FOLKSTIME.ID – Gema takbir Idul Adha 1447 H/2026 M kembali mengisi ruang-ruang kehidupan masyarakat Indonesia.
Suara yang berkumandang dari masjid, mushola, jalan-jalan kampung, hingga ruang digital menghadirkan suasana religius yang selalu dinantikan setiap tahunnya.
Di tengah semarak itu, masyarakat kembali diingatkan pada kisah monumental Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail; sebuah peristiwa yang selama berabad-abad dipahami sebagai puncak ketaatan dan pengorbanan.
Namun, di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, ada pertanyaan yang patut diajukan secara jujur: apakah pesan Idul adha hari ini masih benar-benar dipahami, ataukah hanya tinggal menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan daya gugahnya?
Kisah Nabi Ibrahim sesungguhnya tidak semata-mata berbicara tentang penyembelihan. Inti terdalam dari peristiwa tersebut adalah keberanian manusia untuk menundukkan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada nilai yang lebih tinggi.
Pisau yang dipegang Ibrahim bukan sekadar alat untuk memotong tubuh, melainkan simbol keteguhan untuk memotong keterikatan duniawi yang berlebihan. Pada titik inilah makna kurban menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern.
Hal ini, manusia tidak lagi sedang diuji untuk menyembelih anaknya. Ujian yang dihadapi justru jauh lebih halus, lebih dekat, dan sering kali tidak disadari.
Yang harus disembelih bukan tubuh manusia, melainkan ego yang tumbuh diam-diam di dalam diri. Ego yang menjelma menjadi keserakahan, keinginan untuk dipuji, kebutuhan untuk selalu terlihat lebih unggul, serta hasrat yang tidak pernah menemukan batas kepuasan.
Indonesia saat ini sedang menghadapi siatuasi sosial yang menunjukkan gejala tersebut. Di tengah kemajuan teknologi dan perkembangan media digital. Masyarakat semakin akrab dengan budaya pencitraan.
Banyak orang lebih sibuk membangun kesan dibandingkan membangun substansi. Kehidupan perlahan berubah menjadi panggung yang dipenuhi kebutuhan untuk mendapat pengakuan. Kebaikan sering kali tidak lagi cukup dilakukan, tetapi juga harus dipertontonkan.
Kesederhanaan tidak lagi dianggap menarik apabila tidak mendapatkan perhatian. Media sosial, yang pada awalnya diharapkan menjadi ruang berbagi informasi dan memperkuat relasi sosial, dalam banyak situasi, justru menghadirkan kompetisi baru yang tidak terlihat.
Manusia berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, gaya hidup, bahkan ibadahnya. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar terjebak pada kebutuhan untuk terus mendapatkan validasi orang lain.
Ukuran kebahagiaan berubah, ukuran keberhasilan pun bergeser. Yang terlihat sering dianggap lebih penting dibandingkan yang sesungguhnya terjadi. Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai lapisan kehidupan sosial.
Di ruang politik masyarakat menyaksikan pertarungan kepentingan yang sering kali lebih menonjolkan ambisi pribadi daripada kepentingan publik. Di ruang ekonomi, kesenjangan sosial masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Sementara itu, di lingkungan masyarakat sendiri, budaya individualisme semakin menguat. Kehidupan perkotaan yang semakin cepat sering kali membuat kepedulian sosial kehilangan ruang tumbuhnya.
Ironisnya, situasi tersebut hadir di tengah masyarakat yang dikenal religius. Rumah ibadah bertambah, kegiatan keagamaan semakin ramai, dan simbol-simbol keagamaan semakin mudah ditemukan.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah mengapa berbagai persoalan sosial seperti korupsi, intoleransi, ketidakjujuran, dan lemahnya empati masih terus muncul? Di sinilah persoalannya. Keberagamaan kadang berhenti pada simbol, sementara substansinya tertinggal jauh di belakang.
Idul adha seharusnya menjadi momentum refleksi untuk melihat kembali persoalan tersebut. Sebab kurban bukan sekadar persoalan berapa ekor hewan yang disembelih atau berapa besar biaya yang dikeluarkan.
Nilai utama kurban terletak pada kesediaan manusia untuk mengalahkan dirinya sendiri. Pengorbanan terbesar sering kali bukan kehilangan sesuatu yang dimiliki, melainkan melepaskan kesombongan yang selama ini dipelihara.
Barangkali hari ini yang perlu disembelih bukan hanya kambing atau sapi. Ada ego yang perlu dipotong agar manusia tidak merasa dirinya paling benar. Ada keserakahan yang harus dikurangi agar hak orang lain tidak terabaikan.
Ada sifat pamer yang perlu ditundukkan agar kebaikan tetap memiliki ketulusan. Ada kebencian yang harus dihilangkan agar kehidupan sosial kembali menemukan makna persaudaraan.
Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Tradisi gotong royong, solidaritas, dan semangat kebersamaan telah lama menjadi bagian dari identitas sosial bangsa ini.
Momentum Idul adha dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut. Distribusi daging kurban, misalnya, tidak hanya tentang pembagian materi, tetapi juga menjadi simbol bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Pada akhirnya, kisah Nabi Ibrahim mengajarkan satu pelajaran penting: manusia tidak akan pernah mencapai kedewasaan spiritual jika masih menjadi tawanan egonya sendiri.
Dunia boleh berubah dengan segala kemajuan teknologi dan dinamika sosialnya, tetapi tantangan terbesar manusia tetap sama, yaitu menaklukan dirinya sendiri.
Maka, ketika Idul adha 1447 H / 2026 M Kembali menggema, barangkali yang perlu direnungkan bukan hanya seberapa besar hewan kurban yang disiapkan, melainkan seberapa besar keberanian kita untuk menyembelih kesombongan, keangkuhan, dan kerakusan yang selama ini hidup dalam diri.
Sebab pada akhirnya, pisau Ibrahim tidak pernah sekadar mengajarkan tentang menyembelih. Pisau itu sesungguhnya sedang mengajarkan manusia bagaimana cara menaklukan ego.
Penulis: Endang Supriadi, M.A.(Sekretaris Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo Semarang)







