FOLKSTIME.ID – Peran masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata heritage terus didorong oleh PT KAI Wisata. Keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa disebut telah menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata yang dikembangkan.
Dalam praktiknya, ruang kolaborasi telah dibuka luas. Berbagai produk kreatif lokal tidak hanya dipasarkan, tetapi juga diintegrasikan ke dalam paket wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Peluang UMKM Dibuka Lewat Produk Kreatif
Keterlibatan UMKM disebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, terutama dalam penyediaan produk suvenir yang khas dan bernilai budaya. Produk-produk tersebut kemudian dikurasi sebelum dipasarkan kepada wisatawan.
Direktur Utama KAI Wisata, Raden Agus Dwinanto Budiadji, menegaskan bahwa masyarakat memiliki peluang besar untuk ikut ambil bagian.
“Masyarakat tentu saja bisa berpartisipasi, seperti dalam penyediaan suvenir ataupun banyak kreatif-kreatif yang bisa kita input bersama,” ujarnya, Minggu (22/3/2026)
Disebutkan bahwa produk unggulan dari masyarakat dapat dimasukkan ke dalam paket wisata. Dengan demikian, nilai ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Kurasi Produk Jadi Kunci Kualitas
Agar kualitas tetap terjaga, proses kurasi telah diterapkan terhadap setiap produk yang diajukan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian dengan konsep wisata heritage yang diusung.
Akses untuk bergabung pun disebut cukup terbuka. Pelaku UMKM dapat menghubungi langsung pengelola destinasi untuk mengikuti proses seleksi.
“Aksesnya, terus saja menghubungi pengelola Lawang Sewu atau Ambarawa, nanti akan ada kurasi,” jelas Agus.
Dengan sistem ini, hanya produk yang dinilai layak dan relevan yang akan ditampilkan kepada wisatawan.
Lawang Sewu dan Ambarawa Jadi Etalase Produk Lokal
Sebagai destinasi unggulan, Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa telah dimanfaatkan sebagai etalase bagi produk UMKM. Berbagai suvenir bertema lokomotif hingga ikon bangunan heritage telah dikembangkan.
Produk-produk tersebut tidak hanya dijual sebagai cendera mata, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih luas.
Disebutkan bahwa beberapa UMKM telah lebih dulu terlibat dan produknya telah dipasarkan di kedua lokasi tersebut.
“Beberapa sudah kita lakukan di UMKM-UMKM kita, beberapa sudah ada di Lawang Sewu dan Ambarawa,” kata Agus.
Kolaborasi Terus Dikembangkan
Meski kerja sama telah berjalan, peluang kolaborasi disebut masih sangat terbuka. Produk-produk baru yang diminati masyarakat diharapkan dapat terus bermunculan dan memperkaya pilihan wisatawan.
KAI Wisata disebut sangat terbuka terhadap inovasi dari pelaku UMKM. Hal ini dinilai penting untuk menjaga daya tarik destinasi agar tetap relevan dengan perkembangan tren wisata.
“Produk-produk lain yang memang digemari oleh masyarakat, saya pikir kita bisa berkolaborasi bersama,” tambahnya.
Dampak Ekonomi Lokal Mulai Terasa
Dengan dilibatkannya UMKM, dampak ekonomi disebut mulai dirasakan oleh masyarakat sekitar. Pendapatan tambahan telah diperoleh dari penjualan produk maupun kerja sama paket wisata.
Selain itu, keterampilan dan kreativitas pelaku usaha lokal juga ikut berkembang. Hal ini dianggap sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata.(tya)







