Anak-anak Semarang Tinggalkan Gawai Sejenak, Permainan Tradisional di Desa Wisata Kandri Kembali Jadi Favori

FOLKSTIME.ID – Ketika sebagian besar anak menghabiskan waktu dengan telepon pintar dan gim daring, puluhan siswa SD di Kota Semarang justru menikmati keseruan bermain gobak sodor, engklek, egrang hingga bakiak di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Omah Alas tersebut menjadi bukti bahwa permainan tradisional masih mampu menarik minat generasi muda meski berada di tengah derasnya arus digitalisasi.

Melalui program outing class SD Kanisius Tlogosari Kulon, para siswa diajak mengenal langsung permainan warisan budaya Nusantara yang selama ini mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Permainan Tradisional Jadi Alternatif Positif di Era Digital

Di bawah rindangnya pepohonan Omah Alas, suasana penuh tawa dan semangat terlihat saat siswa kelas 5 mencoba berbagai permainan tradisional secara berkelompok. Aktivitas tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga melatih kerja sama, konsentrasi, sportivitas, dan kemampuan motorik anak.

Salah satu peserta, Jessica Eslin Prasodjo, mengaku lebih menikmati permainan tradisional dibandingkan bermain gawai karena dapat berinteraksi langsung dengan teman-temannya.

“Lebih seru permainan tradisional karena bisa bareng teman-teman, kerja sama dan membangun rasa persaudaraan,” ujarnya.

Menurut Jessica, permainan seperti gobak sodor dan engklek juga membantu meningkatkan konsentrasi sekaligus memberikan tantangan fisik yang menyenangkan.

Outing Class Kenalkan Kehidupan Pedesaan dan Budaya Lokal

Guru kelas 5 SD Kanisius Tlogosari Kulon, Ignatius Sugeng, menjelaskan bahwa outing class merupakan agenda tahunan yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung di luar ruang kelas.

Menurutnya, suasana pedesaan dipilih agar siswa yang mayoritas tumbuh di lingkungan perkotaan dapat mengenal kehidupan masyarakat desa, aktivitas pertanian, serta kekayaan budaya lokal yang masih terjaga.

“Anak-anak tidak hanya mendengar tentang permainan tradisional, tetapi juga mengalami dan mempraktikkannya secara langsung,” kata Sugeng.

Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap budaya daerah sekaligus menghargai nilai-nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.

Egrang Jadi Permainan Favorit Siswa

Dari berbagai permainan yang diperkenalkan, egrang menjadi salah satu aktivitas yang paling diminati peserta.

Meski berkali-kali terjatuh saat belajar menjaga keseimbangan, para siswa tetap antusias mencoba hingga berhasil melangkah menggunakan egrang.

Menurut Sugeng, pengalaman seperti ini sulit diperoleh di lingkungan sekolah karena membutuhkan peralatan khusus dan area yang cukup luas.

“Anak-anak sangat antusias mencoba egrang. Walaupun sering jatuh, mereka tetap semangat belajar sampai bisa. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.

Desa Wisata Kandri Perkenalkan Permainan Nusantara

Pengelola Omah Alas dan Desa Wisata Kandri, Wahid, mengatakan pihaknya sengaja menghadirkan berbagai permainan tradisional dari sejumlah daerah di Indonesia.

Selain gobak sodor, engklek, dan bakiak, siswa juga dikenalkan dengan rangko alu yang berasal dari Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari edukasi budaya Nusantara.

“Tujuannya agar anak-anak belajar sejarah, mengenal budaya, dan ikut melestarikan budaya bangsa,” jelasnya.

Menurut Wahid, permainan tradisional memiliki filosofi yang tetap relevan di era digital karena mampu menumbuhkan karakter, meningkatkan kemampuan motorik, serta membangun akhlak dan kerja sama antaranak.

Tidak Hanya Bermain, Siswa Belajar Kearifan Lokal

Selain permainan tradisional, peserta outing class juga mengikuti berbagai aktivitas budaya seperti membuat wayang suket, menabuh lesung, belajar seni tari tradisional, hingga mengenal program Kandri Etnic yang memanfaatkan limbah organik menjadi karya seni bernilai edukatif.

Para siswa juga diperkenalkan pada nilai-nilai unggah-ungguh dan tata krama yang menjadi bagian penting dari budaya Jawa.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Desa Wisata Kandri tidak hanya menjadi destinasi wisata edukasi, tetapi juga ruang belajar budaya yang mempertemukan generasi muda dengan akar tradisi bangsa.

Di tengah meningkatnya ketergantungan anak terhadap gawai, kegiatan seperti ini menjadi langkah nyata untuk menjaga eksistensi permainan tradisional sekaligus memperkuat pendidikan karakter. Tawa riang anak-anak yang berlarian memainkan gobak sodor, engklek, egrang, dan bakiak di Desa Wisata Kandri membuktikan bahwa warisan budaya Indonesia masih memiliki tempat di hati generasi muda.

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Deru mesin kendaraan roda tiga memecah suasana Kota Semarang pada Rabu petang (10/6/2026). Satu per satu, sebanyak 20 unit Bajaj RE berwarna cerah berbaris rapi meninggalkan halaman Bajaj Showroom & Maxride Semarang di Jalan Brigjen Sudiarto, Pedurungan Kidul. Bukan sekadar iring-iringan kendaraan. Konvoi tersebut menjadi simbol optimisme baru yang tengah tumbuh di Kota Atlas. Di balik kemudi para pengemudi, tersimpan cerita perjuangan mencari nafkah. Di kursi penumpang, hadir harapan akan peluang usaha yang menjanjikan di tengah perkembangan kota yang terus bergerak maju. Perjalanan dimulai menjelang senja. Rombongan bergerak melewati Jalan Wolter Monginsidi menuju Stadion Citarum. Suara khas mesin Bajaj mengundang perhatian warga yang berdiri di tepi jalan. Beberapa pengendara melambatkan laju kendaraan mereka, sementara anak-anak melambaikan tangan ketika iring-iringan kendaraan roda tiga itu melintas. Ketika memasuki kawasan Kota Lama Semarang, suasana semakin terasa istimewa. Bangunan-bangunan bersejarah menjadi latar perjalanan armada yang membawa semangat transportasi modern. Cahaya matahari yang mulai redup memantul di bodi kendaraan, menciptakan pemandangan yang menarik perhatian wisatawan maupun masyarakat yang tengah menikmati sore. Slamet Mulyono, salah satu pengemudi Bajaj Semarang, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, konvoi tersebut bukan hanya acara perusahaan, melainkan bukti perjalanan hidup yang berubah sejak menjadi mitra pengemudi. “Saya senang sekali bisa ikut konvoi ini. Dulu penghasilan saya tidak menentu, sekarang lebih stabil. Kebutuhan keluarga lebih tercukupi. Saat melihat banyak Bajaj beriringan di jalan, saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar,” ujarnya sambil tersenyum. Menurut Slamet, tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan Bajaj di Semarang membuat para pengemudi kerap kewalahan menerima pesanan, terutama pada jam-jam sibuk. Karena itu, rencana ekspansi ke sejumlah wilayah baru menjadi kabar yang disambut antusias para mitra pengemudi. Perjalanan kemudian berlanjut melewati Gedung Keuangan Negara, Jalan Pemuda, Balai Kota Semarang, hingga kawasan Lawangsewu dan Tugu Muda. Di sejumlah titik, warga terlihat mengabadikan momen menggunakan telepon genggam mereka. Di salah satu kendaraan, Ali Maghfur, juragan Bajaj pertama di Semarang, turut mengikuti perjalanan tersebut. Ia mengaku merasakan kebanggaan tersendiri melihat perkembangan armada Bajaj yang kini semakin dikenal masyarakat. “Banyak orang awalnya hanya melihat Bajaj sebagai kendaraan. Tapi bagi kami, ini juga peluang usaha yang nyata. Ketika melihat konvoi ini melintasi pusat kota, saya merasa optimistis bahwa potensi Bajaj di Semarang masih sangat besar,” katanya. Kesan serupa juga dirasakan sejumlah calon investor yang ikut menjadi penumpang selama konvoi berlangsung. Mereka berkesempatan melihat langsung bagaimana armada Bajaj diterima masyarakat di berbagai sudut kota. Seorang peserta mengaku terkejut melihat banyaknya warga yang memperhatikan rombongan kendaraan tersebut. “Saya baru pertama kali naik Bajaj modern seperti ini. Ternyata nyaman dan respons masyarakat juga sangat positif. Saya jadi lebih memahami kenapa bisnis ini dianggap memiliki prospek yang menarik,” ujarnya. Bagi Muhammad Rio, Regional Manager Jawa Tengah dan DIY Bajaj Indonesia, konvoi tersebut menjadi cara untuk menunjukkan bahwa Bajaj bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga bagian dari upaya menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Saat malam mulai turun, rombongan akhirnya tiba di Openair Pantai Marina Semarang. Lampu-lampu kendaraan menyala di tepi pantai, menandai berakhirnya perjalanan yang menempuh sejumlah ikon kota. Selengkapnya… https://folkstime.id/menjemput-harapan-di-tiga-roda-konvoi-bajaj-warnai-senja-semarang-dan-bawa-mimpi-baru-warganya/ #bajaj #maxride #semarang #jateng

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya