Pasar Imlek Semawis 2026 Dibuka, Tradisi Ketuk Pintu Jadi Simbol Harmoni Warga Semarang

SEMARANG, Folkstime.id – Rangkaian perayaan Pasar Imlek Semawis 2026 resmi dimulai pada Sabtu (7/2) dengan prosesi Tradisi Ketuk Pintu yang digelar di Klenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Kota Semarang.

Ritual tersebut menjadi penanda awal perayaan Tahun Baru Imlek sekaligus simbol doa bersama untuk keselamatan dan kelancaran seluruh agenda kegiatan.Tradisi Ketuk Pintu tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga mencerminkan nilai harmoni lintas budaya yang telah lama tumbuh dan terjaga di tengah masyarakat Kota Semarang.

Perayaan ini kembali menegaskan karakter Semarang sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyampaikan bahwa Pasar Imlek Semawis telah berkembang menjadi ruang publik yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan sosial.

“Pasar Imlek Semawis bukan sekadar perayaan budaya, tetapi menjadi ruang perjumpaan warga. Di sini kita bisa melihat keberagaman di Kota Semarang tidak hanya hidup, tetapi juga dirawat dan dirayakan bersama secara alami,” ujar Agustina.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Semarang berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan budaya yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga Semarang sebagai kota yang inklusif dan harmonis.

“Toleransi dan kebersamaan tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh dari ruang-ruang perjumpaan seperti Pasar Imlek Semawis, yang mampu menggerakkan ekonomi sekaligus memperkuat kohesi sosial,” jelasnya.

Pada tahun 2026 ini, Pasar Imlek Semawis mengangkat tema “Kuda Datang, Sukses Menjelang”, selaras dengan perayaan Imlek yang memasuki shio Kuda Api.

Agenda utama Pasar Imlek Semawis dijadwalkan berlangsung pada 13–15 Februari 2026, memanfaatkan ruas Jalan Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur di kawasan Pecinan Semarang.

Ketua Komunitas Pecinan untuk Pariwisata (KOPI) Semawis, Harjanto Halim, menuturkan bahwa sejak pertama kali digelar, Pasar Imlek Semawis memang dirancang sebagai ruang budaya yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa sekat identitas.

“Keberagaman itu seperti bunga. Mau dipuji atau tidak, dia tetap mekar. Saya berharap Kota Semarang juga seperti itu, tanpa harus dipuji atau ditonton, keberagaman sudah menjadi bagian dari perilaku sehari-hari warganya,” kata Harjanto.

Ia menjelaskan, Pasar Imlek Semawis 2026 akan diramaikan dengan beragam atraksi seni dan budaya, mulai dari pertunjukan Wayang Potehi, barongsai, permainan Catur Gajah, hingga aktivitas seni seperti kaligrafi Mandarin dan pembuatan sketsa postcard.

Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan opera Sun Go Kong, tarot reading, serta kegiatan cosplay budaya yang mendorong partisipasi masyarakat mengenakan kebaya, busana adat Nusantara, maupun kostum lintas budaya.

Selain hiburan, panitia juga menghadirkan tradisi makan bersama Tuk Panjang yang melibatkan warga Pecinan, tokoh masyarakat, serta jajaran pemerintah. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin lama di Kota Semarang.

Melalui pelaksanaan Pasar Imlek Semawis 2026, masyarakat diharapkan tidak hanya datang untuk menikmati kuliner dan hiburan, tetapi juga ikut merasakan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan harmoni sosial yang telah menjadi identitas Kota Semarang. (WAN)

Artikel Menarik Lainnya