Waspada di Balik Hangatnya Herbal: Ancaman Tersembunyi Kayu Manis dalam Obat Saset

FOLKSTIME.ID – Minuman “obat herbal” cair kemasan saset sudah menjadi bagian dari kebiasaan banyak keluarga Indonesia saat menghadapi masuk angin, batuk, atau perut mual. Sensasi hangat di tubuh dan rasa lega di tenggorokan membuat produk ini dianggap aman karena berbahan alami. Namun di balik aroma rempah yang menenangkan itu, tersimpan ancaman kesehatan serius yang jarang diketahui masyarakat.

Salah satu bahan utama yang kerap digunakan dalam produk herbal kemasan adalah kayu manis. Sayangnya, tidak semua jenis kayu manis memiliki tingkat keamanan yang sama. Kayu manis Ceylon dikenal sebagai “kayu manis asli” dengan kandungan kumarin sangat rendah, hanya sekitar 0,004 persen. Sebaliknya, industri lebih banyak menggunakan kayu manis Cassia atau Cinnamomum burmannii karena harganya murah dan aromanya lebih kuat.

Di balik keunggulan ekonominya, kayu manis Cassia menyimpan risiko besar. Kandungan kumarin pada jenis ini dapat mencapai 1 persen, atau sekitar 250 kali lebih tinggi dibanding kayu manis Ceylon. Kumarin merupakan senyawa alami pemberi aroma khas kayu manis, tetapi jika dikonsumsi berlebihan atau terus-menerus dapat memicu kerusakan organ tubuh, terutama hati.

Badan Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) bahkan telah menetapkan batas aman konsumsi kumarin hanya 0,1 miligram per kilogram berat badan per hari. Institut Penilaian Risiko Federal Jerman (BfR) juga memperingatkan bahwa dosis kecil sekalipun bisa menyebabkan kerusakan hati pada individu yang sensitif. Peringatan serupa turut disampaikan Komite Ilmiah Keamanan Pangan Norwegia (VKM).

Bahaya kumarin ternyata tidak hanya berhenti pada hati. Penelitian toksikologi terbaru mengungkap konsumsi ekstrak kayu manis Cassia berlebihan dalam jangka panjang juga berpotensi memicu nefrotoksisitas atau kerusakan ginjal. Bahkan, studi dalam jurnal Food and Chemical Toxicology menyebut kumarin memiliki sifat karsinogenik pada hewan percobaan melalui konsumsi oral.

Risiko lain yang sering tidak disadari masyarakat adalah interaksi kayu manis dengan obat medis tertentu. Sifat antikoagulan dalam kayu manis dapat mengganggu kerja obat pengencer darah dan meningkatkan risiko perdarahan pada pasien.

Kekhawatiran terhadap kumarin sebenarnya bukan hal baru. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah melarang penggunaan kumarin sintetik sebagai bahan tambahan makanan sejak 1954. Kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa potensi bahayanya sudah lama diakui dunia medis.

Secara biologis, ancaman ini terjadi ketika tubuh memetabolisme kumarin di dalam hati. Dalam proses tersebut, sebagian senyawa berubah menjadi zat beracun bernama o-HPA yang dapat merusak sel-sel hati secara perlahan. Kondisi ini dinilai lebih berisiko bagi masyarakat Asia karena faktor genetik membuat proses pemecahan kumarin berlangsung lebih lambat dibanding populasi lain.

Kasus klinis terkait konsumsi suplemen kayu manis dosis tinggi juga telah dilaporkan di berbagai negara. Beberapa pasien mengalami hepatitis akut hingga penyakit kuning akibat paparan kumarin berlebihan. Individu yang memiliki riwayat penyakit hati disebut menjadi kelompok paling rentan terhadap efek samping tersebut.

Fenomena ini menjadi alarm penting bagi masyarakat yang terbiasa mengonsumsi “obat herbal” cair kemasan secara rutin, terutama saat sakit dan meminum beberapa saset dalam sehari. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa membuat asupan kumarin melampaui batas aman harian.

Masyarakat diimbau lebih kritis dalam memilih produk herbal kemasan dan tidak menganggap semua bahan alami sepenuhnya aman. Konsumsi yang bijak dan tidak berlebihan menjadi langkah penting untuk menghindari risiko gangguan kesehatan jangka panjang akibat paparan kumarin tersembunyi di balik hangatnya minuman herbal sehari-hari.

Artikel Menarik Lainnya