Pelatihan Mitigasi Bencana Disabilitas di Semarang Diperkuat, Simulasi Lapangan Ikut Digelar

FOLKSTIME.ID – Upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana bagi kelompok rentan di Kota Semarang kembali diperkuat. Pelatihan mitigasi bencana bagi penyandang disabilitas telah digelar melalui kolaborasi antara Layanan Inklusi Kota Semarang (LINKK Semar) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang.

Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai respons atas tingginya potensi bencana yang kerap terjadi di wilayah Kota Semarang. Langkah antisipatif dinilai perlu dilakukan secara sistematis agar seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, mampu menghadapi situasi darurat secara mandiri.

Sejak awal kegiatan, materi terkait mitigasi bencana disabilitas, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta simulasi penyelamatan mandiri telah ditekankan sebagai bagian utama pelatihan. Pendekatan inklusif juga telah diterapkan guna memastikan akses pemahaman yang setara bagi seluruh peserta.

Mitigasi Jadi Kebutuhan Dasar

Disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Drs. Endro Pudyo Martantono, bahwa pemahaman mitigasi dan kesiapsiagaan harus dimiliki oleh setiap individu, terutama penyandang disabilitas.

“Dalam kondisi bencana, penyandang disabilitas diharapkan dapat menyelamatkan diri secara mandiri sebelum bantuan datang,” ujar Endro dalam kegiatan yang digelar pada Senin (13/4/2026).

Selain penyampaian materi, simulasi bencana juga telah dilakukan dengan melibatkan unsur operasional BPBD. Dalam simulasi tersebut, langkah-langkah penyelamatan dijelaskan secara rinci, termasuk persiapan sebelum bencana dan tindakan saat situasi darurat terjadi.

Kolaborasi Inklusif Diperkuat

Ketua LINKK Semar, Fita, menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya dibentuk sebagai wadah kolaboratif untuk menghadirkan sistem penanggulangan bencana yang inklusif dan berkeadilan.

Disebutkan bahwa LINKK Semar telah diposisikan sebagai jembatan antara pemerintah, komunitas disabilitas, relawan, serta masyarakat umum dalam upaya mitigasi hingga pemulihan pascabencana.

“Peran kolaborasi sangat dibutuhkan agar penanganan bencana dapat menjangkau seluruh kelompok, termasuk disabilitas, secara setara,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Kajian dan Penanggulangan Bencana LINKK Semar, Wishnu Pratomo, menambahkan bahwa pemahaman terhadap tanda-tanda bencana menjadi kunci utama kesiapsiagaan.

Dipaparkan bahwa setiap jenis bencana memiliki karakteristik berbeda, sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan ragam disabilitas yang dimiliki peserta.

Simulasi Lapangan Libatkan Banyak Peran

Pada hari kedua pelaksanaan, simulasi bencana telah digelar dengan skenario yang melibatkan pembagian peran peserta ke dalam empat kelompok. Peran tersebut meliputi korban, tim evakuasi dan pengungsian, pusat data dan informasi, serta dapur umum.

Setelah briefing dilakukan, simulasi langsung dijalankan dengan menitikberatkan pada proses evakuasi penyandang disabilitas, khususnya disabilitas fisik dan netra. Dalam proses tersebut, teknik penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing disabilitas turut diperagakan.

Seluruh rangkaian kegiatan dijalankan secara serius oleh peserta. Setelah proses evakuasi dilakukan hingga ke lokasi pengungsian, pendataan korban telah dilakukan oleh tim pusat data dan informasi.

Di sisi lain, kebutuhan logistik juga disiapkan oleh tim dapur umum. Makanan yang dimasak tidak hanya digunakan sebagai bagian dari simulasi, tetapi juga didistribusikan kepada peserta dan fasilitator guna menghadirkan situasi yang mendekati kondisi nyata saat bencana.

Evaluasi dan Harapan Peserta

Di akhir kegiatan, evaluasi telah dilakukan untuk menilai efektivitas simulasi. Masukan dan kesan dari peserta juga telah disampaikan sebagai bagian dari perbaikan ke depan.

Disebutkan bahwa pengalaman simulasi tersebut memberikan gambaran nyata mengenai kondisi yang mungkin dihadapi saat bencana terjadi.

Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan pendamping disabilitas. Peran pendamping dinilai penting karena dinilai lebih memahami kebutuhan serta cara penanganan yang tepat dalam situasi darurat.

Kegiatan Akan Digelar Berkala

Ke depan, kegiatan serupa direncanakan akan dilaksanakan secara berkala. Hal ini dilakukan agar kesiapan penyandang disabilitas dalam menghadapi bencana dapat terus ditingkatkan.

Diharapkan, melalui pelatihan berkelanjutan, risiko korban jiwa dapat diminimalkan dan sistem penanggulangan bencana berbasis inklusivitas dapat terwujud secara optimal di Kota Semarang.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pihak turut hadir, di antaranya anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Maftukhah Wiwin Subiyono, Sekretaris Kecamatan Pedurungan Hendaryono, serta Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Semarang Riyanto.(tya)

Artikel Menarik Lainnya