Ngumpulke Balung Pisah di Semarang, Gubernur Ahmad Luthfi Ajak Nahdliyin Perkuat Kebangsaan dan Majukan Jateng

FOLKSTIME.ID — Konsolidasi warga Nahdlatul Ulama (NU) melalui tradisi Ngumpulke Balung Pisah kembali ditekankan sebagai langkah strategis untuk menjaga kebangsaan sekaligus memperkuat pembangunan daerah di Jawa Tengah. Peran kiai, ulama, dan nahdliyin dinilai semakin krusial di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang terus berkembang.

Dalam agenda Halalbihalal warga NU se-Jawa Tengah yang digelar di Semarang, Minggu (19/4/2026) malam, penguatan kolaborasi lintas elemen disebut harus terus dilakukan. Stabilitas sosial, penguatan ideologi Pancasila, hingga dorongan pertumbuhan ekonomi dinilai tidak dapat dipisahkan dari kontribusi organisasi keagamaan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya disandarkan pada program kerja, melainkan harus ditopang karakter kepemimpinan yang kuat dan keberanian dalam menentukan arah kebijakan.

“Setiap daerah memiliki karakter berbeda dan tidak bisa disamakan. Kepemimpinan harus memiliki nyali dalam membawa arah pembangunan. Dalam konteks Jawa Tengah, peran kiai dan ulama sangat penting,” ujar Ahmad Luthfi.

Peran Nahdliyin dalam Menjaga Stabilitas

Keterlibatan warga NU dalam menjaga stabilitas sosial dan kebangsaan disebut telah terbukti. Pendekatan kepada tokoh agama dan nahdliyin pernah dilakukan saat menghadapi persoalan intoleransi, radikalisme, hingga terorisme.

Upaya tersebut dinilai efektif dalam meredam berbagai potensi konflik sosial. Pendekatan berbasis kultural dan keagamaan disebut mampu memperkuat harmoni di tengah masyarakat yang beragam.

“Pendekatan kepada kiai, tokoh NU, dan nahdliyin terbukti efektif dalam menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk dalam meredam intoleransi dan radikalisme,” ungkapnya.

Kini, sinergi serupa kembali diperkuat dalam konteks pembangunan daerah. Warga NU yang telah berkiprah di berbagai sektor strategis disebut memiliki peran besar dalam menggerakkan masyarakat, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun pendidikan.

Tradisi yang Menyatukan Berbagai Elemen

Tradisi Ngumpulke Balung Pisah disebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang konsolidasi lintas profesi. Berbagai tokoh dari latar belakang berbeda dipertemukan dalam satu forum untuk memperkuat semangat kebersamaan.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Ketua Baznas dan MUI Jawa Tengah Ahmad Darodji, serta Ketua PWNU Jawa Tengah Abdul Ghaffar Rozin.

“Kegiatan ini menjadi tradisi yang perlu terus dijaga. Berbagai tokoh dari latar belakang profesi yang berbeda dapat berkumpul dengan semangat yang sama,” kata Ahmad Luthfi.

Selain mempererat silaturahmi, forum tersebut dimanfaatkan untuk mendorong peran aktif masyarakat dalam menjaga nilai kebangsaan serta meningkatkan literasi, termasuk dalam penggunaan media sosial secara bijak.

Konsolidasi Jadi Kunci Hadapi Tantangan

Ketua PWNU Jawa Tengah, Abdul Ghaffar Rozin, menyampaikan bahwa jumlah nahdliyin di Jawa Tengah merupakan salah satu yang terbesar secara nasional. Basis massa yang besar tersebut dinilai menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam menjaga soliditas.

Komunikasi lintas sektor disebut harus terus diperkuat agar potensi besar tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Tantangan ke depan sangat banyak. Dengan jumlah yang besar, kebersamaan dan kerukunan harus semakin diperkuat agar memberikan manfaat luas,” ujarnya.

Konsolidasi warga NU dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat peran sosial keagamaan sekaligus mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan di Jawa Tengah.(mus)

Artikel Menarik Lainnya