SPMB Kota Semarang 2026: Sejumlah SD Negeri di Pusat Kota Sepi Peminat, Disdik Ungkap Penyebabnya

FOLKSTIME.ID – Sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di kawasan tengah Kota Semarang terancam tidak memenuhi kuota peserta didik pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 setelah jumlah pendaftar yang masuk hingga Kamis (11/6) masih berada di bawah kapasitas yang tersedia.

Berdasarkan data SPMB Kota Semarang yang dipantau hingga pukul 15.10 WIB, sejumlah SD negeri di wilayah pusat kota tercatat masih kekurangan peminat. Di sisi lain, beberapa sekolah favorit justru dibanjiri pendaftar hingga melampaui daya tampung yang ditetapkan.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terjadinya ketimpangan minat masyarakat dalam memilih sekolah pada pelaksanaan SPMB Kota Semarang 2026, khususnya antara sekolah yang berada di kawasan tengah kota dengan sekolah yang berada di wilayah permukiman padat penduduk.

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, mengatakan pihaknya belum dapat mengambil kebijakan terhadap sekolah yang masih kekurangan murid karena proses penerimaan peserta didik baru masih berlangsung.

“Sekarang kami belum bisa mengambil keputusan apa pun karena orang tua murid masih diperbolehkan memindahkan anaknya ke sekolah lain apabila memang tidak diterima,” kata Aji, Kamis (11/6).

Data menunjukkan SDN Karangtempel baru menerima 20 pendaftar dari kuota 28 murid. Jumlah tersebut terdiri atas 11 pendaftar melalui jalur domisili dan sembilan pendaftar melalui jalur afirmasi.

Sementara itu, SDN Bugangan 02 tercatat menerima 17 pendaftar dari kuota 28 murid, yang terdiri atas 13 murid jalur domisili dan empat murid jalur afirmasi.

Kondisi yang lebih rendah terjadi di SDN Wonodri. Sekolah tersebut baru memperoleh sembilan pendaftar dari kuota 26 murid. Sebanyak tujuh murid mendaftar melalui jalur domisili dan dua murid melalui jalur afirmasi.

Perubahan Demografi Dinilai Jadi Penyebab

Menurut Aji, fenomena minimnya pendaftar di sejumlah SD negeri tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut banyak ditemukan di kawasan tengah Kota Semarang yang saat ini mengalami perubahan struktur penduduk.

“Biasanya di daerah tengah kota harga tanah mahal. Keluarga muda cenderung mencari rumah di daerah pinggiran. Yang tinggal di tengah kota kebanyakan keluarga yang sudah lanjut usia atau tidak memiliki anak usia sekolah,” ujarnya.

Perubahan demografi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap jumlah calon peserta didik usia sekolah dasar yang tinggal di wilayah pusat kota.

Akibatnya, sejumlah sekolah negeri yang berada di kawasan tersebut harus bersaing mendapatkan peserta didik baru, sementara jumlah anak usia sekolah terus mengalami penurunan.

Sekolah Favorit Justru Kelebihan Pendaftar

Berbanding terbalik dengan sekolah yang kekurangan murid, sejumlah SD negeri favorit di Kota Semarang justru mengalami lonjakan pendaftar.

SDN Sendangmulyo 01 misalnya, tercatat menerima 235 pendaftar dari kuota yang hanya tersedia untuk 112 murid. Dari jumlah tersebut, sebanyak 213 pendaftar berasal dari jalur domisili, 20 pendaftar jalur afirmasi, dan dua pendaftar jalur mutasi.

Jumlah pendaftar yang lebih tinggi tercatat di SDN Bangetayu Wetan 02. Sekolah itu menerima 257 pendaftar dari kuota 84 murid. Rinciannya terdiri atas 201 pendaftar jalur domisili, 55 pendaftar jalur afirmasi, dan satu pendaftar jalur mutasi.

Tingginya jumlah pendaftar pada sekolah-sekolah tertentu menunjukkan masih kuatnya persepsi masyarakat terhadap sekolah favorit dalam pelaksanaan SPMB Kota Semarang tahun ini.

Belum Ada Rencana Penutupan Sekolah

Dinas Pendidikan Kota Semarang memastikan belum ada rencana untuk menutup sekolah negeri yang jumlah peserta didik barunya minim.

“Kalau ada usulan sekolah yang muridnya sedikit kemudian ditutup, kami masih berat. Terutama di daerah yang sekolah negerinya tidak banyak atau bahkan hanya satu. Kasihan masyarakat yang kemampuan ekonominya terbatas karena harus menyekolahkan anak lebih jauh,” kata Aji.

Keberadaan sekolah-sekolah tersebut dinilai masih dibutuhkan masyarakat, terutama di wilayah yang akses terhadap sekolah negeri masih terbatas.

Selain itu, Disdik Kota Semarang juga masih menunggu arahan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait kemungkinan dibukanya penerimaan peserta didik di luar jadwal SPMB bagi sekolah yang belum memenuhi kuota.

“Kalau nanti diperbolehkan menerima murid di luar waktu SPMB khusus untuk sekolah yang kurang muridnya, tentu akan kami tempuh. Sayang kalau kuota yang tersedia tidak terisi dan dibiarkan kosong,” ujarnya.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus HIV baru ditemukan selama periode Januari hingga Mei 2026. Temuan tersebut merupakan hasil dari peningkatan kegiatan skrining, perluasan akses layanan tes HIV, serta penguatan penemuan kasus secara aktif (_active case finding_) di fasilitas pelayanan kesehatan dan kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko. Tingginya temuan kasus HIV di Kota Semarang menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berhasil dijangkau layanan pemeriksaan dan deteksi dini, bukan semata-mata mencerminkan peningkatan penularan HIV di masyarakat. Upaya deteksi dini yang semakin luas memungkinkan kasus HIV ditemukan lebih cepat sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan risiko penularan dapat ditekan. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kota Semarang, kelompok risiko dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) sebesar 44%, diikuti pasien Tuberkulosis (TBC) 12%, pasangan risiko tinggi 11%, populasi umum 11%, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9%, pelanggan pekerja seks 5%, dan wanita pekerja seks 2%. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Hakam, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara peningkatan temuan kasus dengan peningkatan penularan kasus. “Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu berarti penularan HIV meningkat. Justru hal ini menunjukkan bahwa layanan skrining semakin menjangkau kelompok yang sebelumnya belum terdeteksi. Semakin banyak masyarakat yang melakukan tes HIV, maka semakin besar peluang kasus ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera dimulai dan risiko penularan dapat dicegah,” jelas Hakam. Ia menambahkan bahwa deteksi dini merupakan salah satu kunci utama pengendalian HIV. Dengan mengetahui status HIV sedini mungkin, seseorang dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) sehingga tidak berkembang menjadi AIDS, tetap produktif menjalani kehidupan sehari-hari, serta memiliki kualitas hidup yang baik. “Saat ini HIV sudah dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan HIV. Semakin cepat diketahui, semakin baik hasil pengobatannya dan semakin kecil risiko penularannya kepada orang lain,” tambahnya. Sebagai bentuk komitmen menin akses layanan, Dinas Kesehatan Kota Semarang memiliki program LIDYA DIMARI (Layanan Tes HIV dan Layanan ARV di malam hari). Layanan ini ditujukan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengakses layanan kesehatan pada jam kerja. Dinas Kesehatan Kota Semarang juga mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada Orang Dengan HIV (ODHIV). HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi peralatan makan, bekerja bersama, maupun aktivitas sosial lainnya. ODHIV dapat tetap hidup sehat, produktif, dan beraktivitas normal selama menjalani pengobatan ARV secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan. Berbagai upaya pencegahan dan pengendalian HIV terus dilakukan melalui peningkatan edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat, perluasan layanan konseling dan tes HIV, penyediaan pengobatan ARV bagi seluruh ODHIV, pencegahan penularan dari ibu ke anak, pendampingan kepatuhan pengobatan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor bersama fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dan komunitas peduli HIV/AIDS. Masyarakat yang merasa memiliki faktor risiko atau ingin mengetahui status kesehatannya diimbau untuk memanfaatkan layanan tes HIV yang tersedia di fasilitas kesehatan terdekat. Seluruh layanan tes HIV dan pengobatan ARV di Kota Semarang dilaksanakan dengan prinsip kerahasiaan, keamanan, serta tanpa diskriminasi. #semarang #agustina #jateng #hiv #aids

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Artikel Menarik Lainnya