FOLKSTIME.ID – Kirab Budaya KH Sholeh Darat yang digelar di Kota Semarang pada Minggu (19/4/2026) telah dimaknai sebagai upaya pelestarian sejarah sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat di tengah arus modernisasi.
Kegiatan tersebut diberangkatkan sejak pukul 08.00 WIB dari Kampung Melayu menuju Lapangan Kuningan dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai komunitas. Antusiasme masyarakat tampak tinggi sepanjang jalur kirab, yang dipadati warga untuk menyaksikan prosesi budaya tersebut.
Momentum kirab tidak hanya menghadirkan nuansa religius dan historis, tetapi juga menjadi ruang edukasi publik mengenai jejak perjuangan ulama lokal yang berpengaruh dalam perkembangan sosial dan budaya masyarakat.
Jejak Sejarah Dihidupkan Kembali
Kirab budaya sengaja diarahkan melintasi sejumlah kawasan bersejarah di Kota Semarang. Rute tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan sejarah yang dimiliki daerah.
Sosok KH Sholeh Darat kembali diangkat sebagai figur sentral yang memiliki peran penting dalam penyebaran ilmu keagamaan serta pembentukan kesadaran sosial masyarakat. Nilai perjuangannya terus dikenalkan sebagai bagian dari identitas lokal yang perlu dijaga.
Kegiatan ini pun tidak lagi dipandang sebagai agenda seremonial semata, melainkan telah berkembang menjadi media pembelajaran sejarah berbasis budaya bagi masyarakat luas.
Edukasi Budaya untuk Generasi Muda
Pelibatan generasi muda dalam kirab budaya dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai lokal. Melalui keterlibatan langsung, pemahaman terhadap sejarah dan budaya diharapkan dapat tumbuh secara alami.
Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut mampu menghadirkan ruang interaksi masyarakat yang positif.
“Saya melihat kegiatan masyarakat di kanan kiri sangat ramai, banyak yang berjualan. Ini sangat bagus,” ujarnya.
Selain itu, kirab juga menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai perjuangan KH Sholeh Darat kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Budaya Jadi Benteng Identitas Bangsa
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam menjaga jati diri bangsa di tengah perubahan global.
“Hanya kebudayaan yang akan menguatkan kita dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.
Ia menyebut bahwa tantangan saat ini tidak lagi bersifat fisik, melainkan menyasar aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
“Hari ini secara ekonomi kita dijajah oleh pihak-pihak para pemimpin kapital modal. Enggak punya modal pasti enggak bisa usaha, enggak bisa sekolah, bahkan enggak bisa hidup dengan sehat,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan budaya lokal menjadi salah satu cara untuk menjaga kemandirian masyarakat.
Pengusulan Pahlawan Nasional
Kirab budaya ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan haul KH Sholeh Darat sekaligus mendukung pengusulan tokoh tersebut sebagai pahlawan nasional.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, menjelaskan bahwa berbagai kegiatan telah digelar untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap perjuangan KH Sholeh Darat.
“Kiai Soleh Darat itu adalah salah satu tokoh yang sedang kita usulkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Hari ini kita memperingati haul beliau,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan budaya yang digunakan KH Sholeh Darat, termasuk penggunaan bahasa Jawa dalam karya-karyanya, menjadi strategi efektif dalam membangun kesadaran masyarakat pada masa penjajahan.
Relevansi Nilai Lokal di Era Global
Pemikiran KH Sholeh Darat disebut telah menginspirasi tokoh-tokoh besar nasional seperti Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, hingga R.A. Kartini.
Nilai-nilai tersebut dinilai masih relevan hingga saat ini, terutama dalam menghadapi arus globalisasi yang berpotensi mengikis identitas budaya.
“Bahasa Jawa dan budaya lokal harus tetap kita miliki dan kita kuatkan, terutama untuk generasi muda,” ujar Anasom.
Kirab Budaya KH Sholeh Darat diharapkan terus berkembang sebagai gerakan pelestarian budaya yang mampu menjaga identitas sekaligus memperkuat kesadaran sejarah masyarakat.(tya)







