Kasus DBD di Kota Semarang turun 74 persen sepanjang 2026. Dinkes mengingatkan masyarakat tetap waspada selama musim kemarau melalui PSN dan program Wolbachia.

Kasus DBD di Kota Semarang turun 74 persen sepanjang 2026. Dinkes mengingatkan masyarakat tetap waspada selama musim kemarau melalui PSN dan program Wolbachia.

FOLKSTIME.ID – SEMARANG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Semarang disebut berhasil ditekan hingga 74 persen sepanjang 2026 berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, meski ancaman penyebaran penyakit diperkirakan meningkat selama musim kemarau akibat kenaikan suhu udara.

Kondisi tersebut dipastikan tetap berada dalam pengawasan Dinas Kesehatan Kota Semarang. Upaya pengendalian terus dilakukan melalui pemantauan wilayah rawan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta pelaksanaan program Wolbachia yang telah berjalan selama tiga tahun bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan.

Ancaman DBD pada musim kemarau menjadi perhatian karena perubahan karakteristik nyamuk Aedes aegypti dinilai dapat meningkatkan potensi penularan virus dengue meskipun populasi nyamuk cenderung lebih sedikit. Oleh sebab itu, kewaspadaan masyarakat diminta tetap ditingkatkan agar tren penurunan kasus DBD di Kota Semarang dapat dipertahankan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan musim kemarau memberikan dampak terhadap munculnya sejumlah penyakit musiman, terutama demam berdarah dengue.

“Memang diperkirakan suhunya meningkat. Secara pasti mungkin kita tidak tahu sampai bulan 11 atau bulan 12. Yang jelas dari sisi kesehatan, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap beberapa penyakit yang selama ini memang terkonfirmasi meningkat pada saat musim kemarau. Yang pertama adalah demam berdarah,” ujarnya.

Menurut Abdul Hakam, pola penyebaran DBD pada musim kemarau memiliki karakteristik berbeda dibandingkan musim hujan. Kondisi tersebut dipengaruhi perilaku nyamuk Aedes aegypti yang dinilai lebih agresif saat mengisap darah manusia.

Ia menjelaskan, pada musim kemarau jumlah nyamuk memang cenderung lebih sedikit. Namun, volume darah yang diisap ketika nyamuk menggigit justru lebih banyak sehingga peluang perpindahan virus dengue tetap harus diwaspadai.

“Kalau musim kemarau, nyamuk itu begitu menggigit, darah yang dihisap cukup banyak. Kalau musim hujan jumlah nyamuk memang lebih banyak, tetapi daya sedotnya tidak separah saat musim kemarau. Ketika menggigit, otomatis dia juga memasukkan virus ke dalam tubuh manusia,” jelasnya.

Program Wolbachia disebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan angka kasus DBD di Kota Semarang. Program tersebut telah dijalankan secara berkelanjutan selama tiga tahun dengan pendampingan dari Kementerian Kesehatan.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi sepanjang 2026, angka kasus DBD dilaporkan mengalami penurunan signifikan hingga 74 persen dibandingkan periode sebelumnya.

“Alhamdulillah, selama tiga tahun ini kita sudah menjalankan program Wolbachia dari Kementerian Kesehatan. Jadi hari ini kita tidak dihadapkan pada situasi demam berdarah yang meningkat. Bahkan hasil monitoring dan evaluasi tahun 2026 menunjukkan angkanya sudah turun sebanyak 74 persen. Itu akibat program Wolbachia,” tegas Abdul Hakam.

Selain penguatan program Wolbachia, pemetaan kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi juga terus dilakukan sebagai dasar penentuan langkah pengendalian di lapangan. Wilayah yang memiliki kepadatan nyamuk tinggi menjadi prioritas pengawasan agar potensi penularan dapat ditekan sejak dini.

Dinas Kesehatan Kota Semarang juga mengimbau masyarakat agar rutin melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk sebagai langkah pencegahan paling efektif selama musim kemarau. Kegiatan tersebut disarankan dilakukan sedikitnya satu kali setiap pekan dan dapat ditingkatkan apabila kepadatan nyamuk masih tinggi.

“Kami memetakan daerah-daerah yang sangat rentan. Masyarakat kami anjurkan melakukan pemberantasan sarang nyamuk minimal seminggu sekali. Kalau kepadatan nyamuknya tinggi, bisa dilakukan seminggu dua kali sampai jumlah nyamuknya turun,” tutupnya. (tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – ​Buat Sedulur Warga Kota Semarang yang sempat bertanya-tanya soal pembongkaran di area Simpang Lima, ini dia jawabannya! ​Pemerintah Kota Semarang sedang melakukan penataan menyeluruh di Zona A, B, C, dan D demi kenyamanan bersama. Fokus utamanya meliputi: Fasilitas Publik: Perbaikan trotoar agar lebih ramah pejalan kaki. ​ Lingkungan: Penataan drainase, pembersihan sedimen saluran, dan instalasi IPAL khusus PKL agar sanitasi terjaga. ​Penghijauan: Setelah pengerjaan selesai, area akan kembali ditanami pohon agar tetap adem. ​Bagi para PKL terdampak, saat ini telah disiapkan area relokasi sementara di depan E-Plaza yang sudah diperluas. ​Mari bersama-sama mengawal pembangunan kota kita tercinta agar semakin hebat! Intip rencana desain 3D-nya di video ya! #semarangsemakinhebat #semarangpemkot #agustinawilujengp #jateng #semarang

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *