunjukan telah disuguhkan, mulai dari tari tunggal hingga kolaborasi lintas daerah yang memperkaya nuansa artistik sepanjang acara. Partisipasi yang luas ini menunjukkan bahwa ruang kolaborasi telah semakin terbuka. Penari dari berbagai wilayah seperti Semarang, Yogyakarta, Kediri, hingga daerah lain di Indonesia telah dilibatkan. Bahkan, sentuhan internasional turut dihadirkan melalui keikutsertaan penari mancanegara. Ketua panitia, Mochamad Fajri Fadhilah, menegaskan bahwa kegiatan ini telah dirancang sebagai ruang inklusif yang mampu menampung ekspresi para penari secara berkelanjutan. “Pada tahun 2026 ini, kegiatan menari dilaksanakan selama 24 jam, dimulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB di hari berikutnya, yang sebelumnya hanya berlangsung 12 jam. Ini menjadi upaya untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi para penari agar bisa terus berkarya dan berekspresi,” ujarnya, Jumat (24/4/2026). selengkapnya.. https://folkstime.id/semarang-gelar-maraton-tari-24-jam-jelang-hari-tari-dunia-2026-ratusan-penari-dari-dalam-hingga-luar-negeri-tampil-nonstop/ #haritaridunia #tari #tariindonesia #semarang #seni

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya