FOLKSTIME.ID – Di pagi yang masih diselimuti udara sejuk khas Kota Semarang, ratusan hingga ribuan jamaah diperkirakan akan memadati halaman megah Lawang Sewu. Bukan untuk sekadar berwisata atau berfoto di bangunan bersejarah itu, melainkan untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah dalam suasana yang berbeda khusyuk, hangat, dan sarat makna.
Momentum ini kembali dihadirkan oleh PT Kereta Api Pariwisata atau KAI Wisata, yang untuk kedua kalinya menyelenggarakan Salat Idulfitri di salah satu ikon sejarah Indonesia tersebut. Agenda dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 21 Maret 2026, mulai pukul 05.30 hingga 08.30 WIB.
Halaman utama Lawang Sewu akan disulap menjadi lautan sajadah. Panitia menargetkan kehadiran sekitar 700 hingga 1.000 jamaah dari berbagai kalangan. Mereka datang bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang merayakan hari kemenangan bersama.
Salat Idulfitri akan dipimpin oleh H. Machasin sebagai imam sekaligus khatib, sementara Arda Nur Yulian bertugas sebagai bilal. Kombinasi ini diharapkan mampu menghadirkan suasana ibadah yang khidmat sekaligus menenangkan.
Kegiatan ini bukan tanpa alasan. Pada pelaksanaan pertamanya di tahun 2025, respons masyarakat begitu tinggi. Antusiasme tersebut menjadi dorongan kuat bagi KAI Wisata untuk kembali menghadirkan pengalaman serupa, bahkan dengan skala yang lebih matang.
Direktur Utama KAI Wisata, Raden Agus Dwinanto Budiadji, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari transformasi peran perusahaan. Tidak lagi sekadar menghadirkan layanan perjalanan wisata, tetapi juga menciptakan ruang pengalaman yang bermakna.
“Kami bersyukur dapat kembali menyelenggarakan Salat Idulfitri di Lawang Sewu untuk yang kedua kalinya,” ujarnya.
Menurutnya, Lawang Sewu memiliki potensi besar sebagai ruang publik yang inklusif tempat di mana nilai sejarah bertemu dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat masa kini.
Bangunan yang dahulu menjadi saksi perjalanan panjang sejarah perkeretaapian Indonesia itu kini menjelma menjadi ruang kebersamaan. Di sana, batas antara wisatawan dan warga seolah menghilang, digantikan oleh rasa persaudaraan yang menguat di hari raya.
Menggelar Salat Idulfitri di lokasi ikonik seperti Lawang Sewu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Tidak hanya tentang menjalankan ibadah, tetapi juga merasakan kedalaman makna di tengah arsitektur yang sarat sejarah.
Bagi sebagian jamaah, suasana ini menghadirkan refleksi tersendiri bahwa perjalanan manusia, seperti bangunan tua itu, penuh dengan cerita, perubahan, dan harapan.
KAI Wisata pun berupaya memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan nyaman. Penyelenggaraan akan mengikuti arahan pemerintah serta ketentuan yang berlaku. Jamaah diimbau membawa perlengkapan ibadah pribadi, termasuk alas salat, guna menjaga kenyamanan bersama.
Melalui kegiatan ini, Lawang Sewu tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang hidup. Sebuah tempat yang mampu menampung berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan.
Upaya ini sekaligus memperkuat citra Lawang Sewu sebagai destinasi yang memiliki dimensi lebih luas tidak hanya visual dan historis, tetapi juga emosional dan spiritual.
“Kami berkomitmen menghadirkan program yang memberi nilai tambah bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi KAI Wisata sebagai penyedia layanan pariwisata berbasis pengalaman,” tutup Raden.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, momen seperti ini menjadi pengingat sederhana: bahwa kebersamaan masih menjadi inti dari perayaan Idulfitri.
Ketika takbir berkumandang di halaman Lawang Sewu, yang tersisa bukan hanya gema suara, tetapi juga rasa tentang persatuan, tentang harapan, dan tentang perjalanan panjang yang membawa manusia kembali pada makna kemenangan yang sejati. (tya)






