FOLKSTIME.ID – Fenomena menjamurnya ikan sapu-sapu di sejumlah sungai perkotaan kembali menjadi sorotan. Setelah gerakan pembasmian dilakukan di Jakarta, kondisi serupa kini disebut mulai terlihat di Semarang. Kekhawatiran pun mulai dirasakan warga, terutama mereka yang sehari-hari beraktivitas di sekitar aliran sungai.
Dominasi spesies invasif tersebut dinilai telah mengancam keseimbangan ekosistem. Bahkan, keberadaan ikan lokal disebut semakin terdesak akibat perkembangan populasi yang tidak terkendali.
Penelusuran di Polder Tawang, Fakta Mengkhawatirkan Ditemukan
Pada Sabtu (18/4/2026) sore, kondisi sungai di kawasan Polder Tawang sempat ditelusuri oleh seorang warga Semarang Utara, Rachman. Aktivitas memancing yang awalnya direncanakan justru berubah menjadi pengamatan terhadap kondisi lingkungan.
Aliran sungai di sepanjang Jalan Perak hingga Jalan Ronggowarsito disebut telah dipenuhi ikan sapu-sapu. Dalam jumlah besar, ikan tersebut terlihat hidup dan berkembang biak secara masif. Kondisi ini bahkan disebut menyerupai fenomena yang lebih dulu terjadi di Jakarta.
“Kalau lihat kondisi di sini, tidak beda jauh dengan Jakarta. Ikan sapu-sapu berkembang biak dan ini ancaman buat ekosistem,” ucap Rachman.
Ekosistem Sungai Terancam, Ikan Lokal Kian Terpinggirkan
Keberadaan ikan sapu-sapu disebut bukan sekadar mengganggu, tetapi telah merusak keseimbangan alami. Sebagai spesies invasif, ikan ini diketahui memangsa telur ikan endemik. Akibatnya, proses regenerasi ikan lokal menjadi terhambat.
Upaya penebaran ikan lokal pun dinilai akan sia-sia jika populasi sapu-sapu tidak dikendalikan. Ketimpangan ekosistem pun dikhawatirkan akan semakin melebar jika kondisi ini terus dibiarkan.
“Percuma semisal kita tebar ikan lokal kalau sapu-sapunya masih ada. Telur-telur ikan habis dimakan, jadi tidak bisa berkembang,” ungkap Rachman dengan nada resah.
Struktur Sungai Ikut Terancam, Lubang di Dasar Mulai Bermunculan
Tak hanya ekosistem biologis yang terdampak, kerusakan fisik sungai juga disebut telah mulai terjadi. Lubang-lubang di dasar sungai dilaporkan terbentuk akibat aktivitas ikan sapu-sapu.
Struktur pondasi sungai pun berpotensi melemah. Jika dibiarkan, risiko ambles dan longsor disebut dapat meningkat. Aliran sungai bahkan dikhawatirkan akan terganggu akibat sedimentasi dan runtuhan material.
“Ikan sapu-sapu juga bisa merusak pondasi sungai. Coba lihat di sungai-sungai yang ada sapu-sapunya, biasanya kerowak atau berlubang di bagian bawah. Nanti dampaknya bisa ambles, longsor dan menutupi aliran kali,” paparnya.
Sebaran Meluas, Dari Ronggowarsito hingga Kaligawe
Populasi ikan sapu-sapu disebut telah menguasai berbagai titik di Semarang. Kawasan Ronggowarsito, Merak, hingga Kaligawe dilaporkan menjadi lokasi persebaran utama.
Pada siang hari, ikan-ikan tersebut cenderung bersembunyi di lubang atau bawah jembatan. Aktivitasnya lebih sering dilakukan pada malam hari, sehingga keberadaannya kerap luput dari perhatian masyarakat umum.
Ukuran ikan yang ditemukan pun disebut tidak kecil. Beberapa bahkan dilaporkan mencapai panjang 30 hingga 40 sentimeter.
Kesaksian Warga, Fenomena yang Kian Terlihat
Fenomena kemunculan ikan sapu-sapu juga telah disaksikan oleh warga lain. Seorang pengemudi ojek online, Alex, mengaku sering melihat ikan tersebut muncul ke permukaan di sekitar aliran sungai dekat tempat mangkalnya.
“Sering lihat, ukurannya lumayan besar. Hampir tiap jam pasti ada ikan sapu-sapu muncul ke permukaan di situ,” ungkapnya.
Meski demikian, dampak ekologis dari keberadaan ikan tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh semua warga. Sebagian masih menganggapnya sebagai ikan biasa yang hidup di perairan tawar.
“Kalau misal ada dampaknya buruk buat (ekosistem) sungai, kita dukung untuk dibasmi saja,” tandasnya.
Dorongan Gerakan Pembasmian, Harapan untuk Lingkungan
Gerakan pembasmian ikan sapu-sapu yang sebelumnya viral di Jakarta kini mulai didorong untuk diterapkan di Semarang. Langkah tersebut dinilai tidak hanya sebagai upaya penanganan, tetapi juga sebagai bentuk edukasi lingkungan bagi masyarakat.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan pengecekan kondisi sungai dan menyusun langkah strategis. Tanpa intervensi yang terencana, dominasi spesies invasif dikhawatirkan akan semakin sulit dikendalikan.
Upaya penyelamatan ekosistem Sungai Semarang pun kini menjadi perhatian bersama. Jika tidak segera ditangani, ancaman terhadap lingkungan dan keberlangsungan ikan lokal disebut akan semakin nyata dan meluas.(tya)







