Di Balik Setelan Formal, Batik Jadi Strategi Komunikasi Deo Galih Bangun Citra Profesional

FOLKSTIME.ID – Di tengah tren gaya profesional yang semakin mengarah ke busana formal bergaya Barat, langkah berbeda justru ditunjukkan Deo Galih, Public Relations Hotel @HOM Simpang Lima Semarang by Horison Hotels Group.

Ia menjadikan batik bukan sekadar pilihan busana, melainkan bagian dari strategi komunikasi dalam membangun citra diri dan perusahaan.

Bagi Deo, peran Public Relations tidak hanya berbicara soal menyampaikan pesan secara verbal, tetapi juga bagaimana pesan itu tercermin melalui penampilan. Dalam konteks ini, batik menjadi medium komunikasi non-verbal yang sarat makna.

“Batik bukan sekadar pakaian, melainkan simbol identitas bangsa. Sebagai seorang Public Relations, penting bagi saya untuk tidak hanya membangun citra perusahaan, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai budaya Indonesia,” ujar Deo Galih, Minggu (5/4/2026).

Pendekatan tersebut menghadirkan perspektif baru dalam dunia kehumasan. Di saat banyak praktisi memilih tampil netral mengikuti standar global, Deo justru menonjolkan identitas lokal sebagai kekuatan diferensiasi. Ia percaya, karakter yang kuat lahir dari keberanian menunjukkan jati diri.

Dalam praktiknya, batik yang dikenakan Deo hadir di berbagai forum resmi, mulai dari konferensi pers, pertemuan bisnis, hingga agenda seremonial. Pilihan ini secara tidak langsung memperkuat kesan autentik sekaligus memperlihatkan bahwa profesionalisme tidak harus meninggalkan akar budaya.

“Batik bukan sekadar pakaian, melainkan simbol identitas bangsa. Saya bangga bisa mengenakannya dalam setiap kesempatan kerja sebagai bagian dari representasi diri sekaligus budaya Indonesia,” tegasnya.

Lebih dari sekadar simbol, langkah ini juga menjadi bentuk narasi yang dibangun secara konsisten. Deo memposisikan dirinya bukan hanya sebagai komunikator perusahaan, tetapi juga sebagai representasi nilai budaya Indonesia di ruang-ruang profesional yang semakin kompetitif.

Penggunaan batik sebagai bagian dari identitas kerja juga mencerminkan perubahan paradigma, bahwa pelestarian budaya dapat berjalan berdampingan dengan tuntutan industri modern. Bahkan, dalam banyak situasi, hal tersebut justru menjadi nilai tambah yang memperkuat kepercayaan publik.

Melalui pendekatan ini, Deo Galih tidak hanya membangun citra personal, tetapi juga membuka ruang bagi interpretasi baru tentang bagaimana budaya lokal dapat diintegrasikan secara relevan dalam dunia kerja masa kini.

Artikel Menarik Lainnya