
Minyak jelantah yang selama ini menjadi limbah rumah tangga kini diubah menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomi melalui program IMP UNDIP Mengabdi 2026.
FOLKSTIME.ID – Minyak jelantah di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Pemalang, berhasil diolah menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomi melalui program pendampingan Ikatan Mahasiswa Pemalang (IMP) Universitas Diponegoro (Undip) Mengabdi 2026 yang ditujukan untuk memperkuat keterampilan wirausaha keluarga sekaligus mengurangi limbah rumah tangga.
Pelatihan bertajuk Oil Waste to Candle: Pembuatan Lilin Aromaterapi Ramah Lingkungan tersebut diselenggarakan di Aula Kelurahan Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Minggu (12/7/2026), dengan melibatkan ibu-ibu PKK RT 01 dan RT 02 RW 05 sebagai peserta. Melalui kegiatan tersebut, minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah dapur diperkenalkan sebagai bahan baku produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Keterampilan mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi diberikan melalui rangkaian edukasi mengenai dampak pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas secara sembarangan, dilanjutkan dengan praktik pembuatan produk yang berpotensi dikembangkan sebagai usaha mikro berbasis rumah tangga.
“Melalui program ini, kami berupaya memberikan edukasi sekaligus pelatihan keterampilan kepada ibu-ibu agar mampu mengubah limbah dapur tersebut menjadi lilin aromaterapi yang ramah lingkungan dan memiliki nilai jual,” ujar dosen pembimbing IMP Undip Mengabdi 2026, Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng.
Menurut Fahmi Arifan, kegiatan tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kepedulian terhadap pengelolaan limbah rumah tangga, tetapi juga untuk membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Potensi ekonomi dari minyak jelantah dinilai dapat dimanfaatkan dengan modal yang relatif terjangkau serta bahan baku yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Selama pelatihan, peserta dibimbing mulai dari proses penyaringan minyak jelantah, pencampuran bahan pengeras, penambahan pewangi dan pewarna, hingga proses pencetakan serta pengemasan lilin aromaterapi agar siap dipasarkan. Seluruh tahapan dilakukan secara langsung agar peserta dapat memahami teknik produksi secara menyeluruh.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif karena setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mengembangkan variasi aroma dan warna sesuai kreativitas masing-masing. Berbagai ide produk juga didiskusikan sebagai bekal dalam membangun usaha rumahan yang memiliki daya saing di pasaran.
Pendampingan yang diberikan mahasiswa IMP Universitas Diponegoro juga diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam memulai usaha skala keluarga. Produk lilin aromaterapi dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu produk UMKM berbasis ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah rumah tangga.
Keberhasilan peserta menghasilkan lilin aromaterapi selama pelatihan menunjukkan bahwa inovasi dapat diwujudkan melalui pemanfaatan limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan. Nilai tambah ekonomi sekaligus manfaat lingkungan menjadi dua aspek yang diharapkan dapat terus dikembangkan setelah kegiatan berakhir.
Program IMP Undip Mengabdi 2026 tersebut juga menjadi bagian dari implementasi pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi keluarga, serta peningkatan kesadaran terhadap pengelolaan limbah berkelanjutan. Melalui pendampingan tersebut, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan minyak jelantah sebagai produk bernilai ekonomi sekaligus berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.(mus)
