Regenerasi Terancam, Batik Rifaiyah Batang di Ujung Tanduk: Workshop Joglomberan Jadi Titik Balik Pelestarian

FOLKSTIME.ID – Krisis regenerasi Batik Rifaiyah kian mengemuka dan dinilai mengancam kelestarian warisan budaya tak benda yang telah bertahan lebih dari satu abad. Minimnya keterlibatan generasi muda dalam proses membatik disebut telah memperlemah rantai pewarisan pengetahuan, sehingga keberlangsungan tradisi ini berada dalam situasi yang semakin rentan.

Isu keberlanjutan Batik Rifaiyah tersebut menguat dalam workshop bertema menyelamatkan eksistensi batik tradisional yang diselenggarakan di kawasan Joglomberan, Batang. Kegiatan ini dihadiri oleh perajin, pegiat literasi, komunitas budaya, serta unsur pemerintah daerah, yang dipertemukan dalam satu forum untuk membahas strategi pelestarian berbasis kolaborasi.

Dalam forum tersebut, krisis regenerasi disebut sebagai persoalan mendesak yang tidak hanya berdampak pada jumlah perajin, tetapi juga pada hilangnya sejumlah motif batik khas. Disebutkan bahwa motif-motif lama tidak lagi diproduksi setelah pembatik sepuh wafat tanpa sempat mentransfer keahlian kepada generasi penerus.

“Workshop ini menjadi support system yang sangat baik. Kita tidak bisa berjalan sendiri untuk menjaga keberlanjutan Batik Rifaiyah,” ujar penggiat Batik Rifaiyah, Miftakhutin.

Menurutnya, langkah konsolidasi lintas komunitas dinilai penting untuk menjaga semangat para perajin, terutama generasi muda, agar tetap tertarik menekuni batik bercorak religius tersebut. Ia menegaskan bahwa pelestarian tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai pihak secara berkelanjutan.

Nilai Spiritual Jadi Ciri Khas

Keunikan Batik Rifaiyah disebut terletak pada proses pembuatannya yang sarat nilai spiritual. Seluruh tahapan produksi dilakukan sambil melantunkan selawat, sehingga batik ini tidak hanya dipandang sebagai produk tekstil, tetapi juga sebagai praktik budaya yang mengandung dimensi religius.

“Keunikan ini tidak dimiliki batik lain. Dari awal hingga akhir proses, selalu diiringi selawat,” kata Ketua Dekranasda Batang, Faelasufa Faiz.

Ia menjelaskan bahwa nilai spiritual tersebut menjadi identitas kuat Batik Rifaiyah, sekaligus menjadi pembeda di tengah persaingan industri batik nasional. Namun demikian, aspek tersebut belum sepenuhnya mampu menarik minat generasi muda tanpa didukung faktor ekonomi yang memadai.

Motif Menyusut, Ancaman Kepunahan Nyata

Secara historis, Batik Rifaiyah memiliki kekayaan motif yang cukup beragam. Namun dalam perkembangannya, jumlah motif yang bertahan disebut terus menyusut. Dari sekitar 24 motif yang tercatat pada awal 2000-an, kini hanya sekitar 16 motif yang masih diproduksi.

Penyusutan tersebut dinilai sebagai indikator melemahnya proses regenerasi. Hilangnya motif tidak hanya berarti berkurangnya variasi produk, tetapi juga hilangnya nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, upaya pelestarian mulai dilakukan melalui dokumentasi motif yang tersisa serta promosi dalam berbagai pameran nasional, termasuk ajang kerajinan berskala besar. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan eksposur sekaligus nilai ekonomi Batik Rifaiyah.

Faktor Ekonomi Dorong Regenerasi

Aspek ekonomi disebut menjadi faktor kunci dalam menarik minat generasi muda. Ketika batik mampu memberikan nilai jual yang menjanjikan, maka peluang regenerasi dinilai akan semakin terbuka.

“Jika nilai ekonominya meningkat, generasi muda akan melihat batik sebagai peluang, bukan sekadar tradisi,” ujar Faelasufa. (tya)

@folkstime.id

Folkstime.id – Usai tragedi kecelakaan Kereta di Bekasi, Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi mengusulkan gerbong wanita dipindah bagian tengah, untuk gerong Pria berada di ujung depan dan belakang. bagaimana menurut kalian? #kecelakaankereta #keretapi #kai #menterippa #arifatulchoirifauzi

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya