FOLKSTIME.ID – Pelabuhan Tanjung Emas Semarang selama ini dikenal sebagai tempat ribuan orang menggantungkan hidup.
Di sana, suara klakson truk bercampur dengan teriakan buruh bongkar muat dan debu jalanan yang nyaris tak pernah hilang.
Dari lingkungan keras itulah nama Heri Setiyono alias Heri Black lahir dan tumbuh.Ia bukan anak konglomerat. Bukan pula pewaris kerajaan bisnis.
Heri datang dari lapisan paling bawah kehidupan. Pernah menjadi sopir angkot, sopir taksi, hingga sopir truk. Hidupnya dihabiskan berpindah dari satu jalan ke jalan lain demi mengejar rupiah.
Kadang pulang larut malam, kadang tidur di kendaraan, kadang harus menahan malu karena penghasilan yang tak menentu.
Di tengah kerasnya hidup, Heri memilih bertahan.Tahun 1999, ia mulai bekerja sebagai tukang tambal ban kendaraan berat di kawasan pelabuhan. Tangannya terbiasa memegang dongkrak, karet ban, dan peralatan bengkel sederhana. Pelabuhan menjadi sekolah kehidupannya.
Dari sana Heri mulai mengenal dunia logistik, dunia yang akhirnya membawanya naik kelas secara ekonomi.
Ia belajar membaca ritme bisnis pelabuhan. Mengenal jalur distribusi, memahami arus barang impor, hingga perlahan masuk ke lingkaran jasa kepabeanan. Dalam dunia pelabuhan, kemampuan membaca peluang sering kali lebih penting daripada gelar pendidikan.
Dan Heri berhasil memanfaatkan peluang itu.
Namanya kemudian dikenal sebagai pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) di Pelabuhan Tanjung Emas. Ia menduduki posisi penting di PT Putra Srikaton Logistics (PSL), perusahaan yang bergerak di bidang logistik dan kepabeanan.
Kesuksesan Heri menjadi cerita yang sering dipandang inspiratif. Dari tukang tambal ban menjadi pengusaha besar. Dari sopir jalanan menjadi tokoh logistik yang diperhitungkan.Namun kisah itu kini berubah drastis.
Rumah Heri Black digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penyidikan dugaan suap dan manipulasi impor yang menyeret Blueray Cargo. Penyidik membawa sejumlah dokumen serta barang bukti elektronik yang diduga berkaitan dengan pengurusan barang impor bermasalah.
Kasus ini membuka sisi lain dari kerasnya dunia pelabuhan.
KPK menduga ada praktik manipulasi jalur merah Bea Cukai, jalur pemeriksaan ketat terhadap barang impor agar barang tertentu dapat lolos dengan mulus. Dugaan itu mengarah pada praktik uang pelicin yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah.
Dalam barang bukti elektronik yang disita, penyidik juga menemukan indikasi adanya upaya “pengondisian perkara” agar kasus tidak menyeret pihak tertentu.
Nama Heri Black pun mendadak berubah dari simbol perjuangan hidup menjadi bagian dari pusaran dugaan mafia impor.
Ironinya, dunia yang dulu mengangkat kehidupannya justru kini menjadi tempat namanya dipertanyakan.
Pelabuhan memang selalu menyimpan dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi ruang bagi orang kecil untuk mengubah nasib. Namun di sisi lain, pelabuhan juga kerap disebut sebagai titik rawan permainan uang, akses, dan kekuasaan yang sulit disentuh.
Kisah Heri Black seakan menjadi cermin tentang tipisnya batas antara perjuangan dan godaan kekuasaan.
Dari peluh seorang sopir hingga menjadi pengusaha besar, perjalanan hidupnya pernah dipandang sebagai lambang keberhasilan kelas bawah.
Tetapi kini, di tengah penyidikan KPK dan dugaan mafia impor yang menyeret namanya, publik justru menyaksikan bagaimana ambisi besar bisa berubah menjadi awal kejatuhan.







