FOLKSTIME.ID – Deru mesin ratusan kapal nelayan terdengar memecah perairan Utara Kota Semarang, Minggu pagi. Di tengah semilir angin laut dan aroma asin pesisir, sebuah perahu hijau bertuliskan Izam Jaya perlahan bergerak menuju tengah laut. Di atas kapal itulah Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, berdiri di antara bangkrak berisi kepala kerbau, hasil bumi, serta berbagai sesaji yang akan dilarung dalam tradisi Sedekah Laut dan Bumi Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjungmas, Kota Semarang.
Pemandangan itu terasa berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika pada pelaksanaan sebelumnya Agustina diantar menggunakan kapal perang milik TNI AL berukuran besar, kali ini ia justru memilih menaiki speedboat kecil agar dapat lebih dekat dengan nelayan.
Keputusan tersebut disebut sebagai bentuk pendekatan kepada masyarakat pesisir yang selama ini menjaga tradisi leluhur secara turun-temurun.
“Tahun lalu saya juga hadir di sini dan oleh Pak Danlanal waktu itu disiapkan kapal perang yang besar banget. Waktu itu saya minta, ‘Pak, bisa enggak kalau pas acara sedekah laut kita disiapkan kapal yang lebih kecil supaya bisa dekat dengan laut,’” kata Agustina di hadapan warga dan nelayan.

Sebanyak 400 Kapal Diberangkatkan ke Tengah Laut
Tradisi Sedekah Laut Tambaklorok tahun ini diikuti sekitar 400 kapal nelayan yang mulai diberangkatkan pukul 09.00 WIB menuju titik larung sejauh kurang lebih dua mil dari daratan.
Sebelum dilarung, sesaji lebih dahulu diarak dari masjid menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok. Kepala kerbau, hasil bumi, hingga aneka makanan tradisional dibawa bersama sebagai simbol rasa syukur masyarakat nelayan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki laut yang selama ini diberikan.
Tradisi tersebut disebut telah diwariskan oleh leluhur masyarakat pesisir Tambaklorok dan masih dipertahankan hingga sekarang meski zaman terus berubah.
Ketua Panitia Sedekah Laut dan Bumi Kampung Tambaklorok, Achmad Sujud, mengatakan tradisi itu bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan masyarakat pesisir.
“Ini tradisi tahunan dari tinggalan leluhur kita. Kita cuma meneruskan sebagai anak muda. Bisa juga dikatakan sebagai rasa syukur kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa lantaran dari laut,” ujarnya.
Tema “Biru Lautku” Diangkat untuk Kampanye Kebersihan Laut
Dalam pelaksanaan Sedekah Laut dan Bumi tahun ini, tema “Biru Lautku, Subur Bumiku, Makmur Rakyatku” diusung sebagai pesan moral bagi masyarakat pesisir.
Tema tersebut disebut mengandung ajakan untuk menjaga laut tetap bersih dari sampah sekaligus menjaga kesuburan bumi agar kesejahteraan nelayan tetap terjaga.
“Tema Biru Lautku itu menyimpulkan supaya kita bisa merawat atau membersihkan sampah supaya laut itu menjadi bersih. Terus Subur Bumiku itu supaya kita menjadi makmur,” kata Achmad Sujud.
Pesan mengenai pentingnya menjaga ekosistem laut juga disampaikan langsung oleh Agustina dalam sambutannya di hadapan masyarakat nelayan Tambaklorok.
Menurutnya, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, melainkan rumah besar yang harus dijaga bersama demi masa depan generasi mendatang.
“Larung sesaji mengingatkan bagi kita semua bahwa kita punya tanggung jawab menjaga ekosistem laut agar tetap sehat. Jangan sampai anak cucu kita hanya mendengar cerita tentang kekayaan laut Tambak Lorok tanpa bisa menikmati sendiri,” ucapnya.
Tradisi Leluhur Dianggap Tetap Hidup di Tengah Modernisasi
Pelaksanaan Sedekah Laut Tambaklorok disebut menjadi bukti bahwa budaya pesisir masih bertahan di tengah modernisasi kawasan perkotaan.
Agustina mengaku bangga karena masyarakat nelayan Tambaklorok tetap menjaga tradisi leluhur meski perkembangan zaman terus berubah.
“Saya sangat khususnya pada masyarakat nelayan Tambak Lorok. Karena di tengah zaman modern ini panjenengan semua masih teguh menjaga tradisi leluhur yaitu sedekah laut dan bumi, larung sesaji,” katanya disambut tepuk tangan warga.
Tradisi itu, lanjut dia, merupakan gambaran hubungan manusia dengan alam yang selama ini menjadi identitas masyarakat pesisir Jawa.
“Tradisi ini bukti bahwa masyarakat tidak pernah lupa pada asal-usulnya. Larung sesaji ini menjadi cerita tentang budaya, tentang karya, karsa, dan rasa,” tuturnya.
Laut Disebut Sebagai Rumah dan Investasi Kehidupan
Dalam sambutannya, berbagai pesan filosofis mengenai kehidupan nelayan turut disampaikan oleh Wali Kota Semarang.
Laut disebut sebagai rumah bagi masyarakat pesisir. Ombak dianggap sebagai sahabat, sementara ikan dipandang sebagai sumber kehidupan masyarakat Indonesia.
“Laut adalah rumah kita. Ombak adalah teman. Dan ikan adalah kehidupan itu sendiri. Bukan hanya untuk keluarga panjenengan, tetapi untuk seluruh warga Indonesia,” ujar Agustina.
Ia juga mengingatkan bahwa hubungan manusia dan laut harus dijaga dengan penuh rasa hormat agar keseimbangan alam tetap berlangsung.
“Laut bukanlah pemisah melainkan cermin bagi jiwa kita semua,” katanya.
Nelayan Diingatkan Membaca Tanda Alam dan Mengutamakan Keselamatan
Di tengah perubahan cuaca yang belakangan sulit diprediksi, para nelayan Tambaklorok juga diingatkan untuk selalu mengutamakan keselamatan saat melaut.
Fenomena cuaca panas pada siang hari yang kemudian disusul hujan deras pada sore hingga malam disebut membuat kondisi laut semakin sulit ditebak.
“Termasuk pintar-pintar moco sasmito atau membaca tanda-tanda alam. Apakah akhir-akhir ini cuaca sedang tidak menentu? Siang terasa sangat terik, kemudian sore malam sering turun hujan,” kata Agustina.
Ia meminta agar euforia perayaan tradisi tidak membuat masyarakat lalai terhadap faktor keselamatan di laut.
“Asas kehati-hatian menjadi nomor satu dan jangan sampai euforia membuat kita lalai. Kita ingin tradisi ini membawa berkah jadi pelaksanaannya harus tertib dan aman,” tegasnya.
Musim Cumi Disebut Sedang Melimpah
Di balik kemeriahan Sedekah Laut Tambaklorok, kondisi hasil tangkapan nelayan disebut sedang cukup baik. Musim cumi dan sejumlah hasil laut lainnya tengah memasuki masa panen.
“Alhamdulillah untuk hasil tangkapan saat ini nelayan bagus. Kita lagi panen musim cumi,” kata Achmad Sujud.
Meski demikian, persoalan distribusi solar untuk nelayan masih dikeluhkan. Sistem distribusi BBM yang hanya bergantung pada satu SPBU disebut membuat nelayan kesulitan ketika stok habis.
“Terkait solar mungkin dengan peraturan pemerintah yang sistem barkop itu dan kita menunjuk satu SPBU. Ketika SPBU itu sudah menyatakan kosong, dari nelayan juga ikut mengeluh,” ujarnya.
Karena itu, harapan agar tersedia SPBU khusus nelayan Tambaklorok kembali disampaikan agar aktivitas melaut tidak terganggu.
Sedekah Laut Tambaklorok Jadi Simbol Syukur dan Harapan
Tradisi larung sesaji di Tambaklorok bukan hanya dipandang sebagai seremoni budaya tahunan. Lebih dari itu, tradisi tersebut telah menjadi simbol hubungan spiritual masyarakat pesisir dengan alam laut yang selama ini menghidupi mereka.
Doa-doa keselamatan, harapan tangkapan melimpah, hingga permohonan agar seluruh nelayan dapat kembali ke rumah dengan selamat terus dipanjatkan sepanjang prosesi berlangsung.
“Yang penting nelayan melaut membawa hasil, amin. Dan kembali selamat menemui keluarganya,” ujar Agustina menutup sambutannya.
Dengan ratusan kapal yang berlayar bersama menuju tengah laut, Sedekah Laut Tambaklorok kembali menegaskan bahwa tradisi pesisir Jawa masih hidup, dijaga, dan diwariskan sebagai identitas budaya masyarakat nelayan Kota Semarang.(tya)







