UIN Walisongo Semarang menggelar seminar internasional membahas geopolitik Timur Tengah dengan menghadirkan Duta Besar Iran, akademisi, dan pakar hubungan internasional.

UIN Walisongo Semarang menggelar seminar internasional membahas geopolitik Timur Tengah dengan menghadirkan Duta Besar Iran, akademisi, dan pakar hubungan internasional.

FOLKSTIME.ID – Konflik yang terus berkecamuk di Timur Tengah tidak seharusnya hanya menjadi tontonan dunia. Melalui seminar internasional yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang, kampus menegaskan pentingnya peran akademisi dan Indonesia dalam mendorong lahirnya perdamaian yang berkeadilan melalui diplomasi, pendidikan, dan solidaritas kemanusiaan.

Pesan tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk Reconfiguring Middle Eastern Geopolitics: Iran, Palestine, and the Future of Regional Order for Human Solidarity yang berlangsung di ICT Center Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Kamis (23/7/2026).

Forum internasional itu menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia H.E. Mohammad Boroujerdi, Direktur Global Thinkers Institute M. Ma’ruf, Ph.D., serta Guru Besar UIN Walisongo Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag. Kegiatan dibuka Wakil Rektor II UIN Walisongo Prof. Dr. Akhmad Arif Djunaedi dan dihadiri sivitas akademika serta peserta dari berbagai institusi.

Direktur Global Thinkers Institute M. Ma’ruf menegaskan Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding sekadar mengikuti perkembangan konflik Timur Tengah. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki modal moral dan diplomatik untuk berkontribusi dalam penyelesaian konflik melalui jalur damai.

Menurutnya, kepedulian terhadap Palestina maupun dinamika geopolitik Timur Tengah harus diwujudkan dalam langkah nyata, mulai dari penguatan pendidikan, diplomasi internasional, hingga gerakan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Pandangan senada disampaikan Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi. Ia menilai hubungan Indonesia dan Iran dibangun atas kesamaan nilai sebagai dua negara Muslim besar yang memiliki warisan peradaban kuat.

Boroujerdi mengatakan situasi Timur Tengah kini berada pada fase yang menentukan. Pendekatan keamanan yang mengandalkan kekuatan militer maupun intervensi negara luar dinilai tidak lagi mampu menghadirkan stabilitas jangka panjang.

Ia menjelaskan Iran mengedepankan empat prinsip utama dalam membangun tatanan kawasan, yakni penghormatan terhadap kedaulatan negara, penolakan terhadap segala bentuk agresi, penyelesaian konflik melalui dialog, serta pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia melalui kolaborasi.

“Palestina menjadi ujian vital bagi kemanusiaan,” ujarnya.

Boroujerdi juga menilai Indonesia layak menjadi contoh bagi dunia Islam karena berhasil membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. Ia mendorong hubungan kedua negara diperluas melalui kerja sama di bidang perdagangan, pendidikan, kesehatan, riset, hingga pertukaran akademisi.

Sementara itu, Guru Besar UIN Walisongo Prof. Ahwan Fanani mengingatkan bahwa Timur Tengah akan tetap menjadi pusat perhatian dunia karena memiliki posisi strategis sebagai penghasil energi, jalur perdagangan internasional, sekaligus kawasan lahirnya agama-agama besar.

Namun, menurutnya, kawasan tersebut masih dibayangi konflik berkepanjangan akibat fragmentasi politik, intervensi eksternal, peperangan, dan krisis kemanusiaan.

Ahwan menilai perubahan tatanan global menuju dunia multipolar membuka kesempatan bagi negara-negara Timur Tengah untuk membangun kerja sama yang lebih mandiri. Kesempatan itu harus dibarengi dengan penguatan institusi, pemulihan pelayanan sosial, pembangunan kepercayaan antarpihak, serta meningkatnya solidaritas kemanusiaan.

Pada penutupan acara, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan ruang dialog internasional yang menghasilkan gagasan dan solusi bagi persoalan global.

Ia berharap forum akademik lintas negara seperti ini tidak berhenti sebagai diskusi ilmiah semata, tetapi menjadi fondasi lahirnya kolaborasi yang mampu memperkuat perdamaian dunia melalui riset, diplomasi akademik, dan kerja sama kemanusiaan.

Seminar ini sekaligus memperlihatkan komitmen UIN Walisongo untuk menghadirkan kampus sebagai pusat lahirnya pemikiran strategis yang tidak hanya membahas konflik global, tetapi juga mendorong kontribusi nyata Indonesia dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih damai, adil, dan berkeadaban.(mus)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat resmi melaporkan pengacara Hotman Paris Hutapea ke Polda Metro Jaya pada Senin (20/7/2026). Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/5291/VII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Hotman dilaporkan atas dugaan penghinaan terhadap kelompok atau profesi jurnalis dan dijerat Pasal 242 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tiga tahun penjara. Kasus ini bermula saat konferensi pers di Gedung Kejaksaan Agung RI pada Jumat (17/7/2026). Saat menjawab pertanyaan wartawan, Hotman melontarkan sejumlah ucapan yang dinilai merendahkan profesi jurnalis, di antaranya kalimat, “Lu punya otak nggak sih?”, “tanya kakekmu”, hingga meminta wartawan untuk “shut up”. Direktur Anti Kekerasan Wartawan PWI Pusat, Edison Siahaan, menilai ucapan tersebut telah merendahkan martabat wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik dan dilindungi undang-undang. Meski Hotman Paris telah menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagram pribadinya pada Senin pagi, PWI menilai permintaan maaf tersebut belum cukup untuk menghapus unsur pidana yang dilaporkan. Sebagai barang bukti, PWI menyerahkan rekaman video utuh konferensi pers yang menjadi dasar laporan ke pihak kepolisian. Bagaimana pendapatmu? Apakah permintaan maaf publik sudah cukup, atau proses hukum tetap perlu berjalan? #folkstime #hotmanparis #jurnalis #pwi #polisi

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *