Tradisi Ketuk Pintu Buka Pasar Imlek Semawis 2026, Harmoni Budaya Warnai Pecinan Semarang

SEMARANG, Folkstime.id – Rangkaian perayaan Pasar Imlek Semawis (PIS) 2026 di Kota Semarang resmi dimulai melalui prosesi adat Tradisi Ketuk Pintu yang digelar di kawasan Pecinan. Ritual doa bersama tersebut menjadi penanda awal seluruh agenda budaya Imlek sekaligus wujud permohonan keselamatan dan kelancaran pelaksanaan Pasar Imlek Semawis hingga hari puncak.

Tradisi Ketuk Pintu dilaksanakan beberapa hari sebelum pembukaan resmi Pasar Imlek Semawis. Dalam prosesi ini, panitia mendatangi sembilan klenteng yang berada di kawasan Pecinan Semarang sebagai simbol permohonan izin atau “kulo nuwun”, agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Ketua KOPI Semawis, Harjanto Kusuma Halim, menyampaikan bahwa Tradisi Ketuk Pintu merupakan ritual sakral yang selalu mengawali Pasar Imlek Semawis setiap tahun. Ia menegaskan, prosesi ini memiliki makna spiritual yang kuat dan menjadi bagian penting dari nilai budaya perayaan Imlek di Semarang.

“Ketuk Pintu adalah permohonan doa restu kepada sembilan klenteng di kawasan Pecinan Semarang. Harapannya, Pasar Imlek Semawis dan seluruh perayaan Imlek dapat berlangsung dengan lancar, aman, dan membawa berkah bagi semua,” ujar Harjanto, Sabtu (7/2/2026).

Arak-arakan Ketuk Pintu dimulai dari Kelenteng Tay Kak Sie dan berakhir di kawasan Gang Baru. Prosesi berlangsung semarak dengan iringan atraksi barongsai serta keterlibatan berbagai komunitas seni dan budaya dari Semarang maupun daerah sekitar.

Para peserta tampil mengenakan busana adat Nusantara yang berpadu dengan unsur budaya Tionghoa. Perempuan terlihat anggun dalam balutan kebaya dengan beragam model, sementara peserta laki-laki mengenakan sarung dan pakaian adat daerah.

Sejumlah tokoh budaya turut hadir, mulai dari figur Cenggih, Sun Go Kong, Dewi Kwan Im, hingga tokoh pewayangan seperti Hanoman dan Gatotkaca. Menurut Harjanto, penggunaan busana tradisional menjadi salah satu daya tarik utama prosesi Ketuk Pintu.

Panitia bahkan mendorong peserta untuk menampilkan kekayaan budaya sebagai cerminan akulturasi yang telah mengakar di Kota Semarang.

“Peserta perempuan wajib berkebaya, boleh kebaya Encim atau kebaya kutu baru. Peserta laki-laki bisa bersarung. Nantinya juga ada tokoh-tokoh budaya dan wayang, jadi suasananya seperti festival kostum budaya,” katanya.

Tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa dan Jawa, prosesi Ketuk Pintu juga memberi ruang bagi ekspresi budaya lain. Sejumlah anak muda ikut meramaikan acara dengan cosplay budaya Jepang.

Selain itu, Pasar Imlek Semawis 2026 direncanakan menghadirkan kuliner khas Muslim Tiongkok dari Xinjiang, yang masih jarang ditemui di Semarang.

Harjanto menegaskan bahwa Pasar Imlek Semawis merupakan perayaan lintas budaya yang merepresentasikan kebersamaan dan toleransi warga Semarang.

“Ini tentang merayakan perbedaan. Di Semarang, toleransi sudah menjadi keseharian. Keberagaman harus menghadirkan kebahagiaan, bukan sekadar simbol,” ujarnya.

Dalam rangkaian prosesi Ketuk Pintu, panitia juga membagikan air suci yang diambil dari lima klenteng. Air tersebut menjadi simbol doa, keselamatan, serta harapan baik bagi masyarakat yang mengikuti prosesi maupun pengunjung Pasar Imlek Semawis.

Tahun Baru Imlek 2026 yang ditandai sebagai Tahun Kuda juga memiliki makna filosofis tersendiri. Harjanto menyebut, Tahun Kuda identik dengan dinamika dan tantangan, namun tetap membawa optimisme bagi mereka yang mau berusaha.

“Tahun Kuda itu penuh kejutan, geraknya cepat dan tidak terduga. Tapi filosofinya, kalau mau berusaha, sukses akan mengikuti. Kudanya datang, suksesnya ikut datang,” ucapnya.

Pasar Imlek Semawis 2026 akan berlangsung bersamaan dengan Pasar Dugderan, agenda budaya besar lainnya di Kota Semarang. Meski digelar dalam waktu yang berdekatan, panitia menilai kedua kegiatan tersebut justru saling menguatkan dan menambah daya tarik wisata kota.

“Budaya Tionghoa, Islam, dan Jawa bertemu. Masyarakat bisa menikmati Imlek dan Dugderan sekaligus. Bukan bersaing, tapi saling melengkapi,” kata Harjanto.

Ia menambahkan, antusiasme pelaku usaha, khususnya UMKM, cukup tinggi. Pasar Imlek Semawis diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi dan menjadi awal positif bagi geliat usaha masyarakat di awal tahun 2026.

Pasar Imlek Semawis merupakan agenda tahunan yang digelar oleh KOPI Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.

Kegiatan ini bertujuan melestarikan tradisi pasar rakyat 29-meh, mendorong produksi melalui pameran dan bazar UMKM, serta merevitalisasi kawasan cagar budaya Pecinan Semarang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menyatakan bahwa rangkaian perayaan Imlek tahun ini kembali menegaskan identitas Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman.

“Ketuk Pintu merupakan doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh perayaan Imlek berjalan lancar dan sukses. Perpaduan budaya ini menjadi kekuatan pariwisata Kota Semarang,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah kota memberikan perhatian serius terhadap aspek keamanan dan ketertiban selama penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis dan Pasar Dugderan yang digelar bersamaan.

“Arahan dari Wali Kota jelas, keamanan dan kenyamanan pengunjung harus dijaga. Parkir harus tertata, lalu lintas lancar, dan UMKM dapat berjualan dengan aman dan nyaman,” katanya. (WAN)

Artikel Menarik Lainnya