Populasi Ikan Sapu-Sapu di Semarang Naik, Dinas Perikanan Tingkatkan Pengawasan

FOLKSTIME.ID — Fenomena kemunculan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan umum menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pemantauan terhadap populasi ikan sapu-sapu di Semarang telah dilakukan untuk memastikan dampaknya terhadap ekosistem perairan lokal tetap terkendali.

Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, keberadaan ikan tersebut telah teridentifikasi di beberapa titik. Meski demikian, kondisi populasinya masih dinilai belum mencapai kategori wabah seperti yang sempat terjadi di wilayah lain di Indonesia.

Pemantauan Dilakukan di Sejumlah Titik Perairan

Langkah pengawasan disebut telah dilakukan oleh Dinas Perikanan Kota Semarang bersama tim teknis dan penyuluh perikanan. Sejumlah lokasi yang memiliki karakteristik perairan terbuka dan tenang dijadikan fokus pemantauan, seperti Banjir Kanal Timur, Banjir Kanal Barat, hingga kawasan Polder Tawang.

Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, menyampaikan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu memang sudah ditemukan di lapangan. Namun, tingkat populasinya masih relatif terkendali.

“Dari hasil pengamatan serta wawancara dengan pemancing, ikan sapu-sapu sudah ada. Tetapi jumlahnya belum mengarah pada kondisi wabah,” ungkapnya.

Frekuensi kemunculan ikan tersebut disebut lebih sering terlihat di perairan yang tenang. Kondisi itu, menurutnya, masih berada dalam tahap kewaspadaan awal dan belum menunjukkan lonjakan populasi signifikan.

Potensi Gangguan Ekosistem Mulai Diantisipasi

Meski belum tergolong masif, kehadiran ikan sapu-sapu tetap dinilai perlu diantisipasi. Hal ini berkaitan dengan potensi gangguan terhadap keseimbangan ekosistem perairan, khususnya pada proses regenerasi ikan lokal.

Dijelaskan bahwa ikan sapu-sapu tidak bersifat predator, tetapi memiliki kebiasaan memakan telur ikan lain.

“Telur ikan seperti nila dan gabus dapat dimakan, sehingga berpotensi mengganggu populasi ikan lokal di perairan umum,” jelas Soenarto.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengonsumsi ikan tersebut. Habitat ikan sapu-sapu yang cenderung berada di dasar perairan dengan kualitas rendah menjadi pertimbangan utama.

“Ikan ini hidup di dasar dan memakan lumut, sehingga dikhawatirkan mengandung zat yang tidak layak dikonsumsi,” tambahnya.

Penanganan Akan Libatkan Berbagai Pihak

Upaya pengendalian ke depan disebut akan dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. Keterlibatan masyarakat dan komunitas juga akan dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi penanganan.

Metode teknis seperti penangkapan menggunakan jaring disebut menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji. Namun, penerapannya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah perairan.

“Penanganannya tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu kerja sama berbagai pihak agar lebih efektif,” kata Soenarto.

Wilayah Semarang Utara diprioritaskan dalam pengawasan karena memiliki karakteristik perairan tenang yang berpotensi menjadi habitat berkembangnya ikan sapu-sapu.

Warga Mulai Rasakan Dampaknya

Sementara itu, keberadaan ikan sapu-sapu juga mulai dirasakan oleh warga di sekitar aliran sungai. Doni, warga Kebonharjo, mengaku kerap melihat ikan tersebut muncul ke permukaan, terutama di kawasan Jalan Tawang.

“Sering terlihat, bahkan ukurannya cukup besar-besar,” ujarnya.

Ia menyebut, kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas memancing. Ikan lokal seperti nila kini disebut semakin sulit didapatkan.

“Kalau memancing, yang sering didapat justru sapu-sapu. Ikan lain jadi lebih jarang,” katanya.

Meski dampak ekologisnya belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat, peningkatan kemunculan ikan sapu-sapu mulai menimbulkan kekhawatiran. Oleh karena itu, langkah pemantauan dan pengendalian diharapkan dapat terus diperkuat guna menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Kota Semarang.

Artikel Menarik Lainnya