FOLKSTIME.ID – Peristiwa amblesnya tanggul Sungai Silandak di Jalan Jembawan I, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang telah menjadi perhatian warga sekaligus memunculkan kekhawatiran akan potensi bencana yang lebih besar. Kerusakan tanggul Sungai Silandak dan jalan ambles di kawasan ini dilaporkan terjadi sepanjang kurang lebih 20 meter dengan kedalaman mencapai dua meter, sehingga mengancam sedikitnya empat rumah warga di sekitarnya.
Kondisi tanggul yang ambles di Kalibanteng Kulon tersebut disebut-sebut telah mengalami keretakan sejak lama. Namun, kerusakan parah baru diketahui terjadi pada Selasa (5/5) siang, ketika struktur tanah mulai runtuh dan badan jalan ikut terseret ambles.
Retakan Lama Berujung Amblesnya Jalan Jembawan I
Kerusakan tanggul Sungai Silandak di Semarang Barat itu sebelumnya hanya terlihat sebagai retakan kecil. Akan tetapi, retakan tersebut diduga tidak segera ditangani secara optimal, sehingga kerusakan meluas dan akhirnya menyebabkan jalan ambles di Jalan Jembawan I.
Amblesnya jalan perkampungan ini semakin memperparah kondisi lingkungan sekitar, terutama karena lokasi tanggul berada sangat dekat dengan permukiman warga. Risiko longsor susulan pun kini membayangi, terlebih saat curah hujan di Kota Semarang masih tergolong tinggi.
Dugaan Ikan Sapu-Sapu Jadi Pemicu Kerusakan Tanggul
Penyebab tanggul ambles di Sungai Silandak diduga tidak hanya karena faktor alam, tetapi juga aktivitas biota sungai. Warga menyebut ikan sapu-sapu sebagai salah satu faktor yang mempercepat kerusakan talud.
Lubang-lubang pada pondasi tanggul disebut telah terbentuk akibat aktivitas ikan sapu-sapu yang menggerogoti struktur tanah dari dalam. Kondisi ini kemudian membuat tanah di bawah jalan menjadi kosong dan akhirnya ambles.
“Kemarin Selasa (5/5) siang, mulai ada retakan parah dan mulai ambles. Malamnya tambah parah dan amblesnya semakin dalam, awalnya memang sudah retak,” kata Projo, warga RT 06 RW 01 Kalibanteng Kulon.
“Dugaan kami ikan sapu-sapu nggerongi di pondasi tanggul sampai masuk ke bawah jalan, akhirnya ambles,” lanjutnya.
Warga Kalibanteng Kulon Diliputi Rasa Was-Was
Kekhawatiran kini dirasakan warga yang tinggal di sekitar tanggul Sungai Silandak. Rumah-rumah yang berada sangat dekat dengan titik ambles disebut berada dalam kondisi rawan, bahkan hanya berjarak sekitar satu meter dari lokasi longsoran.
Situasi ini diperparah oleh tingginya curah hujan yang berpotensi memicu jebolnya tanggul dan menyebabkan banjir di kawasan permukiman.
“Dulu tahun 1980-an sempat jebol, satu kampung terdampak banjir. Ini buat kami warga di sini ketar-ketir jika tidak segera ditangani,” ujar Projo.
Getaran dan Suara Gemuruh Saat Jalan Ambles
Peristiwa amblesnya jalan di Jalan Jembawan I juga sempat menimbulkan kepanikan warga. Getaran yang terasa di dalam rumah bahkan sempat dikira sebagai gempa bumi.
Mamik, warga lainnya, mengaku mengalami langsung momen tersebut saat berada di dalam rumah.
“Sekitar pukul 11, ada kayak lindu, kemudian ada suara gemuruh ternyata jalan sudah ambles,” katanya.
Jarak antara amblesan jalan dan rumahnya disebut hanya sekitar 50 sentimeter, sehingga risiko kerusakan lebih lanjut sangat dikhawatirkan.
Upaya Penanganan Dinilai Belum Maksimal
Kerusakan tanggul Sungai Silandak di Kalibanteng Kulon sebelumnya telah ditinjau oleh pihak terkait. Namun, hingga amblesnya jalan terjadi, perbaikan permanen disebut belum dilakukan.
Warga berharap penanganan tanggul ambles di Semarang Barat ini segera direalisasikan, mengingat dampaknya dapat meluas jika dibiarkan.
“Beberapa kali sudah ada yang survei dan meninjau, harapan kami segera ada tindakan pasti,” kata Projo.
Harapan Warga: Perbaikan Cepat dan Penguatan Tanggul
Permintaan perbaikan tanggul Sungai Silandak terus disuarakan warga. Selain untuk mencegah longsor susulan, penguatan struktur tanggul juga dinilai penting guna menghindari potensi banjir akibat jebolnya tanggul.
“Harapan saya segera dilakukan perbaikan atau penguatan tanggul,” ujar Mamik.
Kerusakan tanggul dan jalan ambles di Jalan Jembawan I Kalibanteng Kulon kini menjadi peringatan akan pentingnya mitigasi infrastruktur di kawasan padat penduduk. Penanganan cepat dan tepat diharapkan mampu mencegah bencana yang lebih besar di masa mendatang. (tya)







