Dr. Fahmi Arifan, dosen Teknik Kimia Sekolah Vokasi UNDIP, membuktikan riset tak berhenti di laboratorium.

Puluhan inovasi diterapkan untuk UMKM, desa, energi terbarukan, hingga ekonomi sirkular dan telah dipublikasikan di jurnal internasional.

FOLKSTIME.ID – Bagi sebagian akademisi, laboratorium menjadi tempat lahirnya teori dan berbagai temuan ilmiah. Namun bagi Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng., laboratorium hanyalah titik awal perjalanan sebuah ilmu pengetahuan. Setelah penelitian selesai dilakukan, hasilnya diyakini harus dibawa keluar dari ruang kampus untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Prinsip tersebut telah dijadikan pegangan selama lebih dari dua dekade pengabdiannya sebagai dosen Teknik Kimia Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP). Berbagai inovasi yang dihasilkan tidak hanya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi juga diterapkan untuk membantu UMKM, kelompok tani, pelaku industri kecil, hingga masyarakat desa.

Melalui pendekatan tersebut, penelitian tidak lagi diposisikan sebagai capaian akademik semata. Sebaliknya, ilmu pengetahuan telah diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi, pengembangan teknologi tepat guna, sekaligus solusi atas berbagai tantangan di bidang energi, lingkungan, dan industri.

“Bagi saya, keberhasilan seorang akademisi bukan hanya diukur dari jumlah publikasi atau gelar akademik, tetapi dari seberapa besar ilmu pengetahuan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”

Pernyataan tersebut menjadi filosofi yang terus dibawa Fahmi Arifan dalam setiap langkah karier akademiknya.

Fondasi Akademik yang Dibangun dari Penelitian Berbasis Potensi Lokal

Perjalanan akademik Fahmi Arifan dimulai sejak menempuh pendidikan Sarjana Teknik Kimia di Universitas Diponegoro. Penelitian mengenai pemanfaatan limbah kulit jeruk sebagai sumber pektin telah dipilih sebagai tugas akhirnya pada tahun 2003.

Pilihan topik tersebut bukan tanpa alasan. Sejak awal, perhatian terhadap pemanfaatan limbah dan sumber daya lokal telah ditunjukkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan teknologi yang mudah diterapkan masyarakat.

Semangat tersebut kemudian dikembangkan ketika pendidikan Magister Teknik Kimia di Universitas Gadjah Mada berhasil diselesaikan pada 2010 melalui penelitian mengenai hidrolisis enzimatis bekatul untuk menghasilkan asam lemak.

Komitmen terhadap pengembangan energi terbarukan semakin diperkuat ketika program doktor di Universitas Diponegoro berhasil diselesaikan pada 2022. Penelitian mengenai produksi biogas dari limbah kubis dan limbah cair tahu menggunakan metode anaerobic digestion menjadi salah satu karya ilmiah yang menegaskan fokusnya pada pengembangan energi ramah lingkungan.

Tidak berhenti di sana, Program Profesi Insinyur kemudian berhasil diselesaikan pada 2023, disusul gelar Magister Manajemen pada 2025. Hingga kini, studi Magister Ilmu Komunikasi juga masih ditempuh dengan fokus pada transformasi pertanian organik di Kabupaten Pemalang.

Membangun Pendidikan Vokasi yang Dekat dengan Dunia Industri

Sebagai dosen Lektor di Sekolah Vokasi UNDIP, lebih dari 20 mata kuliah telah diampu yang mencakup bidang teknik kimia, keselamatan kerja, energi terbarukan, industri sawit, hingga kewirausahaan.

Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada teori di dalam kelas. Sebaliknya, kebutuhan industri selalu dihubungkan dengan kompetensi yang harus dimiliki lulusan vokasi sehingga mahasiswa dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dunia kerja secara langsung.

