
Riset UNDIP mengubah kulit pisang dan tongkol jagung menjadi CMC alami untuk penstabil es krim. Inovasi ini membuka peluang industri hijau dan meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian.
FOLKSTIME.ID – Limbah kulit pisang dan tongkol jagung yang selama ini banyak terbuang berhasil diolah menjadi Carboxymethyl Cellulose (CMC) alami melalui riset Universitas Diponegoro (UNDIP). Inovasi tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan tambahan pangan impor sekaligus membuka peluang lahirnya industri hijau berbasis limbah pertanian di Jawa Tengah.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa biomassa pertanian yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi dapat diubah menjadi bahan penstabil pangan berkualitas. Selain mendukung konsep ekonomi sirkular, inovasi ini juga berpotensi meningkatkan nilai tambah hasil pertanian serta memperkuat hilirisasi riset perguruan tinggi.
Limbah Pertanian Disulap Menjadi Bahan Baku Industri Pangan
Peneliti Universitas Diponegoro, Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng., mengatakan Indonesia memiliki sumber biomassa pertanian yang sangat melimpah, namun pemanfaatannya masih belum optimal.
“Kulit pisang kepok dan tongkol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebenarnya memiliki kandungan selulosa yang dapat diolah menjadi CMC alami berkualitas pangan. Ini bukan sekadar inovasi produk, tetapi bagian dari upaya menciptakan ekonomi hijau dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian,” kata Fahmi.
Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi besar sebagai pemasok bahan baku karena menjadi salah satu sentra produksi jagung dan pisang nasional, seperti di Kabupaten Grobogan, Pati, Boyolali, Kendal, serta sejumlah daerah lainnya.
Selama ini tongkol jagung umumnya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau kompos, sedangkan kulit pisang lebih banyak berakhir sebagai limbah organik.
Melalui proses ekstraksi dan modifikasi teknologi, kedua limbah tersebut berhasil diolah menjadi CMC alami yang berfungsi sebagai bahan penstabil pada berbagai produk pangan, termasuk es krim.
Tingkatkan Kualitas Es Krim dan Tekan Ketergantungan Impor
Hasil pengujian menunjukkan CMC alami yang dikembangkan mampu meningkatkan kualitas produk pangan.
“Hasil penelitian menunjukkan CMC alami ini mampu menghasilkan tekstur es krim yang lebih lembut, memperlambat pelelehan, dan meningkatkan kualitas produk. Formulasi terbaik diperoleh dengan penggunaan 1,5 gram CMC dan waktu ageing selama 75 menit,” jelas Fahmi.
Riset tersebut juga telah memperoleh perlindungan hukum melalui Sertifikat Paten Sederhana Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Nomor IDS000013702, sehingga memiliki peluang besar untuk dikembangkan pada skala industri.
Hilirisasi Riset Berpotensi Tingkatkan Pendapatan Petani dan UMKM
Fahmi menilai hilirisasi hasil penelitian dapat memberikan manfaat ekonomi yang luas, mulai dari petani hingga pelaku industri pangan.
“Jika rantai pasok limbah pertanian dapat dibangun dengan baik, maka masyarakat desa tidak hanya menjual hasil panen utama, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari limbah yang sebelumnya tidak bernilai,” ujarnya.
Selain membuka peluang usaha baru, penggunaan CMC alami diperkirakan mampu mengurangi biaya pembelian bahan penstabil bagi pelaku UMKM pangan sekitar 15 hingga 25 persen, sehingga daya saing produk olahan lokal dapat meningkat.
Dorong Industri Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal
Inovasi tersebut dinilai sejalan dengan arah pembangunan Jawa Tengah yang mendorong penguatan agroindustri, pengurangan limbah, serta pengembangan industri berbasis sumber daya lokal.
“Riset perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kami berharap inovasi ini dapat dihilirisasikan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat sehingga memberikan manfaat nyata bagi ekonomi daerah,” kata Fahmi.
Melimpahnya ketersediaan kulit pisang dan tongkol jagung di Jawa Tengah dinilai menjadi modal penting untuk membangun rantai industri baru yang ramah lingkungan. Selain menjadi solusi pengelolaan limbah pertanian, hasil riset UNDIP tersebut juga berpotensi memperkuat kemandirian industri pangan nasional melalui pemanfaatan bahan baku lokal yang bernilai tambah tinggi.(tya)
