
MPLS Sekolah Rakyat Kota Semarang Dimulai, Bebas Perpeloncoan dengan CCTV 24 Jam
FOLKSTIME.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Kota Semarang resmi dimulai dengan jaminan pelaksanaan yang bebas perpeloncoan, bebas kekerasan, serta diawasi selama 24 jam melalui sistem pengawasan terpadu di lingkungan asrama.
Pelaksanaan MPLS Sekolah Rakyat Kota Semarang dirancang tidak hanya sebagai pengenalan lingkungan belajar, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter, kedisiplinan, dan kebiasaan positif peserta didik. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan sepanjang Juli dengan pola pendidikan berasrama yang mengedepankan perlindungan anak.
Sebanyak 270 siswa yang terdiri atas 90 peserta didik jenjang SD, 90 SMP, dan 90 SMA telah dipastikan mengikuti MPLS Sekolah Rakyat Kota Semarang. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh siswa diwajibkan masuk asrama lebih awal untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari tahapan awal pendidikan.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Agus Junaidi, menegaskan bahwa seluruh kegiatan MPLS dilaksanakan tanpa praktik perpeloncoan maupun kekerasan.
“Konsep MPLS berlangsung sepanjang Juli. Kegiatannya bukan hanya pembelajaran, tetapi pengenalan lingkungan sekolah, pembentukan karakter, tanpa kekerasan dan tanpa perpeloncoan. Anak-anak dikenalkan dengan lingkungan, guru, kemudian dibiasakan patuh kepada orang tua dan guru,” kata Agus.
Ia menjelaskan seluruh siswa telah berada di lingkungan asrama sejak sehari sebelum pembukaan MPLS guna menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Mereka sudah masuk sejak kemarin karena terlebih dahulu menjalani cek kesehatan. Alhamdulillah hasilnya baik semua,” ujarnya.
Menurut Agus, kesiapan peserta didik angkatan pertama Sekolah Rakyat tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan sekolah rintisan sebelumnya.
“Secara mental, moral, maupun karakter, anak-anak yang diterima tahun ini lebih baik dibanding sekolah rintisan sebelumnya,” ungkapnya.
Pengawasan Asrama Diperketat
Sistem pendidikan berasrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat Kota Semarang dipastikan tetap memberikan ruang bagi orang tua untuk memantau perkembangan anak. Orang tua diperbolehkan menjenguk setiap hari di luar jam belajar maupun saat waktu istirahat.
“Silakan datang setiap hari pada waktu istirahat atau di luar jam belajar. Sudah ada wali kelas, wali asrama, dan guru pendamping yang selalu mendampingi anak-anak,” jelas Agus.
Ia menilai keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam proses pendidikan karena perkembangan peserta didik dapat dipantau secara langsung.
“Orang tua bisa melihat tumbuh kembang anak setiap hari. Harapannya mereka tahu bahwa anak-anak berada dalam kondisi baik, bahkan kebiasaan, disiplin, dan moralnya akan semakin tertata,” katanya.
Untuk menjamin keamanan, berbagai perangkat pengawasan telah disiapkan selama siswa tinggal di asrama.
“Di sini ada CCTV, guru pendamping, wali asrama, tenaga pendidik, dan petugas keamanan. Jadi orang tua tidak perlu was-was,” tegasnya.
Pembinaan Karakter dan Disiplin
Pola kehidupan siswa di Sekolah Rakyat disusun menyerupai pendidikan berasrama. Aktivitas harian dimulai sejak dini hari dengan salat Subuh berjamaah, apel pagi, sarapan bersama, olahraga, hingga kegiatan belajar mengajar sampai sore.
Pembinaan kedisiplinan juga disiapkan secara bertahap sesuai kebutuhan sekolah.
“Kalau untuk pembinaan disiplin nanti sifatnya tentatif. Bisa saja melibatkan TNI atau Polri karena memang lebih sesuai untuk pendidikan kedisiplinan,” ujar Agus.
Asrama putra dan putri dipisahkan sebagai langkah menjaga keamanan, kenyamanan, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi seluruh peserta didik.
Kuota Siswa Terpenuhi
Dinas Sosial Kota Semarang memastikan seluruh kuota Sekolah Rakyat berhasil dipenuhi setelah dilakukan penjangkauan ulang kepada masyarakat melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK).
Selain 270 siswa utama, disiapkan pula sembilan peserta cadangan jenjang SD dan dua peserta cadangan SMP, sementara jenjang SMA telah terisi penuh.
“Awalnya memang yang SD masih kurang. Setelah kami menggerakkan pendamping PKH, PSM, dan TKSK melakukan sosialisasi serta penjangkauan langsung ke masyarakat, akhirnya kuota terpenuhi,” jelas Agus.
Ia mengungkapkan keraguan sebagian orang tua terhadap sistem asrama berhasil diatasi melalui sosialisasi yang dilakukan secara intensif.
“Banyak yang awalnya khawatir soal asrama. Setelah kami edukasi dan sosialisasi lebih intensif, akhirnya mereka memahami bahwa kondisinya tidak seperti yang dibayangkan,” katanya.
Pembangunan Sekolah Hampir Rampung
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Semarang Handi Priyanto mengatakan seluruh kuota siswa akhirnya dapat dipenuhi setelah koordinasi dilakukan hingga tingkat kecamatan.
“Awalnya memang masih kurang. Setelah kami kumpulkan camat, Dinas Sosial, dan petugas lapangan, Alhamdulillah saat pembukaan seluruh kuota terpenuhi. Bahkan ada peserta cadangan apabila nanti ada yang mengundurkan diri,” ujar Handi.
Ia menyebut pembangunan fisik Sekolah Rakyat telah mencapai sekitar 99 persen dan hanya menyisakan penyelesaian pekerjaan minor.
“Kementerian PUPR menyampaikan target tanggal 25 Juli seluruh pekerjaan sudah bersih dan selesai,” katanya.
Selama masa transisi, tenaga pengajar SD dan SMP berasal dari guru yang diperbantukan Pemerintah Kota Semarang, sedangkan guru SMA berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hingga rekrutmen guru khusus Sekolah Rakyat dilaksanakan pada September mendatang.
Handi juga memastikan sistem keamanan diperkuat melalui penambahan personel keamanan, pemasangan CCTV di seluruh area asrama, serta pendampingan oleh guru dan wali asuh.
“Kami siapkan tenaga keamanan, kemudian setiap asrama dipasang CCTV sehingga keamanan siswa, terutama siswi, bisa terjaga,” katanya.
“Kami memperketat pengawasan. Ada guru, ada wali asuh, kemudian CCTV yang aktif selama 24 jam sehingga keselamatan dan kenyamanan anak-anak tetap terjaga,” tandas Handi.
Menurutnya, kehadiran Sekolah Rakyat di Kota Semarang diharapkan mampu memperluas akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sehingga memperoleh kesempatan belajar yang setara dengan sekolah lainnya.
“Harapan kami Sekolah Rakyat berjalan dengan baik, setara dengan sekolah lainnya, sehingga anak-anak yang sebelumnya belum mendapatkan kesempatan sekolah kini bisa memperoleh pendidikan gratis dan memiliki masa depan yang lebih baik,” tuturnya.(tya)