Pendekatan tersebut menjadikan proses pendidikan tidak sekadar menghasilkan lulusan, melainkan sumber daya manusia yang mampu menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Mengelola KKN Sebagai Wadah Inovasi Desa

Selain mengajar, berbagai jabatan strategis juga telah diemban di lingkungan Universitas Diponegoro.

Mulai dari Sekretaris hingga dipercaya menjadi Ketua Pusat Pelayanan Kuliah Kerja Nyata (P2KKN) UNDIP, berbagai program KKN dikembangkan agar tidak hanya bersifat seremonial.

Pelaksanaan KKN didorong menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dengan masyarakat melalui pengembangan inovasi, pemberdayaan ekonomi desa, penguatan UMKM, hingga penerapan teknologi tepat guna.

Model tersebut menjadikan mahasiswa tidak hanya belajar mengabdi, tetapi juga membawa hasil penelitian kampus agar dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.

Puluhan Penelitian untuk Energi Terbarukan dan Ekonomi Sirkular

Produktivitas penelitian menjadi salah satu aspek yang paling menonjol dalam perjalanan akademik Fahmi Arifan.

Sedikitnya 56 penelitian telah dilaksanakan sepanjang periode 2005 hingga 2025 dengan dukungan pendanaan dari kementerian, pemerintah daerah maupun Universitas Diponegoro.

Berbagai penelitian tersebut diarahkan pada pengembangan teknologi yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah.

Beberapa fokus penelitian yang telah dikembangkan meliputi:

Produksi biodiesel dari minyak nabati dan minyak jelantah.
Pengembangan bioetanol berbasis limbah pertanian.
Produksi biogas dari limbah organik.
Teknologi biomassa.
Pengolahan limbah batik menggunakan bioreaktor.
Teknologi pangan fungsional.
Produk berbasis kopi, rosella, nanas dan minyak bunga matahari.
Inovasi pangan sehat dan rendah lemak.

Seluruh penelitian tersebut memperlihatkan konsistensi dalam mendukung konsep ekonomi sirkular, pengurangan limbah, sekaligus pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Hasil Penelitian Tidak Disimpan di Kampus

Berbeda dengan sebagian penelitian yang berhenti sebagai laporan akademik, berbagai inovasi yang dikembangkan Fahmi Arifan justru dibawa langsung ke masyarakat.

Selama hampir dua dekade, lebih dari 30 program pengabdian kepada masyarakat telah dilaksanakan di berbagai daerah.

Teknologi yang dihasilkan telah diterapkan untuk mendukung peningkatan produktivitas UMKM, kelompok tani maupun industri kecil.

Program tersebut meliputi:

Peningkatan produktivitas industri cincau.
Pengembangan teknologi jahe instan.
Pendampingan kelompok tani garam.
Produksi sirup terong Belanda di Dieng.
Pendampingan industri kerupuk rambak.
Pengembangan industri MOCAF.
Produksi sabun berbahan minyak jelantah.
Branding UMKM desa.
Teknologi pengolahan kopi.
Optimalisasi usaha kerupuk kulit ikan nila.

Melalui berbagai program tersebut, hasil penelitian telah diterjemahkan menjadi teknologi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Puluhan Publikasi Ilmiah Menembus Jurnal Internasional

Produktivitas ilmiah Fahmi Arifan juga tercermin dari banyaknya publikasi akademik. Hingga tahun 2026, lebih dari 70 artikel ilmiah telah dipublikasikan pada jurnal nasional maupun internasional bereputasi.

Topik yang diangkat meliputi energi terbarukan, biogas, biodiesel, biomaterial, teknologi pangan, antioksidan alami, bioplastik, limbah industri, hingga teknologi ramah lingkungan.

Publikasi tersebut telah diterbitkan pada sejumlah jurnal internasional seperti Food Research, International Journal of Technology, International Journal of Renewable Energy Development, Journal of Physics Conference Series, IOP Conference Series, Materials Today Proceedings, dan BIO Web of Conferences.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan tidak hanya memiliki relevansi lokal, tetapi juga memperoleh perhatian di tingkat internasional.

Aktif Mengabdi Melalui Organisasi Kemasyarakatan

Kontribusi Fahmi Arifan tidak hanya diwujudkan di lingkungan kampus.

Berbagai amanah juga diemban dalam organisasi kemasyarakatan dan profesi, di antaranya sebagai Wakil Bendahara Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Wakil Ketua PW Pagar Nusa Jawa Tengah, Bendahara PELTI Jawa Tengah, Deputi Pemberdayaan BAANAR PW Ansor Jawa Tengah, hingga Pembina Ikatan Mahasiswa Pemalang Universitas Diponegoro.

Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat juga dijalankan melalui aktivitas organisasi dan pembinaan generasi muda.

Penghargaan Nasional hingga Sertifikasi Internasional

Dedikasi panjang tersebut telah memperoleh berbagai bentuk pengakuan profesional.

Pada 2016, Satyalancana Karya Satya dianugerahkan oleh Presiden Republik Indonesia atas pengabdian yang telah diberikan.

Selain itu, berbagai sertifikasi profesional juga berhasil diraih, antara lain:

Insinyur Profesional Madya (IPM).
ASEAN Engineer (ASEAN Eng.).
Sertifikasi Dosen.
Auditor Halal.
Manajer Energi Industri.
Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Asesor Kompetensi.

Peran sebagai Reviewer Nasional PKM sejak 2016, Reviewer Nasional KBMK sejak 2020, serta Reviewer Rekognisi Universitas Indonesia pada 2025 juga menunjukkan kepercayaan yang diberikan terhadap kapasitas akademiknya.

Membangun Jembatan antara Kampus, Industri, dan Desa

Perjalanan panjang Dr. Fahmi Arifan memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempercepat pembangunan masyarakat.

Berbagai hasil penelitian telah dihubungkan dengan kebutuhan industri, UMKM, petani, hingga masyarakat desa sehingga inovasi tidak berhenti sebagai karya ilmiah.

Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pendidikan vokasi dapat menjadi penggerak lahirnya teknologi tepat guna yang memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.

“Keberhasilan seorang akademisi bukan hanya diukur dari jumlah publikasi atau gelar akademik, tetapi dari seberapa besar ilmu pengetahuan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”

Kalimat tersebut tidak hanya menjadi pandangan pribadi Dr. Fahmi Arifan, tetapi juga tergambar dalam jejak pengabdian yang telah dibangun melalui puluhan penelitian, program pemberdayaan masyarakat, publikasi ilmiah, serta inovasi yang terus dihadirkan bagi kemajuan bangsa.(mus)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat resmi melaporkan pengacara Hotman Paris Hutapea ke Polda Metro Jaya pada Senin (20/7/2026). Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/5291/VII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Hotman dilaporkan atas dugaan penghinaan terhadap kelompok atau profesi jurnalis dan dijerat Pasal 242 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tiga tahun penjara. Kasus ini bermula saat konferensi pers di Gedung Kejaksaan Agung RI pada Jumat (17/7/2026). Saat menjawab pertanyaan wartawan, Hotman melontarkan sejumlah ucapan yang dinilai merendahkan profesi jurnalis, di antaranya kalimat, “Lu punya otak nggak sih?”, “tanya kakekmu”, hingga meminta wartawan untuk “shut up”. Direktur Anti Kekerasan Wartawan PWI Pusat, Edison Siahaan, menilai ucapan tersebut telah merendahkan martabat wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik dan dilindungi undang-undang. Meski Hotman Paris telah menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagram pribadinya pada Senin pagi, PWI menilai permintaan maaf tersebut belum cukup untuk menghapus unsur pidana yang dilaporkan. Sebagai barang bukti, PWI menyerahkan rekaman video utuh konferensi pers yang menjadi dasar laporan ke pihak kepolisian. Bagaimana pendapatmu? Apakah permintaan maaf publik sudah cukup, atau proses hukum tetap perlu berjalan? #folkstime #hotmanparis #jurnalis #pwi #polisi

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *