FOLKSTIME.ID — Lulusan program studi bidang sosial, khususnya Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Salatiga, memiliki peluang karier yang luas dan strategis di sektor pemerintahan maupun swasta.
Hal ini mengemuka dalam agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa PMI Fakultas Dakwah UIN Salatiga saat berkunjung ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Selasa (28/4/2026).
Empat Pilar SDM Kesejahteraan Sosial
Mewakili Dinsos Jateng, Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin, Elliya Chariroh, menjelaskan bahwa pemerintah telah memetakan Sumber Daya Manusia (SDM) Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (Kesos) ke dalam empat pilar utama.
Ia menyebutkan, lulusan bidang sosial dapat mengambil peran sebagai Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) hingga Pekerja Sosial (Peksos) yang membutuhkan kompetensi serta sertifikasi profesi khusus.
“Peran lulusan sosial sudah diatur dan dilindungi regulasi, termasuk melalui Permensos Nomor 17 Tahun 2017 dan Permensos Nomor 29 Tahun 2017,” jelasnya.
Peran Strategis: Penyuluh hingga Relawan Sosial
Selain TKS dan Peksos, Dinsos juga membuka ruang bagi Penyuluh Sosial yang bertugas memberikan edukasi kepada masyarakat terkait program kesejahteraan.
Tak hanya itu, peran Relawan Sosial juga dinilai penting sebagai penggerak inisiatif sosial di tengah masyarakat, baik berasal dari latar belakang pendidikan sosial maupun umum.
Pendamping Sosial Jadi Kebutuhan Utama
Elliya menegaskan, kebutuhan terbesar saat ini ada pada posisi Pendamping Sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Lulusan PMI dapat berkiprah sebagai pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), hingga Usaha Ekonomi Produktif (UEP).
Bahkan, terdapat kebutuhan khusus untuk pendampingan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, penyandang disabilitas berat, penyintas HIV/AIDS, korban perdagangan orang, hingga komunitas adat terpencil.
Kampus: Lulusan PMI Siap Terjun ke Lapangan
Sementara itu, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah UIN Salatiga, Roviin, menilai bahwa kurikulum PMI telah selaras dengan kebutuhan SDM di bidang kesejahteraan sosial.
Ia menegaskan, ilmu pemberdayaan masyarakat yang dipelajari mahasiswa bukan sekadar teori, melainkan keterampilan utama yang dibutuhkan di dunia kerja.
“Mahasiswa kami memiliki bekal untuk menjadi pendamping sosial hingga analis kebijakan pengentasan kemiskinan,” ujarnya.
Siapkan SDM Kesos Profesional
Melalui kegiatan KKL ini, mahasiswa PMI diharapkan mampu memetakan minat dan spesialisasi karier sejak dini.
Dengan begitu, lulusan dapat tampil sebagai SDM kesejahteraan sosial yang profesional, unggul, dan siap berkontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. (Rin)







