FOLKSTIME.ID — Dr M Kholidul Adib memulai kisahnya tentang sosok KH Yusuf Chudlori saat berbincang santai bersama kolega dan mahasiswanya di sebuah warung kopi. Dari obrolan yang mengalir ringan, muncul satu tema besar yang kini ramai diperbincangkan: keputusan Gus Yusuf mundur dari jabatan Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
“Obrolan kami santai, tapi temanya berat. Soal satu nama yang belakangan ramai diperbincangkan, yaitu Gus Yusuf,” kata Adib saat ditemui di ruang kerjanya di Kampus UIN Walisongo Semarang, Sabtu (14/2/2026).
Adib mengaku sama sekali tidak terkejut atas langkah tersebut. Menurutnya, keputusan itu justru merupakan pilihan paling masuk akal.
“Aku tidak kaget kalau Gus Yusuf mundur dari Ketua DPW PKB Jateng. Justru, itu langkah paling masuk akal,” ujar Adib mantap.
Ia menilai, Nahdlatul Ulama saat ini membutuhkan figur yang benar-benar fokus pada khidmah, bukan terbagi antara dunia politik dan pengabdian keumatan.
“NU sedang butuh figur yang benar-benar fokus. Bukan setengah-setengah antara politik dan khidmah. Gus Yusuf memilih jalan sunyi itu,” tambahnya.
Menjelang Muktamar PBNU ke-35 pada 2026, banyak nama mulai mencuat. Namun dalam pengamatan Adib, satu sosok yang konsisten disebut adalah Gus Yusuf.
Gus Yusuf dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Ia merupakan putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan KH Chudlori dan Nyai Hj Nihayah, pendiri API Tegalrejo.
“Gus Yusuf bukan hanya ulama, tapi juga manajer organisasi. NU di abad kedua ini tidak cukup dipimpin oleh simbol, tapi oleh pengelola,” tegas Adib.
Ia menilai NU ibarat kapal besar di tengah samudra luas, dengan tantangan yang mencakup pendidikan, ekonomi, dakwah, hingga kebangsaan.
“Nah, Gus Yusuf itu tipe yang tidak hanya pandai membaca kitab, tapi juga membaca zaman,” ujarnya.
Adib juga mengapresiasi kiprah Gus Yusuf dalam membangun kemandirian santri. Di Tegalrejo, para santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga disiapkan menghadapi dunia nyata. Gus Yusuf bahkan mendirikan Pesantren Entrepreneur di Tempuran agar santri memiliki kemandirian ekonomi.
“Santri harus punya maisyah. Kalau hidupnya tidak layak, dakwah pun pincang,” kata Adib mengutip pandangan Gus Yusuf.
Selain itu, Gus Yusuf juga dinilai berhasil membangun rumah sakit dan perguruan tinggi di Magelang yang berfungsi melayani masyarakat sekaligus mencetak kader muda NU.
“Ini bukan proyek pencitraan, tapi ikhtiar sistemik. Santri, kesehatan, pendidikan semuanya disentuh,” jelasnya.
Menurut Adib, mundurnya Gus Yusuf dari PKB bukan bentuk lari dari tanggung jawab, melainkan konsolidasi untuk menegaskan kemandirian.
“Mundur dari PKB itu bukan lari. Itu konsolidasi. Gus Yusuf sedang menegaskan kemandirian politiknya. NU harus tetap menjadi rumah besar umat, bukan perpanjangan tangan kekuasaan,” tegasnya.
Ia juga menilai Gus Yusuf memiliki kelengkapan dari sisi keilmuan, jaringan, hingga pengalaman organisasi.
“Beliau punya darah pesantren. Gus Dur pernah nyantri di API Tegalrejo. Secara sanad, keilmuan, dan jejaring beliau lengkap,” ujarnya.
Bahkan, kata Adib, dukungan moral juga datang dari berbagai tokoh nasional, termasuk KH Ma’ruf Amin.
Saat ditanya mengenai peluang Gus Yusuf menjadi Ketua Umum PBNU, Adib menjawab singkat namun tegas.
“Besar. Sangat besar. Tapi bukan soal menang atau kalah. Ini soal kesiapan. Dan Gus Yusuf sudah berjalan jauh sebelum orang-orang menyadarinya,” katanya.
Menutup pernyataannya, Adib menegaskan bahwa NU di abad kedua membutuhkan sosok yang tidak hanya alim, tetapi juga berani memilih jalan yang tidak biasa.
“Kalau NU ingin benar-benar melangkah mantap di abad kedua, ia butuh sosok yang tidak hanya alim, tapi juga berani memilih jalan tak biasa. Dan Gus Yusuf sudah memulainya dengan mundur, untuk melangkah lebih jauh,” pungkasnya.






