Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang memetakan 135 hidran, tandon, dan sumber air melalui aplikasi Sigap Hidran.

Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang memetakan 135 hidran, tandon, dan sumber air melalui aplikasi Sigap Hidran.

FOLKSTIME.ID – Hidran dan sumber air pemadam kebakaran di Kota Semarang mulai dipetakan melalui aplikasi Sigap Hidran, dengan sebanyak 135 titik telah dinyatakan aktif sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan kebakaran sekaligus mengidentifikasi aset yang selama ini tersebar di berbagai instansi, kawasan industri, hingga lingkungan perumahan.

Pemetaan hidran tersebut dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang dengan mengintegrasikan data sumber air pemadam yang sebelumnya berada di bawah pengelolaan berbagai pemangku kepentingan. Selain hidran, pendataan juga mencakup tandon, sumur, serta sumber air lain yang dapat dimanfaatkan saat terjadi kebakaran. Langkah tersebut sekaligus digunakan untuk memetakan wilayah yang masih mengalami kekurangan sumber air atau blank spot.

Dari hasil inventarisasi sementara, sebanyak 135 titik telah dipastikan siap digunakan, sedangkan sekitar 300 titik yang terdata masih memerlukan proses verifikasi karena ditemukan berbagai persoalan teknis, administrasi, hingga keberadaan aset yang belum dapat dipastikan. Pemetaan hidran ini juga menjadi dasar penyusunan kebijakan penanggulangan kebakaran dan pembangunan infrastruktur sumber air di Kota Semarang.

Kepala Seksi Inspeksi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang sekaligus pencetus aplikasi Sigap Hidran, Budhi Tri Nasril, mengatakan seluruh data sumber air pemadam kini sedang dihimpun dalam satu sistem agar lebih mudah dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran.

“Kami melihat beberapa catatan terkait aset yang selama ini masih berserak. Ada yang di BUMD, ada yang di swasta, kawasan industri, kemudian ada proses penyerahan PSU. Semua itu langsung kami tarik. Begitu ada rapat dan diketahui ada titik-titik sumur yang memungkinkan digunakan untuk penyedotan air tanpa hambatan, kami langsung datang untuk mengecek,” ujarnya di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Kamis (16/7/2026).

Menurut Budhi, proses pendataan juga dilakukan terhadap kawasan perumahan yang sedang menjalani proses penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) kepada Pemerintah Kota Semarang sehingga seluruh hidran yang berada di kawasan tersebut dapat langsung dimasukkan ke dalam aplikasi.

“Perumahan yang sekarang proses penyerahan ke pemerintah kota langsung masuk datanya ke kami, termasuk hidrannya. Contohnya di BSP sudah cukup banyak hidran yang berhasil kami masukkan. Data sementara sekitar 135 titik yang terdiri atas kawasan industri, kawasan perumahan, tandon, hingga sumur,” katanya.

Temuan di lapangan menunjukkan masih banyak sumber air pemadam peninggalan lama yang belum dapat dimanfaatkan karena aksesnya tertutup maupun mengalami berbagai hambatan. Kondisi tersebut ditemukan setelah puluhan titik sumur lama diperiksa langsung oleh petugas.

“Yang jadi masalah ada sumur-sumur peninggalan lama. Dari sekitar 30 titik yang kami data, setelah dicek ternyata obstacle-nya cukup banyak. Yang memungkinkan baru di kawasan Kota Lama. Sumur pemadam zaman dulu itu mau tidak mau harus dibuka kembali,” ungkapnya.

Melalui aplikasi Sigap Hidran, setiap hidran aktif akan langsung ditampilkan dalam sistem, sedangkan titik yang masih bermasalah akan diverifikasi terlebih dahulu sebelum dilaporkan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

“Yang aktif pasti muncul. Untuk yang belum aktif nanti kami verifikasi dulu, kemudian kami sampaikan kondisi kerusakan maupun obstacle-nya. Persoalan ini harus diselesaikan bersama masyarakat,” jelas Budhi.

Sosialisasi kepada masyarakat juga mulai dilakukan di sejumlah kelurahan agar akses menuju sumber air pemadam tetap terjaga, terutama terhadap kolam maupun sumur peninggalan lama yang selama ini tertutup.

“Di beberapa kelurahan wilayah tengah masih ada kolam peninggalan Belanda yang dimanfaatkan masyarakat. Kalau terjadi kebakaran bagaimana petugas bisa mengaksesnya. Karena itu kami sudah mulai turun melakukan sosialisasi ke beberapa kelurahan seperti Candi, Jagalan, dan Karangturi,” katanya.

