FOLKTIME.ID – Aktivitas tak biasa terlihat di salah satu sudut asrama Ponpes Roudlotul Quran Kauman, Kota Semarang. Sebuah ring light menyala, ponsel terpasang di tripod, dan dua santri bergantian berbicara di depan kamera menawarkan sarung serta busana muslim melalui siaran langsung TikTok.
Salah satu santri yang terlibat adalah Laili Zayyinatul Huda (22). Dengan percaya diri, ia mempresentasikan produk sambil sesekali membaca komentar warganet yang masuk selama live berlangsung. Bagi Laili, pengalaman ini menjadi bagian baru dari proses belajar di pesantren, tanpa meninggalkan kewajiban utama menghafal Al-Qur’an.
“Baru sekitar dua minggu saya mulai live. Sebelumnya saya belajar menjadi talent di Masjid Affiliate Bandung selama tiga hari. Di sana diajari personal branding, membangun akun, sampai bisa daftar affiliate dan langsung praktik,” ujar Laili, Senin (2/3/2026).
Pelatihan tersebut berlangsung di Masjid Affiliate Al-Kahfi, Bandung. Laili bersama sembilan santri lainnya mendapatkan pembekalan tentang pemasaran digital, teknik komunikasi persuasif, hingga strategi membaca tren pasar.
Sepulang dari pelatihan, para santri langsung mengembangkan unit usaha pesantren berbasis digital. Mereka memasarkan produk melalui akun TikTok @santritengahkota, dengan fokus pada sarung dan busana muslim. Sejumlah produk dipasarkan melalui kerja sama dengan pihak Masjid Affiliate Al-Kahfi.
Kemampuan berbicara di depan kamera diasah Laili secara mandiri. Ia mempelajari gaya penyampaian kreator lain sebagai referensi, lalu mengembangkan karakter sendiri agar tampil lebih komunikatif.
“Awalnya tentu grogi. Tapi lama-lama jadi terbiasa. Ini juga melatih mental dan kepercayaan diri,” katanya.
Selama Ramadan, enam santri berbagi jadwal siaran dalam dua sesi setiap hari. Mereka tayang pukul 11.00–12.00 WIB dan kembali live setelah salat tarawih pada 20.30–23.30 WIB.
Penjualan disebut masih fluktuatif. Namun, dalam satu hari, transaksi tertinggi pernah mencapai 30 produk terjual.
“Penjualan memang naik turun. Tapi pernah paling banyak sehari 30 produk. Bagi kami ini sangat bermanfaat untuk belajar wirausaha,” jelas Laili.
Bagi para santri, siaran langsung bukan semata mengejar angka penjualan. Aktivitas tersebut menjadi ruang praktik manajemen waktu, kerja tim, komunikasi publik, hingga cara menyikapi komentar negatif secara bijak.
Pimpinan Ponpes Roudlotul Quran, Khammad Ma’sum, menjelaskan ide memanfaatkan TikTok berawal dari keinginannya mendigitalisasi dakwah dan unit usaha pesantren yang berada di bawah naungan Masjid Agung Kauman Semarang.
“Awalnya saya ingin memanfaatkan media sosial untuk dakwah, promosi, sekaligus bersosialisasi dengan masyarakat. Tapi saat itu belum menemukan mitra yang sejalan,” ungkap Khammad.
Inspirasi datang ketika ia melihat anaknya berhasil menjalankan program affiliate melalui TikTok. Dari situ, ia memutuskan mengirim 10 santri mengikuti pelatihan digital affiliate di Bandung.
Sekembalinya dari pelatihan, para santri dibagi tugas. Sebagian fokus pada live streaming penjualan, sementara lainnya mengelola konten dakwah dan menayangkan kajian rutin agar dapat diakses masyarakat luas secara daring.
“Santri bisa berjualan sekaligus berdakwah dan mengenalkan program pesantren. Produk yang dipilih juga yang relatif mudah dipasarkan,” jelasnya.
Khammad menegaskan kegiatan wirausaha digital tidak mengganggu aktivitas utama santri, terutama selama Ramadan. Kajian dan setoran hafalan Al-Qur’an tetap berjalan seperti biasa.
“Saya tidak memperbolehkan santri memakai akun pribadi untuk berjualan. Ini bekal setelah lulus, bukan untuk sekarang mengaji sambil mencari uang. Hasil penjualan dikelola pesantren,” tegasnya.
Menurutnya, live TikTok merupakan sarana pembelajaran kewirausahaan sekaligus adaptasi teknologi. Santri tetap menjadikan ngaji sebagai prioritas, namun keterampilan digital dinilai penting sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Fenomena ini menjadi gambaran perubahan wajah pesantren di era digital. Selain mendalami kitab dan hafalan, santri kini juga mengenal algoritma, engagement, dan strategi konten. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa nilai keagamaan dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi.
Di ruang live streaming sederhana itu, para santri bukan hanya menjual produk. Mereka sedang membangun kapasitas diri sebagai generasi religius yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan fondasi utama: mengaji dan menghafal Al-Qur’an.(tya)







