FOLKSTIME.ID – Elektrifikasi seluruh armada Trans Semarang belum akan ditetapkan sebagai target tanpa didahului kajian menyeluruh. Pemerintah Kota Semarang memastikan rencana peralihan bus bermesin diesel menuju bus listrik akan dihitung berdasarkan kemampuan teknis, kebutuhan operasional, serta dampaknya terhadap pengurangan emisi.
Rencana elektrifikasi armada Trans Semarang tersebut disiapkan sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kota Semarang mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar solar. Namun, target seluruh armada beralih ke energi listrik belum dipastikan karena kondisi armada yang ada masih harus diperhitungkan.
Saat ini, Trans Semarang telah mengoperasikan sekitar 280 bus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 130 unit masih menggunakan mesin diesel dengan usia operasional kurang dari tujuh tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan elektrifikasi seluruh armada Trans Semarang.
“Harus ada kajiannya. Saya jawab sekarang juga ngapusi kalau tidak sesuai target,” kata Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti seusai peluncuran bus listrik Trans Semarang dalam Upacara Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026 di Balai Kota Semarang, Rabu (23/9/2026).
Elektrifikasi Trans Semarang disebut tidak hanya berkaitan dengan penggantian kendaraan, tetapi juga harus memperhitungkan kesiapan operasional dan keberadaan armada diesel yang masih relatif muda. Karena itu, perubahan menuju transportasi berbasis energi listrik akan dilakukan secara bertahap.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk menekan emisi dari sektor transportasi di Kota Semarang. Penggunaan bus listrik dinilai menjadi salah satu bagian dari upaya untuk mengurangi kendaraan yang menghasilkan asap dari pembakaran bahan bakar solar.
“Kami harus mengatakan perlahan-lahan selamat tinggal cumi-cumi darat,” ujar Agustina.
Istilah “cumi-cumi darat” digunakan untuk menyebut kendaraan yang mengeluarkan asap hitam dari knalpot. Kondisi tersebut masih dapat ditemukan pada kendaraan bermesin diesel, sehingga masyarakat diminta ikut memberikan informasi apabila menemukan armada Trans Semarang yang menghasilkan emisi berlebihan.
“Saya minta masukan masyarakat yang masih mengeluarkan cumi-cumi darat, laporkan saja kepada Pemerintah Kota Semarang,” katanya.
Laporan masyarakat mengenai armada yang diduga mengeluarkan asap hitam akan ditindaklanjuti oleh Dinas Perhubungan Kota Semarang. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi kendaraan sekaligus menjaga kualitas layanan transportasi umum.
Menurut Agustina, pengurangan bus diesel tidak harus dilakukan sekaligus. Peralihan armada akan dapat dilakukan secara bertahap seiring dengan bertambahnya penggunaan bus listrik dan berakhirnya masa operasional bus bermesin diesel.
“Kalau menghilangkan mungkin itu terlalu ekstrem ya. Mengurangi. Jika satu bus akan berkurang, satu bus akan berkurang terus-menerus, nanti lama-lama akan selesai,” kata politikus PDI Perjuangan tersebut.
Dengan pendekatan bertahap itu, elektrifikasi Trans Semarang diarahkan untuk tetap mempertahankan keberlangsungan layanan transportasi umum. Armada yang masih layak operasi tidak serta-merta dihentikan, sementara penambahan bus listrik dapat dilakukan berdasarkan hasil kajian dan kebutuhan di lapangan.
Peluncuran bus listrik Trans Semarang pada momentum Hari Perhubungan Nasional 2026 menjadi bagian dari langkah awal menuju transportasi perkotaan yang lebih rendah emisi. Pemerintah Kota Semarang masih akan menentukan tahapan berikutnya setelah kajian terhadap kebutuhan dan kemampuan elektrifikasi armada diselesaikan.(tya)













