FOLKSTIME.ID – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), diskursus mengenai sosok yang dinilai mampu melanjutkan arah perjuangan organisasi semakin menghangat.
Di tengah berbagai dinamika yang berkembang, sejumlah kader ideologis Gus Dur menilai Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin sebagai figur yang layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang.
Pandangan tersebut mengemuka dalam pertemuan alumni Pondok Pesantren Tambak Beras yang digelar di Majalengka, Senin (1/6/2026).
Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus pertukaran gagasan mengenai masa depan NU dan tantangan yang dihadapi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.
Ketua Aliansi Santri Gus Dur, Muhammad Sholihin, menyebut pembicaraan mengenai kepemimpinan PBNU tidak semata berkaitan dengan figur, tetapi juga tentang keberlanjutan nilai-nilai yang selama ini diwariskan oleh Gus Dur.
Menurutnya, NU membutuhkan pemimpin yang memahami tradisi pesantren sekaligus mampu menjawab tuntutan zaman yang terus berubah.
Dalam pandangan para kader ideologis Gus Dur, Gus Muhaimin dinilai memiliki modal tersebut. Selain tumbuh dalam lingkungan keluarga besar NU, ia juga menempuh proses kaderisasi sejak usia muda melalui berbagai organisasi yang berafiliasi dengan NU.
Perjalanan panjang itu dianggap membentuk pemahaman yang kuat terhadap kultur, tradisi, dan mekanisme organisasi.
Tak hanya berbekal pengalaman di lingkungan NU, Gus Muhaimin juga dinilai memiliki kapasitas kepemimpinan yang teruji melalui kiprahnya di dunia politik dan pemerintahan.
Pengalaman tersebut dianggap penting mengingat tantangan yang dihadapi NU saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga isu kebangsaan, sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Bagi para pendukungnya, kepemimpinan NU ke depan memerlukan keseimbangan antara menjaga tradisi dan mendorong inovasi. Karena itu, figur yang memahami akar sejarah organisasi sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Konsolidasi kader ideologis Gus Dur sendiri disebut terus berlangsung di berbagai daerah. Setelah menggelar sejumlah forum kebangsaan dalam beberapa bulan terakhir, agenda serupa akan kembali dilaksanakan sebagai ruang diskusi mengenai masa depan NU serta penguatan nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi ciri khas perjuangan Gus Dur.
Dukungan yang mulai mengerucut kepada Gus Muhaimin menunjukkan bahwa sebagian kalangan kader NU melihat pentingnya kesinambungan antara warisan pemikiran pendiri dan tokoh-tokoh besar NU dengan kebutuhan organisasi menghadapi tantangan masa depan.
Mereka berharap PBNU ke depan dipimpin sosok yang mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat peran ulama, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.