Apabila suatu wilayah belum memiliki sumber air yang memadai, pembangunan tandon akan diusulkan sebagai solusi jangka panjang untuk mendukung proses pemadaman.

“Kalau memang tidak memungkinkan, kami usulkan pembangunan tandon air. Jadi wilayah yang belum memiliki sumber air tetap bisa mendapatkan fasilitas penunjang pemadaman,” ujarnya.

Persoalan lain juga ditemukan di wilayah Semarang Timur dan Tembalang. Sejumlah hidran lama dilaporkan hilang atau belum diketahui keberadaannya sehingga proses penelusuran masih dilakukan.

“Kami prihatin. Di Tembalang ternyata ada hidran lama yang keberadaannya belum diketahui. Bahkan di Telogosari kami menerima data ada 21 hidran, tetapi yang berhasil ditemukan hanya satu, sisanya hilang. Sekarang sedang kami telusuri keberadaannya,” ungkap Budhi.

Ia menilai penyelesaian persoalan tersebut memerlukan dukungan pemerintah wilayah, kelurahan, hingga masyarakat agar seluruh aset hidran dapat kembali teridentifikasi.

“Kami harus bekerja bersama teman-teman wilayah dan kelurahan. Alhamdulillah sekarang banyak yang membantu menginformasikan titik-titik hidran yang ada sehingga proses pendataan terus berjalan,” katanya.

Damkar juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang memiliki sumur pribadi untuk didaftarkan sebagai sumber air darurat apabila memenuhi persyaratan teknis, termasuk akses kendaraan pemadam dan ketersediaan air selama 24 jam.

“Kalau ada masyarakat yang memiliki sumur pribadi dan bersedia dimasukkan ke sistem, tentu kami tampung dengan persyaratan tertentu, seperti akses jalan dan jaminan bahwa sumber air bisa digunakan selama 24 jam,” ujarnya.

Budhi menjelaskan kebutuhan hidran di kawasan perkotaan idealnya tersedia setiap 100 meter sesuai ketentuan teknis agar proses pemadaman dapat dilakukan secara lebih efektif.

“Idealnya memang setiap 100 meter ada hidran sesuai panjang selang berdasarkan Permen PU. Memang tidak bisa langsung terpenuhi semuanya, tetapi jangan sampai terjadi seperti kebakaran permukiman besar yang sulit mendapatkan sumber air,” katanya.

Menurutnya, pemetaan digital melalui aplikasi Sigap Hidran akan menjadi acuan dalam mengidentifikasi seluruh wilayah blank spot sehingga pembangunan infrastruktur sumber air dapat dilakukan secara lebih terarah.

“Dengan peta ini, seluruh blank spot yang belum memiliki sumber air bisa diketahui. Sistem ini sangat membantu penyusunan kebijakan ke depan, baik dari sisi pemadaman maupun penelitian,” tuturnya.

Saat ini aplikasi Sigap Hidran belum dilengkapi fitur pemantauan tekanan air secara otomatis sehingga pengukuran masih dilakukan secara manual oleh petugas di lapangan.

“Secara teknologi sebenarnya sangat memungkinkan, tetapi saat ini tekanan air masih dihitung manual. Yang penting sekarang seluruh sumber air lebih dulu terpetakan,” kata Budhi.

Ia menambahkan, dari seluruh titik yang telah masuk ke dalam sistem, baru sekitar 10 hidran yang tercatat sebagai aset Damkar karena proses inventarisasi dan penyerahan aset masih berlangsung.

“Sementara yang tercatat sebagai aset Damkar baru 10 titik karena proses inventarisasi dan penyerahan PSU masih berjalan. Harapannya ke depan aset-aset itu bisa dikelola lebih baik sehingga seluruh hidran yang ada benar-benar siap digunakan saat terjadi kebakaran,” pungkasnya.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Pemerintah Kota Semarang memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di TPA Jatibarang menjelang musim kemarau dan ancaman El Nino. Satgas gabungan yang melibatkan berbagai OPD, TNI-Polri, serta pemerintah wilayah disiagakan untuk melakukan patroli, pengawasan, dan pendinginan di titik-titik rawan. Sekda Kota Semarang Handi Priyanto menegaskan seluruh pihak harus terlibat dalam upaya pencegahan. Pemeriksaan di pintu masuk TPA juga diperketat untuk memastikan tidak ada rokok maupun korek api yang dibawa masuk. Selain itu, Damkar Kota Semarang mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan karena dapat memicu kebakaran saat musim kemarau. #semarang #jateng #kebakaran #damkar #semaranghitshitz

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *