Sekar Setaman, Pertunjukan Batik Dalam Temaram Lampu Taman Menumbuhkan Harmoni di Tengah Keberagaman

FOLKSTIME.ID – Lampu-lampu temaram mulai meredup. Denting musik mengalun lembut, mengiringi langkah pertama para model yang melintasi panggung.

Jumat malam (13/2/2026) itu, di dalam Ballroom A Hotel Tentrem Semarang, Batik Danar Hadi mengajak para tamu berjalan-jalan ke sebuah taman imajiner, taman yang penuh bunga, makna, dan cerita melalui pagelaran busana bertajuk “Sekar Setaman.”

Sejak awal, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar pertunjukan mode, melainkan perayaan kecil tentang bagaimana batik bisa terus hidup, bernapas, dan berbicara dalam bahasa zaman kini.

Motif-motif flora Nusantara hadir bukan hanya sebagai hiasan, melainkan sebagai simbol harmoni di tengah keberagaman.

Di balik konsep itu, Managing Director Danar Hadi, Diana Santosa, menyampaikan bahwa “Sekar Setaman” adalah tentang keselarasan dalam perbedaan.

Setiap bunga yang dituangkan ke dalam kain menyimpan filosofi kehidupan. Seruni, Anggrek Bulan, Kenanga, dan Mawar tidak sekadar cantik, tetapi mewakili karakter, nilai, dan perjalanan perempuan Indonesia.

Seruni atau krisan menyiratkan keteguhan dan optimisme. Anggrek Bulan memancarkan keanggunan dan kemurnian. Kenanga berbicara tentang keluhuran budi dan kesetiaan.

Sementara Mawar, seperti yang selalu kita kenal, adalah simbol keindahan dan cinta. Semua makna itu kemudian diterjemahkan dalam potongan busana yang memadukan teknik batik cap, batik tulis, hingga tulis kombinasi, pada material sutra crepe, Thai silk, organza, dan tenun ATBM.

Pagelaran mengalir dalam enam sequence, seperti bab demi bab dalam sebuah cerita. Pembukaannya menampilkan kain dan selendang berpadu kebaya modern hasil kolaborasi dengan IKAT Indonesia melalui lini Svarna, berkilau oleh payet dan aplikasi bunga.

Lalu hadir gaya klasik dengan potongan sederhana citra perempuan profesional yang anggun. Pada bagian CNY, siluet feminin modern bertemu sentuhan cheongsam, dengan motif Seruni yang dipadukan celana batik longgar.

“Bunga Tanahan” menyuguhkan tunik panjang, dress, dan outer berhiaskan beads halus. Disusul “Bunga Pastel” yang lembut, menghadirkan blouse, dress, hingga abaya bersutra crepe dengan aksen renda.

Dan ketika sequence “Bunga Tulis” menutup pertunjukan, kemewahan batik tulis bermotif bunga besar memancarkan aura evening look yang megah.

Bagi Diana, koleksi ini adalah bukti bahwa batik bisa terus bergerak maju tanpa kehilangan akarnya.

Busana bukan hanya soal indah dipandang, tetapi juga tentang cerita dan makna yang dibawanya sebuah penghormatan bagi kearifan lokal dan perempuan Indonesia yang memakainya dengan bangga.

Cerita Danar Hadi sendiri sudah panjang. Didirikan di Solo pada 1967 oleh pasangan Santosa Doellah dan Danarsih Hadiprijono, rumah batik ini dikenal sebagai pelopor yang menjembatani tradisi dengan kebutuhan pasar modern.

Mereka bahkan menghadirkan Rumah Batik sebagai ruang edukasi, agar masyarakat memahami batik bukan semata produk fesyen, melainkan identitas budaya yang sarat nilai sosial, sejarah, dan pandangan hidup.

Malam itu, lewat “Sekar Setaman,” batik kembali menemukan caranya untuk berbunga. Di atas panggung, di antara cahaya dan langkah model, wastra Nusantara berbicara: tentang harmoni, tentang kreativitas, dan tentang tradisi yang terus hidup dalam balutan masa kini.

Artikel Menarik Lainnya