Tunanetra hingga Pelajar Ramaikan Donor Darah PMI Semarang, Aksi Disabilitas Tuai Apresiasi

FOLKSTIME.ID – Kegiatan donor darah yang melibatkan penyandang disabilitas, pelajar, hingga lansia digelar oleh Palang Merah Indonesia Kota Semarang sebagai upaya memperkuat stok darah sekaligus menumbuhkan kesadaran aksi kemanusiaan di kalangan anak muda. Dalam kegiatan tersebut, para penyandang disabilitas turut menjadi pendonor aktif dan dinilai mampu memberi inspirasi bagi masyarakat luas.

Aksi donor darah itu diikuti sejumlah relawan dari berbagai latar belakang, termasuk anggota Persatuan Tunanetra Indonesia dan pelajar SMA di Kota Semarang. Kegiatan tersebut juga dijadikan momentum untuk mengampanyekan bahwa donor darah tidak memiliki batas kondisi fisik selama pendonor memenuhi syarat kesehatan.

Ketua Palang Merah Indonesia Kota Semarang, Dr Awal Prasetyo, menyebut kegiatan donor darah itu sengaja dirancang untuk memberi contoh konkret aksi kemanusiaan kepada generasi muda, khususnya pelajar.

“Kegiatan ini dimaksudkan memberi inspirasi dan sekaligus contoh aksi kemanusiaan yang konkret kepada orang muda khususnya siswa SMA 4 Semarang dan tamu-tamu orang muda lainnya tentang perlunya donor darah yang merupakan wujud nyata aksi kepahlawanan kemanusiaan yang harus diapresiasi,” kata Awal, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, donor darah dapat dilakukan siapa saja tanpa memandang keterbatasan fisik. Karena itu, keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan donor darah dinilai penting untuk mematahkan stigma di masyarakat.

“Dalam konteks donor darah itu tidak ada batas. Tidak ada batas fisik yang menjadi syarat untuk menjadi donor darah. Maka tadi kita saksikan teman-teman dengan disabilitas, teman-teman yang sudah lansia itu juga donor darah,” ujarnya.

PMI Sebut Pendonor Disabilitas di Semarang Masih Minim

PMI Kota Semarang menyebut jumlah pendonor darah dari kalangan disabilitas hingga kini masih tergolong sedikit. Meski demikian, sejumlah penyandang disabilitas disebut telah aktif mendonorkan darah puluhan kali.

“Ada beberapa puluh, memang belum banyak. Sehingga ini diharapkan memotivasi teman-teman dengan disabilitas untuk mencoba memberikan sebagian hidupnya untuk kemanusiaan melalui donor darah,” ujar Awal.

Ia juga mengungkapkan kegiatan apresiasi khusus bagi pendonor darah disabilitas disebut baru pertama kali digelar di Indonesia.

“Kalau teman-teman cari informasi di Indonesia, ini baru kali pertama kegiatan yang memfokuskan apresiasi donor bagi yang disabel,” katanya.

Menurut Awal, beberapa pendonor disabilitas di Kota Semarang bahkan telah mendonorkan darah lebih dari 30 hingga 50 kali.

“Ada juga yang sudah lebih dari 30 kali. Bahkan tadi ada satu Mbak Tere sudah lebih dari 50 kali donor darah,” ujarnya.

Penyandang Tunanetra Bagikan Pengalaman Sulit Mencari Darah

Salah satu relawan donor darah penyandang tunanetra, Suryandaru, mengaku telah lama aktif menjadi pendonor darah sebagai bagian dari kepedulian sosial dan nilai kemanusiaan yang diyakininya.

“Saya sebagai anggota Persatuan Tunanetra Indonesia beberapa kali donor darah. Saya donor dan ingin berbagi,” katanya.

Namun pengalaman paling membekas dialami pada 2018 saat istrinya yang merupakan penyintas kanker membutuhkan transfusi darah. Pada saat itu, stok darah golongan O di PMI disebut sedang kosong sehingga dirinya harus mencari pendonor secara mandiri.

“Di tahun 2018 ternyata saya juga butuh darah, bukan untuk saya tetapi untuk istri saya. Waktu itu stok darah O kosong. Sebagai seorang disabilitas, saya kelabakan cari pendonor,” ungkapnya.

Ia kemudian berusaha menghubungi teman-temannya hingga kebutuhan darah untuk sang istri akhirnya terpenuhi. Pengalaman tersebut membuat dirinya semakin aktif mengajak masyarakat melakukan donor darah secara rutin.

“Selama kita masih sehat, ayo berbagi dengan yang membutuhkan. Siapa tahu nanti kita juga akan membutuhkan darah karena kita tidak tahu sakit atau penyakit apa yang akan terjadi,” tuturnya.

Pelajar SMA Mulai Rutin Donor Darah

Semangat donor darah juga ditunjukkan pelajar SMA Negeri 4 Semarang, Khansha Nadifa, yang mengikuti donor darah untuk pertama kalinya setelah genap berusia 17 tahun.

“Saya memang dari dulu ingin jadi pendonor darah karena ingin membantu orang-orang yang membutuhkan darah,” kata Khansha.

Siswi kelas XI tersebut mengaku awalnya sempat takut jarum suntik, namun rasa khawatir itu hilang setelah proses donor dilakukan.

“Saya sebenarnya agak takut sama jarum suntik, tapi setelah disuntik ternyata biasa saja,” ujarnya.

Setelah berhasil mendonorkan darah untuk pertama kalinya, Khansha mengaku ingin menjadikan donor darah sebagai kegiatan rutin setiap tiga bulan sekali.

“Insyaallah mau rutin donor setiap tiga bulan sekali,” katanya.(tya)

https://vt.tiktok.com/ZSxMTvR6Y

Artikel Menarik Lainnya