Aroma Seabad Bubur India di Masjid Djami Pekojan: Tradisi Ramadan yang Tak Pernah Padam di Semarang

Folkstime.id – Aroma rempah yang menguar dari halaman belakang Masjid Djami Pekojan menjadi penanda datangnya waktu berbuka puasa. Di Jalan Petolongan, Kota Semarang, tradisi memasak Bubur India tetap bertahan hingga kini, menjaga warisan kuliner Ramadan yang telah hidup lebih dari seabad.

Api kayu menyala stabil di bawah tungku, menopang kuali tembaga berukuran besar yang permukaannya telah menghitam dimakan usia. Dari sanalah wangi bawang, jahe, sereh, dan kayu manis perlahan menyebar, menyatu dengan aktivitas para peracik bubur yang bekerja sejak pagi hari.

Di belakang masjid tua tersebut, sejumlah pria bergantian mengaduk bubur tanpa henti. Gerakan mereka teratur, seirama dengan suara sendok kayu panjang yang beradu dengan dinding kuali.

“Kalau berhenti, bawahnya gosong. Kalau gosong, baunya sangit,” ujar Achmad Paserin, marbot masjid, Rabu (25/2/2026).

Achmad disebut sebagai generasi keempat yang meneruskan tradisi ini. Ia mengaku tak mengetahui secara pasti kapan Bubur India pertama kali dimasak di masjid tersebut. Namun berdasarkan cerita turun-temurun, tradisi itu diperkirakan sudah berlangsung sekitar satu abad.

“Katanya sih sudah 100-an tahun. Yang dulu itu usianya sudah 70 tahun, dari kecil sudah lihat ini,” tuturnya.

Masjid Djami Pekojan dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Semarang. Kawasan ini sejak lama menjadi permukiman komunitas keturunan India dan Arab, sehingga pengaruh budaya tersebut terasa kuat, termasuk dalam sajian berbuka puasa. Bubur berempah khas India ini hanya hadir selama bulan Ramadan dan menjadi menu utama takjil setiap hari selama 30 hari penuh.

Proses memasak dimulai sejak pagi. Beragam bumbu diracik lebih dulu, mulai dari bawang merah, bawang putih, onclang, wortel, daun salam, sereh, jahe, hingga daun pandan. Rempah seperti kayu manis dan kayu dadap menambah kekayaan cita rasa.

“Bumbunya standar rempah-rempah biasa, tidak ada yang khusus,” kata Achmad merendah.

Setelah bumbu siap, beras dimasukkan ke dalam kuali tembaga besar yang dibuat khusus dari Boyolali. Ukurannya yang tidak lazim membuat kuali ini tidak dijual bebas di pasaran, karena harus mampu menahan panas kayu bakar dalam waktu lama.

Sekali memasak, sekitar 21 kilogram bahan diolah. Jika kebutuhan meningkat, takaran bisa ditambah. Waktu memasak berkisar satu hingga satu setengah jam, dengan tantangan utama pada proses pengadukan yang dilakukan manual tanpa jeda.

“Kalau manual kan merata. Jadi tidak lengket sama tungkunya,” jelasnya.

Pengendalian api juga menjadi perhatian khusus. Kayu bakar terkadang sulit menyala stabil. Panas yang terlalu tinggi bisa membuat bagian bawah bubur cepat gosong, sehingga para juru masak harus terus waspada.

Setiap hari, lebih dari 200 porsi bubur disiapkan. Sekitar separuhnya dibagikan kepada jamaah yang berbuka puasa di masjid, sementara sisanya didistribusikan kepada warga sekitar. Selain bubur, tersedia pula kurma, susu, teh, kopi, hingga sesekali wingko babat sebagai pelengkap takjil.

“Setiap hari habis,” kata Achmad singkat.

Tradisi ini bukan sekadar soal kuliner, melainkan juga ruang kebersamaan. Sekitar 200 kursi disusun di halaman masjid untuk menampung jamaah berbuka bersama. Ketika azan magrib berkumandang, bubur hangat mulai dibagikan, menghadirkan suasana hangat yang mempererat silaturahmi.

Menariknya, seluruh kebutuhan bahan seperti beras, susu, teh, hingga kayu bakar diperoleh dari donatur. Pengelola masjid tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk kegiatan ini.

“Selama 30 hari Ramadan, semua dari donatur,” ungkap Achmad.

Para penyumbang datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari kawasan Pekojan, tetapi juga dari Jakarta dan kota lainnya. Sebagian mengetahui tradisi Bubur India ini dari pemberitaan, lalu tergerak untuk turut berkontribusi menjaga warisan Ramadan yang telah mengakar kuat di Kota Semarang.(tya)

Artikel Menarik Lainnya