FOLKSTIME.ID – Melimpahnya produksi bawang merah di Kabupaten Kendal saat momentum Idulfitri memunculkan paradoks tajam.
Di tingkat petani, harga justru anjlok, sementara di pasar tradisional harga relatif tinggi dan cenderung naik.Kondisi ini terlihat di sejumlah sentra produksi seperti Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum.
Petani harus menjual hasil panen jauh di bawah harga normal akibat panen raya yang terjadi serentak di berbagai daerah.
Suwanto (56), petani setempat, menyebut kondisi ini sebagai situasi yang merugikan.
“Harga di petani jatuh, tapi di pasar tetap tinggi. Kami tidak menikmati kenaikan itu. Biaya produksi tetap mahal,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Hal senada disampaikan Muqodim (58). Ia menilai rantai distribusi menjadi faktor utama yang membuat selisih harga semakin lebar antara petani dan konsumen.
“Di pasar masih mahal, tapi kami jual murah. Ini yang memberatkan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kendal (narasumber tambahan), Sutrisno, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi.
“Saat panen raya bersamaan, pasokan melimpah di tingkat petani, tetapi distribusi ke pasar tidak selalu secepat itu. Akibatnya harga di hulu jatuh lebih dulu,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tengah mengupayakan stabilisasi melalui koordinasi distribusi dan pemantauan harga.
Berdasarkan data pemantauan harga pangan di Kendal dan Jawa Tengah, berikut gambaran fluktuasi harga bawang merah saat ini:
Daftar Harga Bawang Merah (Maret 2026):
- Tingkat petani Kendal: sekitar Rp12 juta per siring (turun drastis dari Rp30 juta).
- Pasar lokal Kendal: sekitar Rp28.000 – Rp40.000 per kg.
- Rata-rata Jawa Tengah: sekitar Rp40.000 – Rp40.600 per kg.
Harga nasional (eceran): sekitar Rp43.800 per kg .
Bahkan pada awal 2026, harga di Kendal sempat turun hingga kisaran Rp25.000 per kg sebelum kembali berfluktuasi.
Perbedaan harga ini menunjukkan adanya disparitas signifikan antara harga di tingkat petani dan pasar.
Saat petani menjual dengan harga rendah karena kelebihan pasokan, konsumen tetap membeli dengan harga relatif tinggi akibat rantai distribusi yang panjang.
Untuk mengurangi kerugian, petani kini memilih strategi bertahan dengan hanya menjual sebagian hasil panen dan menyimpan sisanya sebagai bibit.
Langkah ini dinilai lebih aman dibanding menjual seluruh hasil dengan harga rendah.
Para petani berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret, seperti penguatan distribusi dan intervensi harga, agar keseimbangan pasar bisa tercapai.
Jika tidak, kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan produksi di musim tanam berikutnya.







