Empat ruang kelas SDN Pendrikan Lor 02 Semarang mengalami kerusakan berat akibat rayap. Sebanyak 298 siswa terpaksa belajar berpindah tempat

Empat ruang kelas SDN Pendrikan Lor 02 Semarang mengalami kerusakan berat akibat rayap. Sebanyak 298 siswa terpaksa belajar berpindah tempat

FOLKSTIME.ID – Keselamatan ratusan siswa SD Negeri Pendrikan Lor 02 Semarang kini menjadi perhatian serius. Empat ruangan yang setiap hari digunakan untuk kegiatan belajar mengajar mengalami kerusakan berat akibat dimakan rayap dan faktor usia bangunan. Kondisi tersebut memaksa pihak sekolah memindahkan proses pembelajaran secara bergantian demi menghindari risiko bangunan roboh.

Bangunan yang berdiri sejak 1950 itu masih digunakan oleh 298 siswa, meski sebagian konstruksi, terutama kusen dan rangka atap, telah mengalami pelapukan parah. Pihak sekolah berharap pemerintah segera melakukan renovasi menyeluruh agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan aman.

Empat Ruang Belajar Masuk Kategori Rusak Berat

Kerusakan paling parah terjadi di ruang kelas 2A, kelas 2B, perpustakaan, dan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Seluruh ruangan tersebut masih digunakan karena keterbatasan ruang belajar, meski kondisinya dinilai membahayakan keselamatan peserta didik.

Guru SD Negeri Pendrikan Lor 02 Semarang, Ratna Armina, mengatakan kerusakan bangunan telah berlangsung cukup lama dan belum pernah mendapat renovasi besar.

“Ruang kelas 2A, kelas 2B, kemudian perpustakaan. Rencana dulu memang mau direnovasi, tetapi tidak jadi. Sudah sekitar 15 tahun belum pernah tersentuh renovasi. Banyak kayunya keropos. Terutama kelas 2B, bagian atasnya sangat membahayakan anak-anak,” ujar Ratna Armina kepada diswayjateng.id, Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, kerusakan tidak lagi bersifat ringan karena telah merambah ke bagian struktur bangunan, terutama rangka atap yang mulai rapuh.

Dana BOS Tak Mampu Biayai Renovasi Bangunan

Ratna menjelaskan sekolah tidak memiliki kewenangan menggunakan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membangun atau merehabilitasi gedung yang mengalami kerusakan berat.

“Kalau dana BOS tidak bisa digunakan untuk pembangunan seperti itu. Paling hanya pemeliharaan ringan. Kami sudah mengajukan ke dinas, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat sekolah hanya mampu melakukan perbaikan darurat agar aktivitas belajar mengajar tetap berjalan.

Bangunan Berusia Lebih dari Tujuh Dekade

Sebagian besar gedung SD Negeri Pendrikan Lor 02 merupakan bangunan lama yang telah berdiri sejak tahun 1950. Meski beberapa ruang kelas telah direnovasi sekitar dua hingga tiga tahun lalu, empat ruangan yang kini mengalami kerusakan berat belum pernah mendapatkan perbaikan menyeluruh.

Bangunan bertingkat yang kini digunakan sebagai ruang kepala sekolah merupakan gedung baru hasil pembangunan beberapa tahun lalu. Namun ruang kelas 2, perpustakaan, dan UKS masih menggunakan konstruksi lama.

Ratna yang telah mengabdi hampir 40 tahun berharap para siswa segera memperoleh fasilitas belajar yang lebih aman.

“Harapannya sekolah ini segera mendapat perhatian sehingga mempunyai bangunan yang layak. Anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan aman,” katanya.

Kepala Sekolah: Rayap Menggerogoti Hampir Seluruh Kusen

Kepala SD Negeri Pendrikan Lor 02 Semarang, Dwi Hartiningsih, membenarkan kondisi bangunan semakin memprihatinkan akibat rayap yang menggerogoti hampir seluruh kusen kayu.

