372 Hafidz Muda Ramaikan Seleksi MHQ 10 Juz 2026 di Masjid Agung Jawa Tengah, 10 Terbaik Melaju ke Grand Final

Folkstime.id – Suasana khidmat menyelimuti kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Sabtu (28/2/2026). Sebanyak 372 hafidz dan hafidzah muda dari berbagai penjuru Indonesia mengikuti babak penyisihan Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) 10 Juz 2026. Dari ratusan peserta tersebut, hanya 10 terbaik lima putra dan lima putri yang akan melaju ke babak grand final pada 7 Maret 2026.

Ajang yang diinisiasi Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) ini menjadi panggung seleksi sekaligus pembinaan generasi Qur’ani di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya hidup anak muda.

Peserta MHQ 10 Juz 2026 tidak hanya berasal dari Kota Semarang dan sejumlah kabupaten di Jawa Tengah seperti Kudus dan Grobogan, tetapi juga dari berbagai provinsi lain, di antaranya Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, hingga Kalimantan.

Keragaman latar belakang itu berpadu dalam satu semangat: menjaga hafalan Al-Qur’an dan menguatkan komitmen sebagai penjaga wahyu di usia muda. Sejak pagi, para peserta telah bersiap mengikuti ujian secara daring dari titik masing-masing, sementara panitia dan sebagian tim teknis terpusat di MAJT.

Ketua Panitia MHQ 10 Juz 2026, Muh Syaifudin, secara resmi membuka seleksi dengan pesan yang menguatkan mental para peserta.

“Kenapa semua peserta perlu diberi sertifikat? Karena pada hakikatnya semua peserta itu adalah juara,” ujarnya di hadapan peserta dan panitia.

Menurutnya, pilihan para peserta untuk menghafal Al-Qur’an adalah keputusan yang tidak ringan di tengah tantangan era digital. Saat banyak anak muda menghabiskan waktu untuk hiburan, para hafidz muda justru menempuh jalan sunyi yang menuntut kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan.

“Manakala banyak anak muda menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, para peserta MHQ justru memilih mengorbankan waktunya untuk menghafal Al-Qur’an. Ini Masya Allah, kita harus memberikan apresiasi yang setidak-tidaknya bisa menjadi penyemangat bagi mereka,” katanya.

Sebagai bentuk penghargaan, panitia menyiapkan sertifikat bagi seluruh peserta, tidak hanya bagi mereka yang lolos ke final. Selain itu, hadiah uang pembinaan juga telah disiapkan untuk para finalis.

Babak penyisihan tahun ini menghadirkan sistem penjurian berbasis daring melalui platform Zoom. Sebanyak 22 hakim terlibat, masing-masing menguji antara 18 hingga 20 peserta sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Koordinator Hakim, Prof. Dr. Tholhatul Khoir, menjelaskan bahwa metode penilaian dilakukan melalui sistem undian. Peserta diminta memilih nomor amplop yang telah disiapkan panitia, kemudian menjawab tiga pertanyaan utama yang menguji:

Kekuatan dan kelancaran hafalan 10 juz

Ketepatan tajwid

Makharijul huruf

“Dari sisi hafalan, mayoritas peserta sudah menguasai materi 10 juz dengan baik. Untuk tajwid dan makharijul huruf, rata-rata sudah terlatih karena mereka adalah santri tahfidz,” jelasnya di sela-sela proses penjurian.

Namun demikian, ia menilai ada satu aspek yang menjadi pembeda signifikan di antara para peserta, yakni kualitas nagham atau keindahan bacaan.

Dalam satu sesi yang dipimpinnya, dari sembilan peserta yang diuji, hanya dua yang dinilai benar-benar menonjol dari sisi ketartilan dan kualitas suara.

“Kalau ketartilan dan makhraj rata-rata sudah bagus. Tetapi untuk sisi keindahan memang lebih ke bakat. Secara keseluruhan, kualitas peserta sudah baik,” tandasnya.

Pelaksanaan seleksi secara daring bukan tanpa hambatan. Sejumlah peserta menghadapi kendala jaringan internet yang tidak stabil, keterbatasan perangkat, hingga kesalahan teknis dalam mengoperasikan aplikasi konferensi video.

Beberapa bahkan sempat terputus saat menjawab pertanyaan hakim. Namun panitia sigap mengatur ulang jadwal dan memastikan setiap peserta tetap mendapatkan kesempatan yang adil untuk menyelesaikan ujian.

Dengan pembagian sesi yang terstruktur dan dukungan teknis yang memadai, seluruh rangkaian penyisihan dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat dan tertib.

Dari total 372 peserta, panitia akan menetapkan 10 terbaik yang terdiri atas lima putra dan lima putri untuk tampil pada babak grand final yang dijadwalkan berlangsung Sabtu, 7 Maret 2026.

Grand final nantinya tidak hanya menjadi ajang penentuan juara, tetapi juga momentum syiar dan inspirasi bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.

MHQ 10 Juz 2026 di MAJT diharapkan menjadi ruang pembinaan berkelanjutan, bukan sekadar kompetisi tahunan. Para peserta tidak hanya diuji hafalan, tetapi juga dibentuk karakternya—disiplin dalam murojaah, tangguh menghadapi tekanan, serta konsisten menjaga nilai-nilai spiritual di tengah perubahan zaman.

Di tengah gemerlap dunia digital, ratusan hafidz muda itu telah menunjukkan bahwa jalan Al-Qur’an tetap menjadi pilihan yang relevan dan penuh kemuliaan. Dan seperti yang ditegaskan Ketua Panitia, pada hakikatnya, mereka semua adalah juara.(tya)

Artikel Menarik Lainnya