
Limbah kain tenun Troso di Jepara berhasil diolah menjadi produk fesyen dan kerajinan premium bernilai ekonomi tinggi.
FOLKSTIME.ID – Limbah kain tenun Troso yang selama ini kerap terbuang berhasil diubah menjadi produk fesyen dan kerajinan bernilai ekonomi tinggi oleh pelaku UMKM asal Desa Troso, Kabupaten Jepara. Melalui inovasi pemanfaatan kain perca tenun, produk yang dihasilkan kini tidak hanya memperkuat pelestarian budaya lokal, tetapi juga mulai menembus pasar internasional.
Langkah tersebut dikembangkan melalui brand Tenun Ikat’s yang didirikan Nailis Sa’adah. Berbagai produk seperti pouch, dompet, tote bag, clutch, vest, hampers hingga suvenir premium diproduksi dengan memanfaatkan potongan kain sisa produksi tenun Troso yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi.
Upaya pengolahan limbah kain tenun Troso tersebut juga diarahkan untuk mendukung konsep ekonomi sirkular, mengurangi sampah tekstil, sekaligus meningkatkan pendapatan para penenun dan pengrajin lokal di Kabupaten Jepara. Seluruh bahan baku tenun diperoleh langsung dari penenun Desa Troso, kemudian dipadukan dengan material lain seperti katun, kulit sintetis dan jeans agar tampil lebih modern dan sesuai kebutuhan pasar.
“Awalnya memang keluarga kami sudah menjual kain tenun. Tahun 2019 saya mulai memasarkannya secara online karena saya memang suka dunia fashion dan senang mix and match outfit berbahan tenun,” kata Nailis Sa’adah.
Ia mengatakan ide memanfaatkan kain perca muncul setelah melihat banyak sisa produksi yang hanya menumpuk dan belum dimanfaatkan.
“Pada tahun 2020 kami mulai merasa prihatin melihat begitu banyak kain perca yang tidak terpakai. Dari situlah kami mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai baru,” ujarnya.
Menurut Nailis, proses memperkenalkan produk berbahan kain perca tidak berjalan mudah karena masyarakat masih memandang tenun sebagai busana yang identik dengan acara formal.
“Di awal perjalanan, tantangan terbesar bukan hanya membuat produk, tetapi membuat orang percaya bahwa tenun bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak yang menganggap tenun hanya cocok dipakai untuk acara formal atau orang yang lebih tua. Kami ingin menunjukkan bahwa tenun bisa tampil modern, sederhana, dan dipakai siapa saja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan kain sisa produksi juga sempat dipandang sebelah mata.
“Saat kami mulai menggunakan kain perca, banyak yang menganggap remeh. Tetapi kami terus berproses. Alhamdulillah, seiring waktu produk kami mulai diterima masyarakat,” katanya.
Pemberdayaan Perempuan dan Pelestarian Tenun Troso
Pengembangan usaha tidak hanya difokuskan pada produksi barang, tetapi juga diperluas melalui program pemberdayaan perempuan di Desa Troso. Workshop keterampilan rutin diselenggarakan agar masyarakat memiliki kemampuan menjahit sekaligus memperoleh peluang usaha baru.
“Selain memiliki produk, kami juga mempunyai workshop pemberdayaan perempuan. Kami ingin keberadaan Tenun Ikat’s tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk bertumbuh bersama,” tutur Nailis.
Seiring perkembangan usaha, segmen pasar yang semula menyasar Generasi Z kini diperluas hingga kalangan milenial, instansi pemerintah maupun perusahaan.
“Salah satu target market kami memang Gen Z karena mereka cukup banyak membeli tote bag, pouch, dan produk pakaian. Tetapi seiring waktu, target utama kami berkembang menjadi kalangan milenial serta instansi maupun perusahaan,” jelasnya.
Bidik Pasar Internasional
Perjalanan usaha tersebut turut menghasilkan berbagai capaian. Tenun Ikat’s kini menjadi UMKM binaan Rumah BUMN PLN Jepara dan Telkom Indonesia. Pada 2025, brand tersebut juga masuk Top Finalis Inovasi Eco Product dalam ajang Bumi Berseru Fest yang diselenggarakan Telkom Sustainability.
Pengembangan pasar pun terus dilakukan dengan mengikuti berbagai program kurasi ekspor sebagai persiapan memasuki pasar global.
“Saat ini kami sedang belajar bertumbuh. Bulan ini kami mengikuti beberapa kelas kurasi ekspor dengan harapan produk kami bisa diterima di pasar internasional. Alhamdulillah kami juga mulai mengerjakan beberapa proyek dari buyer Amerika meski masih dalam skala kecil. Bagi kami, ini adalah langkah awal menuju mimpi-mimpi berikutnya,” ujarnya.
Nailis berharap penggunaan tenun tidak lagi terbatas pada kegiatan resmi, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami berharap semakin banyak anak muda bangga memakai tenun, bukan hanya saat acara tertentu tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin mengubah cara pandang bahwa tenun bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari gaya hidup masa kini,” katanya.
Ia menambahkan, pertumbuhan usaha diharapkan turut membawa manfaat bagi para pelaku UMKM dan pengrajin lokal.
“Kami juga ingin memberikan dampak yang lebih luas kepada para pengrajin lokal. Semakin berkembang Tenun Ikat’s, kami berharap semakin banyak penenun, penjahit, dan pelaku UMKM yang ikut bertumbuh bersama. Karena bagi kami, keberhasilan sebuah brand bukan hanya diukur dari jumlah produk yang terjual, tetapi juga dari seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat,” ucapnya.
Menurut Nailis, inovasi akan terus dikembangkan agar produk berbahan tenun Troso mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
“Kami ingin terus menghadirkan produk-produk yang lebih kreatif, memperluas pasar hingga tingkat nasional bahkan internasional, serta membuktikan bahwa produk lokal Indonesia mampu bersaing dengan kualitas dan cerita yang dimilikinya,” tandasnya.(tya)
