Pariwisata Semarang Perlu Formula Baru Hadapi Era Disrupsi

Wisata jembatan kaca di Tinjomoyo, Kota Semarang (Dok.Pribadi)


Folkstime.id — Pelaku industri pariwisata di Kota Semarang didorong untuk tidak hanya mengedepankan kolaborasi, tetapi juga bersikap adaptif menghadapi perubahan zaman, terutama di tengah era disrupsi dan dinamika VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).


Hal itu disampaikan Koordinator Pegiat Pariwisata Kota Semarang, Gus Wahid, dalam kegiatan coffee morning yang digelar di Hutan Wisata Tinjomoyo, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, kolaborasi antar-pemangku kepentingan memang tetap penting, namun tidak lagi cukup jika tidak dibarengi kemampuan beradaptasi terhadap tren dan tantangan baru di sektor pariwisata.

“Kolaborasi itu penting, tetapi sekarang harus diimbangi dengan sikap adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan konsep pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Menurutnya, lonjakan kunjungan wisatawan tidak boleh mengorbankan kelestarian destinasi.

“Jangan sampai destinasi menjadi viral, tetapi kemudian rusak dan sulit dipulihkan,” katanya.

Wahid juga turut menyoroti tingginya angka kunjungan wisatawan ke kawasan Kota Lama Semarang sepanjang 2025, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar jumlah wisatawan di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Ia mengingatkan perlunya formulasi pengelolaan yang tepat, mengingat kawasan itu merupakan ruang publik sekaligus area dengan persoalan penurunan muka tanah.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Wolu Makmur, Widodo, berharap adanya dukungan lebih luas untuk menghidupkan sejumlah destinasi di Tinjomoyo, seperti jembatan kaca dan wahana tubbing.

Menurutnya, setelah sempat ramai saat peluncuran awal, kunjungan wisatawan kembali menurun.

“Kami membutuhkan kolaborasi lebih banyak pihak agar destinasi ini kembali ramai,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menambahkan bahwa kemajuan sektor pariwisata akan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat.

Ia mendorong para pelaku usaha jasa pariwisata untuk terus mencari terobosan dan konsep terbaik.
“Jika pariwisata maju, multiplier effect terhadap pendapatan warga sangat besar,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, telah mencanangkan fokus pembangunan kota pada sektor pariwisata pada 2027.

Karena itu, masih ada waktu untuk berbenah dan menyiapkan konsep pengembangan yang matang guna mencapai target kunjungan wisatawan tahun ini.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga berkesempatan menjajal Jembatan Kaca Tinjomoyo yang memiliki tinggi 40 meter dan panjang 80 meter.

Jembatan dengan konstruksi beton dan kaca berlapis tersebut diklaim aman digunakan sebagai salah satu daya tarik wisata alam di Semarang.(Rin)

Artikel Menarik Lainnya