FOLKSTIME.ID – Langkah antisipasi terhadap potensi kekeringan di Jawa Tengah mulai didorong lebih awal menyusul prediksi berkembangnya fenomena El Nino pada pertengahan 2026. Sejumlah sektor strategis seperti pertanian dan sumber daya air dinilai perlu bersiap menghadapi kemungkinan penurunan curah hujan.
Pola Hujan Melemah, Sinyal Perubahan Iklim Mulai Terlihat
Kondisi iklim pada April masih berada dalam kategori netral, namun perubahan pola cuaca disebut mulai terindikasi. Hujan masih terjadi di sejumlah wilayah, meski intensitasnya cenderung ringan dan tidak merata.
Analis Klimatologi BMKG, Zauyik Nana Ruslana, menyebutkan bahwa situasi ini menjadi tanda awal peralihan musim menuju kemarau.
“Pada bulan April ini kondisi masih netral, meskipun hujan tetap terjadi, namun intensitasnya tidak kuat,” ujarnya.
El Nino Diprediksi Berkembang, Dampak Bertahap Mulai Terasa
Memasuki periode Mei hingga Juli 2026, fenomena El Nino diperkirakan mulai terbentuk dengan kekuatan lemah hingga moderat. Kendati demikian, perkembangan tersebut masih bersifat dinamis dan berpotensi mengalami perubahan.
“Diprediksi pada triwulan Mei, Juni, Juli akan berkembang El Nino dengan intensitas lemah sampai moderat. Namun kondisi ini bisa berubah sehingga perlu pembaruan data secara rutin,” kata dia.
Fenomena ini diketahui menyebabkan pergeseran uap air akibat peningkatan suhu permukaan laut, yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah.
Puncak Kemarau dan Risiko Kekeringan Meningkat
Musim kemarau di Jawa Tengah diperkirakan mulai berlangsung pada Mei 2026 dengan puncak terjadi pada Juli hingga Agustus. Sementara itu, dampak El Nino diprediksi semakin kuat pada Agustus hingga Oktober.
“Puncak musim kemarau diperkirakan Juli dan Agustus. Dampak El Nino akan terasa lebih kuat pada Agustus, September, hingga Oktober,” jelasnya.
Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan yang berdampak luas, terutama pada sektor pertanian yang rentan mengalami gagal panen akibat terbatasnya pasokan air. Selain itu, cadangan air di waduk dan jaringan irigasi juga diperkirakan menurun.
Wilayah Rentan dan Ancaman Kebakaran Lahan
Sejumlah wilayah di Jawa Tengah diprediksi mengalami dampak lebih signifikan, khususnya daerah bagian timur dan kawasan pantai utara. Wilayah seperti Jepara, Pati, Rembang, Kudus, Grobogan, Blora, hingga Solo dan sekitarnya dinilai lebih rentan terhadap kekeringan.
Kawasan Pantura lainnya seperti Semarang bagian utara, Batang, Pekalongan, Tegal, dan Brebes juga berpotensi terdampak. Sementara itu, wilayah selatan dan pegunungan seperti Purworejo, Kebumen, dan Cilacap masih berpeluang mengalami hujan meski terbatas.
Selain kekeringan, peningkatan suhu dan rendahnya kelembapan turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Kekeringan akan berdampak pada pertanian, sumber daya air, hingga irigasi. Selain itu juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan karena suhu tinggi dan kelembapan rendah,” ungkapnya.
Antisipasi Dini Jadi Kunci
Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, atau dikenal sebagai “El Nino Godzilla”, disebut jarang terjadi. Dalam catatan historis, kondisi tersebut hanya muncul tiga kali dalam 45 tahun terakhir, yakni pada periode 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016.
Menghadapi potensi dampak yang ada, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan langkah mitigasi sejak dini, termasuk penghematan penggunaan air dan pencegahan kebakaran lahan.
Pemerintah daerah juga didorong untuk menyiapkan cadangan air serta menjaga ketahanan pangan.
“Perlu dilakukan antisipasi seperti penyimpanan air, pengelolaan lumbung pangan, serta terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG,” pungkasnya.(rin)