“Banyak kerusakannya. Terutama kelas 2A, kelas 2B, UKS, serta perpustakaan. Kayu kusennya hampir habis dimakan rayap. Atap-atapnya juga sangat berbahaya bagi siswa-siswa kami,” ujar Dwi Hartiningsih.

Akibat kondisi tersebut, pihak sekolah terpaksa mengatur ulang lokasi belajar agar para siswa tidak berada di ruangan yang berisiko.

Siswa Terpaksa Belajar di Musala dan Area Terbuka

Proses pembelajaran kini tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Saat kondisi bangunan dinilai membahayakan, siswa dipindahkan ke musala maupun area terbuka di lingkungan sekolah.

Perpindahan dilakukan secara bergantian agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

“Saya ungsikan anak-anak ke kelas yang lain yang lebih aman. Kadang ke musala, kadang belajar di luar kelas. Yang penting masih di lingkungan sekolah dan anak-anak tetap bisa belajar,” jelas Dwi.

Genting Pernah Roboh, Perbaikan Hanya Bersifat Darurat

Kondisi bangunan sempat memburuk ketika sebagian genting ruang kelas roboh pada Desember lalu akibat rangka atap yang telah rapuh.

Perbaikan darurat dilakukan menggunakan dana BOS, namun hanya mampu mengganti sebagian kecil kerusakan.

“Kemarin sempat roboh gentingnya. Saya perbaiki memakai dana BOS. Alhamdulillah bisa diperbaiki sebagian, tetapi untuk memperbaiki semuanya dana BOS tidak mampu,” ungkapnya.

Menurut pihak sekolah, kerusakan yang terjadi membutuhkan rehabilitasi total agar bangunan kembali aman digunakan.

Musim Hujan Menjadi Ancaman Baru

Meski saat ini masih musim kemarau, kekhawatiran pihak sekolah belum berkurang. Bangunan yang telah lapuk diperkirakan akan semakin rentan ketika memasuki musim hujan.

“Saya was-was. Sekarang masih musim kemarau saja rayap berkembang. Nanti kalau musim hujan saya lebih takut lagi. Takutnya roboh sehingga anak-anak harus saya alihkan lagi,” kata Dwi.

Hampir 300 Siswa Tetap Menjalani Pembelajaran

Di tengah keterbatasan fasilitas, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung normal. Sebanyak 298 siswa masih mengikuti pembelajaran setiap hari, termasuk pelaksanaan berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, keselamatan peserta didik tetap menjadi perhatian utama pihak sekolah.

Sekolah Berharap Renovasi Segera Direalisasikan

Pihak sekolah berharap Pemerintah Kota Semarang melalui instansi terkait dapat segera merealisasikan renovasi menyeluruh terhadap bangunan yang telah rusak berat.

“Harapan saya, semoga Bapak Dinas dan semua pihak yang berkaitan bisa membangunkan sekolah saya menjadi sekolah yang lebih bagus,” harap Dwi.

Harapan tersebut menjadi suara ratusan siswa yang setiap hari menuntut ilmu di tengah bangunan yang terus dimakan usia. Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang yang seharusnya memberikan rasa aman selama proses pendidikan berlangsung.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Zulhas mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Kampung Nelayan Merah Putih masih menghadapi sejumlah kendala. Meski begitu, pemerintah menargetkan separuh persoalan selesai dalam satu bulan. “Kasih makan 80 juta sampai 82 juta orang itu tidak mudah. Ada masalah iya, tapi kami selesaikan,” ujar Menko Pangan. Pemerintah juga menargetkan pembentukan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih, namun hingga kini baru terealisasi sekitar 30–35 ribu koperasi. Di sisi lain, Zulhas memastikan stok pangan nasional tetap aman menghadapi musim kemarau. “Pangan aman, stok beras banyak, ikan banyak, telur banyak, ayam banyak,” tegasnya. Selengkapnya di Folkstime.id #folkstime #mbg #zulhas #kopdes #prabowo

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *