FOLKSTIME.ID – Di sudut tenang Kota Semarang, tepatnya di Dukuh Kaliancar, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, terdapat sebuah tempat yang tak pernah benar-benar sepi dari langkah peziarah.
Di antara rimbunnya pepohonan dan jalan yang jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, air terus mengalir dari sebuah sendang yang dipercaya membawa keberkahan bagi siapa saja yang datang dengan niat baik.
Namanya Sendang Kaliancar.
Bagi warga sekitar, tempat itu bukan sekadar sumber mata air biasa. Ada cerita turun-temurun, keyakinan, hingga harapan hidup yang menggantung di setiap tetes airnya. Sebagian orang datang untuk berdoa meminta kesehatan, sebagian lainnya berharap dipertemukan jodoh, bahkan ada yang sekadar mencari ketenangan batin.
Lurah Podorejo, Yusdi Dwiyantoro menuturkan, Sendang Kaliancar memiliki dua mata air yang diyakini masyarakat mempunyai makna berbeda.
“Ada dua mata air, yaitu Sendang Pengasihan dan Sendang Penguripan. Yang satu dipercaya untuk pengasihan atau jodoh, sedangkan penguripan lebih kepada kesehatan, umur panjang, dan awet muda. Itu semua kembali pada keyakinan masing-masing,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Kepercayaan itu hidup dari cerita mulut ke mulut. Tak ada promosi besar-besaran, tak ada papan wisata megah, namun nama Sendang Kaliancar justru terus menggema hingga berbagai daerah di Jawa Tengah.
Terutama pada malam Jum’at Kliwon, kawasan itu dipenuhi pengunjung dari luar kota yang datang membawa doa dan harapan.
Meski dikenal luas, Sendang Kaliancar justru dijaga agar tetap sederhana. Tidak ada tiket masuk, tidak ada pungutan retribusi, bahkan warga sekitar sepakat tempat itu tidak boleh dikomersialkan.
“Di sana hanya ada kotak amal seikhlasnya untuk kebersihan. Tempat itu memang tidak boleh dikomersilkan,” kata Kasi Pemerintahan dan Trantib, Teguh Agus Setyawan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pernah ada pihak yang mencoba mengambil air Sendang Kaliancar menggunakan mesin pompa untuk kepentingan usaha. Namun usaha itu disebut selalu gagal.
“Katanya dulu pernah ada yang mencoba menyedot air untuk dikomersilkan, tapi mesinnya rusak terus. Warga percaya air itu tidak boleh diperjualbelikan,” lanjutnya.
Di balik kisah-kisah mistis yang menyelimuti sendang tersebut, ada fakta yang membuat warga semakin yakin menjaga keberadaannya. Air dari Sendang Kaliancar disebut tidak pernah benar-benar mati, bahkan saat musim kemarau panjang.
“Kalau surut memang iya, tapi tidak pernah sampai kering,” ujar Teguh.
Airnya juga telah diuji laboratorium oleh DLH dan dinyatakan aman untuk kesehatan. Bagi masyarakat, perpaduan antara keyakinan dan fakta ilmiah itulah yang membuat Sendang Kaliancar semakin istimewa.
Kasi Pembangunan Kelurahan Podorejo, Suparjo mengatakan, pembangunan di kawasan sendang dilakukan sangat hati-hati agar tidak menghilangkan keaslian dan kesakralannya.
“Rencana yang dilakukan hanya untuk menjaga kebersihan mata air, seperti membuat talut supaya air hujan tidak bercampur dengan sumber utama,” jelasnya.
Fasilitas penunjang seperti toilet, pendopo, hingga aula terbuka juga telah tersedia. Pendopo itu sering digunakan masyarakat untuk berkegiatan maupun berkumpul bersama. Namun semuanya tetap dibuat sederhana tanpa mengubah karakter alami kawasan tersebut.
Ada pula cerita menarik yang masih diingat warga. Saat gempa besar Yogyakarta tahun 2006 silam, warna air sendang sempat berubah menjadi keruh berlumpur. Warga percaya ada hubungan aliran bawah tanah antara kawasan Kaliancar dengan wilayah Bantul.
Cerita-cerita semacam itu membuat Sendang Kaliancar bukan hanya tentang air, melainkan tentang hubungan manusia dengan alam, keyakinan, dan rasa hormat terhadap warisan leluhur.
Di tengah modernisasi kota yang terus bergerak cepat, Sendang Kaliancar tetap bertahan dalam kesunyian. Tidak menawarkan gemerlap wisata buatan, tetapi menghadirkan keteduhan yang justru dicari banyak orang.
Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya sumber mata air biasa. Namun bagi warga Dukuh Kaliancar, sendang tersebut adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan logika semata tentang harapan, doa, dan keyakinan yang terus mengalir seperti air yang tak pernah berhenti dari perut bumi.







