Folkstime.id – Lantunan ayat suci menggema dari serambi Masjid Agung Semarang, Minggu (22/2/2026) siang, usai Salat Zuhur. Ratusan jemaah duduk bersila dengan mushaf terbuka di tangan, mengikuti pembacaan Alquran yang dilanjutkan dengan penjelasan tafsir dan fadilah ayat.
Kegiatan semaan Alquran yang berlangsung sejak 1 hingga 27 Ramadan itu kembali menjadi ruang belajar sekaligus ibadah bagi umat Muslim dari berbagai penjuru Kota Semarang dan sekitarnya.
Di antara jemaah, Agung Wibowo, warga Barutikung, Semarang Utara, tampak khusyuk menyimak setiap ayat yang dibacakan. Ia mengaku rutin mengikuti semaan setiap Ramadan dalam beberapa tahun terakhir.
“Rutin setiap bulan Ramadan saya ke sini,” ujar Agung.
Menurutnya, kebiasaan mengikuti pengajian secara intens baru ia jalani sekitar empat tahun terakhir. Sebelumnya, ia merasa pemahamannya terhadap ajaran agama masih terbatas.
“Awalnya saya hanya Muslim biasa. Setelah mendalami, sekitar empat tahun lalu, saya mulai rutin ikut semaan. Manfaatnya besar sekali, bisa berkumpul dengan sesama Muslim, menambah ilmu tentang Alquran dan kajian-kajiannya,” katanya.
Agung menilai semaan tidak sekadar membaca Alquran secara bersama-sama, melainkan juga menghadirkan penjelasan mendalam mengenai makna ayat. Hal itu membuatnya lebih memahami kandungan isi Alquran.
“Kalau hanya membaca, kadang tidak tahu maknanya. Di sini ada tafsirnya, jadi lebih paham. Ramadan ini terasa berbeda, lebih mendekatkan diri kepada Allah, apalagi ini masjid wali, orang-orang percaya ada keberkahannya,” tuturnya.
Pembina Yayasan Masjid Agung Kauman, Imin, menjelaskan bahwa tradisi semaan di masjid tersebut telah berjalan sejak dekade 1970-an. Ia menyebut kegiatan itu sudah ada bahkan sejak dirinya masih kecil.
“Kegiatan ini memang rutin setiap Ramadan. Namanya semaan, tafsir, dan fadilah Alquran. Jadi ada tiga rangkaian: pembacaan Alquran yang disimak jemaah, penjelasan tafsir, dan penyampaian fadilah ayat,” jelas Imin.
Tradisi itu pertama kali diasuh oleh KH Abdullah Umar, ulama asal Kudus yang dikenal sebagai ahli Alquran. Setelah wafat, pengasuhan dilanjutkan oleh murid-muridnya, di antaranya KH Ahmad Maqib Nur Al-Hafiz dan KH Abdul Hakim Al-Hafiz.
“Dulu jemaahnya sangat banyak, bahkan bisa ribuan. Ada yang khusus datang dari luar kota, menginap satu bulan penuh hanya untuk mengikuti semaan,” ungkapnya.
Pada masa awal penyelenggaraan, semaan menjadi rujukan masyarakat yang ingin memperdalam tajwid serta memahami hukum bacaan Alquran. Jemaah diminta memberi tanda pada mushaf sesuai kaidah waqaf dan ibtida yang dicontohkan kiai.
“Selain tafsir, juga ada ijazah-ijazah amalan yang disampaikan. Itu bagian dari fadilah ayat,” tambah Imin.
Memasuki era digital, jumlah jemaah yang hadir langsung memang tidak sebanyak masa lalu. Jika pada awal Ramadan dulu bisa mencapai lebih dari 5.000 orang, kini rata-rata berkisar 2.000 hingga 2.500 jemaah.
“Sekarang sudah ada siaran langsung YouTube. Jadi mungkin sebagian orang memilih mengikuti secara daring,” jelasnya.
Meski demikian, Imin menilai jemaah yang hadir secara langsung memiliki komitmen kuat. Sebagian rela meninggalkan rutinitas pekerjaan untuk fokus mengikuti pengajian siang hari dari selepas Zuhur hingga menjelang Asar.
“Mereka punya prinsip, 11 bulan bekerja, satu bulan fokus ibadah dan ngaji,” katanya.
Pengurus masjid memastikan semaan akan terus berlangsung hingga akhir Ramadan. Selain menjaga kesinambungan tradisi, dokumentasi digital melalui kanal YouTube dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian metode pengajaran para ulama.
“Kita ingin generasi mendatang tetap bisa mendengar cara penyampaian, tafsir, dan ijazah yang diajarkan para kiai,” ujar Imin.
Dengan perpaduan tradisi panjang dan adaptasi teknologi, semaan Alquran di Masjid Agung Semarang tetap menjadi magnet spiritual Ramadan, sekaligus ruang pembelajaran lintas generasi di tengah perubahan zaman.(tya)







