FOLKSTIME.ID – Di sebuah ruang di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Semarang, gerakan tangan para guru pendamping tampak sibuk menerjemahkan instruksi. Sejumlah siswa tuna rungu memperhatikan dengan serius. Di sisi lain, siswa tuna netra meraba perlengkapan pertolongan pertama yang diperkenalkan instruktur secara perlahan.
Hari itu, sejarah baru sedang dibentuk di SLB Negeri Kota Semarang. Untuk pertama kalinya, ekstrakurikuler Palang Merah Remaja atau PMR resmi dibentuk khusus bagi siswa disabilitas di tingkat SMALB.
Sebanyak 30 siswa berkebutuhan khusus dilibatkan dalam pelatihan dasar kedaruratan dan pertolongan pertama yang dipandu langsung oleh instruktur PMI Kota Semarang.
Program PMR disabilitas di SLB Negeri Kota Semarang itu tidak sekadar menjadi kegiatan ekstrakurikuler biasa. Ruang baru bagi pendidikan kemanusiaan sedang dibuka. Para siswa yang selama ini kerap dipandang memiliki keterbatasan, kini justru diberikan kesempatan menjadi bagian dari relawan kemanusiaan.
Ketua Bidang Kerja Sama dan Kemitraan PMI Kota Semarang, Eddy Herry Purnomo, mengatakan pelatihan PMR disabilitas tersebut sengaja dirancang untuk membangun keberanian dan kemampuan dasar siswa dalam menghadapi situasi darurat.
“Anak-anak SLB Negeri Semarang ini diberikan pelatihan dasar kemampuan menghadapi situasi kedaruratan dan pertolongan pertama. Mereka diharapkan menjadi pahlawan di keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujar Eddy.
Pelatihan PMR Disabilitas Dilakukan dengan Pendekatan Khusus
Metode pelatihan yang diberikan tidak disamakan dengan pelatihan PMR pada sekolah umum. Materi disampaikan secara perlahan dan dengan pendekatan khusus agar mudah dipahami para peserta.
Instruktur PMI Kota Semarang terlihat beberapa kali menghentikan penjelasan untuk memastikan seluruh siswa memahami tahapan pertolongan pertama. Guru-guru SLB Negeri Kota Semarang juga dilibatkan untuk membantu proses penerjemahan materi sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
Bahasa isyarat digunakan untuk siswa tuna rungu dan tuna wicara. Pendekatan verbal dan sentuhan diterapkan kepada siswa tuna netra. Sementara penyampaian materi kepada siswa tuna grahita dilakukan lebih sederhana dan bertahap.
Menurut Eddy, tantangan besar memang dirasakan PMI Kota Semarang karena pelatihan kepalangmerahan bagi siswa berkebutuhan khusus baru pertama kali dijalankan.
“Ini tantangan baru bagi PMI. Ternyata yang bisa menjadi relawan bukan hanya manusia normal, tetapi teman-teman berkebutuhan khusus juga bisa berkontribusi terhadap kemanusiaan,” katanya.
Sebelum pelatihan dilaksanakan, diskusi dengan para guru SLB juga telah dilakukan untuk menyusun metode pembelajaran yang paling sesuai.
“Teman-teman instruktur langsung memberikan pelatihan hari ini dengan sentuhan istimewa dan perlahan-lahan supaya mereka paham. Guru-guru juga membantu menerjemahkan sesuai kebutuhan khusus masing-masing siswa,” ucapnya.
PMR SLB Negeri Kota Semarang Jadi Program Kemanusiaan Inklusif
Program PMR disabilitas tersebut disebut sejalan dengan tema PMI Kota Semarang tahun ini, yakni “Humanity for Elderly and Disabled”. Melalui program tersebut, ruang partisipasi sosial dan kemanusiaan mulai dibuka lebih luas bagi penyandang disabilitas.
Selama ini, keterlibatan relawan disabilitas di lingkungan PMI masih terbilang terbatas. Aktivitas yang biasa diikuti umumnya hanya donor darah. Sementara pelatihan lapangan dan kebencanaan masih jarang melibatkan penyandang disabilitas.
Kini, kondisi tersebut mulai diubah. Kesempatan yang sama mulai diberikan kepada siswa disabilitas agar mampu memiliki keterampilan dasar kesehatan, pertolongan pertama, hingga kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.
“Sekarang cakupannya mulai meluas. Teman-teman disabilitas juga diberi peluang yang sama dalam kegiatan maupun pekerjaan. Kami berharap program ini berkembang,” kata Eddy.
Menurut Eddy, semangat itu menjadi bukti bahwa kepedulian kemanusiaan tidak dibatasi kondisi fisik maupun sensorik.
“Saya sangat terharu karena mereka memiliki semangat menjadi pahlawan kemanusiaan. Tuna grahita, tuna netra, tuna rungu maupun tuna wicara ternyata punya keinginan kuat untuk berkontribusi,” tuturnya.
Siswa Disabilitas Didorong Mampu Memberikan Pertolongan Pertama
Kemampuan dasar pertolongan pertama dinilai penting dimiliki siswa disabilitas, terutama untuk membantu diri sendiri, keluarga maupun lingkungan sekitar ketika situasi darurat terjadi.
Melalui pembentukan PMR di SLB Negeri Kota Semarang, keterampilan dasar kesehatan diharapkan dapat dipahami sejak dini oleh para siswa.
Eddy mengatakan kemampuan sederhana seperti membantu teman pingsan, menangani luka ringan, hingga memahami langkah awal kedaruratan bisa menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari.
“Minimal kemampuan yang mereka peroleh berarti untuk diri sendiri, lalu bisa meluas ke keluarga dan teman-temannya. Kalau ada sesuatu, mereka bisa membantu menolong,” ujarnya.
Kepala SLB Negeri Kota Semarang, Sri Sugiarti, menilai pelatihan PMR tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter dan kemandirian siswa berkebutuhan khusus.
Menurutnya, pengetahuan dasar mengenai penanganan kondisi darurat perlu dimiliki seluruh siswa agar mampu merespons kejadian tak terduga di lingkungan sekolah.
“Anak-anak bisa lebih paham bagaimana memberikan pertolongan pertama kepada teman-temannya apabila ada kejadian yang harus segera ditangani,” kata Sri Sugiarti.
Ia juga meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan secara serius agar materi yang diberikan PMI Kota Semarang dapat dipahami dengan baik.
“Anak-anak harus memperhatikan dengan baik dan mengikuti dengan serius supaya paham. Insya Allah kegiatan berjalan lancar dari awal hingga akhir,” tuturnya.
PMR Disabilitas di Semarang Diharapkan Menjadi Contoh Nasional
Pembentukan PMR pertama di SLB Negeri Kota Semarang kini mulai dipandang sebagai langkah penting dalam penguatan pendidikan inklusif berbasis kemanusiaan. Program tersebut dinilai mampu membuka perspektif baru bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kemampuan untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial.
Di balik keterbatasan yang dimiliki para siswa, semangat untuk membantu sesama justru terlihat tumbuh dengan kuat. Pelatihan PMR disabilitas di Semarang itu tidak hanya mengajarkan teknik pertolongan pertama, tetapi juga menanamkan rasa percaya diri bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi penolong bagi orang lain.
Dari ruang kelas sederhana di SLB Negeri Kota Semarang, pesan kemanusiaan itu perlahan disampaikan: bahwa keberanian menolong tidak selalu diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari kemauan untuk peduli kepada sesama. (Tya)







