FOLKSTIME.ID – Kawasan Tanjakan Silayur di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, yang selama ini dikenal sebagai titik rawan kecelakaan lalu lintas, mulai dipandang dengan pendekatan yang lebih luas melalui kegiatan budaya dan spiritual masyarakat. Upaya kolektif warga disebut telah diarahkan tidak hanya pada aspek teknis keselamatan jalan, tetapi juga pada penguatan nilai kebersamaan dan kesadaran sosial.
Kata kunci: Ruwatan Silayur, Tanjakan Silayur Semarang, kecelakaan Ngaliyan, keselamatan jalan, budaya Jawa, sedekah bumi
Tradisi Ruwatan Digelar sebagai Upaya Kolektif Warga
Kegiatan ruwatan yang meliputi sedekah bumi dan pagelaran wayang telah diselenggarakan oleh warga RW 4 Silayur Lawas Duwet. Tradisi tersebut dijadikan sarana untuk memperkuat ikatan sosial sekaligus sebagai bentuk doa bersama agar kawasan yang kerap dilalui kendaraan berat tersebut dapat diberikan keselamatan.
Melalui kegiatan tersebut, persoalan kecelakaan lalu lintas di jalur Silayur tidak hanya diposisikan sebagai masalah infrastruktur, melainkan juga sebagai ruang refleksi bersama yang melibatkan aspek budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Kesadaran Sosial dan Nilai Budaya Ditekankan
Langkah pelestarian tradisi tersebut telah diapresiasi oleh Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah. Ia menilai bahwa ruwatan yang dilakukan masyarakat tidak hanya dimaknai sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran sosial yang merefleksikan hubungan antara manusia, alam, dan nilai ketuhanan.
“Tradisi seperti ini tidak dapat dipandang hanya sebagai seremoni, tetapi juga sebagai pengingat agar kehidupan dapat ditata dengan lebih baik, niat diperbaiki, dan kepedulian sosial diperkuat,” ujar Sarif Abdillah dalam sebuah kesempatan di Semarang.
Momentum Introspeksi dari Jalur Rawan Kecelakaan
Kawasan Silayur yang dikenal memiliki tingkat kecelakaan cukup tinggi disebut telah dijadikan momentum introspeksi bersama. Tidak hanya pengguna jalan yang diminta meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga masyarakat secara luas agar turut membangun kesadaran keselamatan.
Nilai-nilai sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti kedisiplinan dan keteraturan, disebut telah dijadikan contoh dalam membentuk karakter masyarakat yang lebih berhati-hati, termasuk saat berkendara di jalur ekstrem tersebut.
Pagelaran Wayang Angkat Pesan Moral dan Kehidupan
Dalam rangkaian ruwatan, pagelaran wayang telah dipentaskan sebagai media penyampaian pesan moral kepada masyarakat. Setiap lakon yang ditampilkan diketahui mengandung nilai tentang tanggung jawab, kebaikan, serta konsekuensi dari setiap tindakan manusia.
Pesan-pesan tersebut dinilai telah disampaikan secara simbolis melalui budaya, sehingga dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
Dampak Ekonomi UMKM Ikut Terdorong
Selain aspek sosial dan budaya, kegiatan ruwatan juga telah memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Kehadiran masyarakat dan pengunjung pada acara tersebut telah membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal.
Perputaran ekonomi di sekitar lokasi kegiatan disebut mulai bergerak seiring meningkatnya aktivitas warga selama pelaksanaan acara budaya tersebut.
“Penguatan masyarakat tidak hanya dilihat dari sisi budaya, tetapi juga dari bagaimana ekonomi warga dapat ikut terdorong,” ujar Sarif Abdillah.
Ruwatan Silayur Jadi Simbol Harapan Baru
Melalui pelaksanaan ruwatan tersebut, kawasan Tanjakan Silayur secara perlahan telah diarahkan menjadi ruang baru yang tidak hanya identik dengan titik rawan kecelakaan, tetapi juga sebagai simbol kebangkitan kesadaran bersama.
Harapan akan terciptanya keselamatan lalu lintas yang lebih baik, serta tumbuhnya kepedulian sosial di tengah masyarakat, terus diperkuat melalui kolaborasi antara warga dan nilai-nilai budaya lokal.
Dengan demikian, tradisi ruwatan telah ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun harmoni antara keselamatan, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat di wilayah Semarang bagian barat.(mus)







