FOLKSTIME.ID – BINUS University @Semarang akan membuka program pendidikan Artificial Intelligence (AI) pada tahun ajaran 2027. Berbeda dari sekadar membekali mahasiswa kemampuan menggunakan teknologi AI, program tersebut diarahkan untuk mencetak talenta yang mampu membangun dan mengembangkan sistem kecerdasan buatan.
Program AI BINUS Semarang direncanakan menerima sekitar 30 hingga 40 mahasiswa pada angkatan pertama. Mahasiswa akan mendapatkan pembelajaran yang mencakup mekanisme AI, pengolahan data, keamanan, hingga penerapan kecerdasan buatan dalam berbagai sektor.
Direktur Kampus BINUS @Semarang, Dr. Fredy Purnomo, mengatakan perkembangan AI membuat kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi khusus di bidang tersebut semakin meningkat.
Menurut dia, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi AI. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami sekaligus mengembangkan teknologi tersebut.
“Pergerakan AI ini sangat masif dan kuat. Di titik ini kita pada persimpangan, kita ingin hanya jadi pengguna atau pelaku industrinya,” kata Fredy.
BINUS Semarang Fokus Cetak Talenta Pengembang AI
Fredy mengatakan penggunaan AI dalam dunia pendidikan tidak harus dihindari. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, selama mahasiswa tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
Menurutnya, manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan gagasan, konsep, serta arah pengembangan teknologi.
“Boleh menggunakan AI, termasuk untuk tugas-tugas di kampus, tetapi tolong mikir dulu. Tolong kreatif dulu. Yang membuat adalah manusianya, setelah itu AI yang mengerjakan sistemnya,” ujarnya.
Pola pembelajaran tersebut dinilai semakin relevan seiring perubahan cara belajar di era teknologi. Kemampuan menghafal tidak lagi menjadi satu-satunya aspek yang dibutuhkan karena mahasiswa juga dituntut mampu melakukan penalaran, berpikir kritis, dan menghasilkan gagasan kreatif.
Fredy menggambarkan penggunaan AI seperti seorang desainer yang tetap harus memiliki konsep dan sketsa sebelum memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan hasil karyanya.
“Manusianya tetap sebagai pilotnya. AI membantu mengerjakan sistemnya,” katanya.
Jurusan AI BINUS Semarang Dibuka 2027
Program AI BINUS University @Semarang dijadwalkan mulai menerima mahasiswa pada tahun ajaran 2027. Kapasitas awal diperkirakan sekitar 30 hingga 40 mahasiswa.
Kesiapan tenaga pengajar disebut bukan menjadi kendala dalam pembukaan program tersebut. BINUS telah memiliki dosen yang memiliki pengalaman mengajar maupun melakukan penelitian di bidang AI.
Fredy mengatakan AI bukan bidang baru dalam dunia akademik. Perkembangan teknologi komputasi dan meningkatnya jumlah data membuat penerapan AI saat ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.
“AI bukan sesuatu yang baru. Dari 25 tahun yang lalu saya sudah mengajar mata kuliah AI. Cuma saat itu masih di ranah teori karena teknologi komputasi dan data juga belum siap,” ujarnya.
Di BINUS University @Semarang, sejumlah dosen disebut telah memiliki kompetensi yang berkaitan dengan AI. Dosen dari lingkungan BINUS juga dapat mendukung kegiatan akademik lintas kampus.
“Di Semarang sendiri kita juga punya banyak dosen-dosen yang punya kompetensi pengajaran AI. Prof. Derwin dan tim dari Jakarta juga sering mengajar di Semarang,” kata Fredy.
Fredy menyebut program AI yang akan dibuka tersebut, berdasarkan pengetahuannya, menjadi program pendidikan AI pertama pada tingkat tersebut di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mahasiswa Didorong Jadi AI Engineer
Dekan School of Computer Science BINUS University, Derwin Suhartono, mengatakan pembukaan program AI juga diarahkan untuk menjawab perubahan kebutuhan industri teknologi.
Jika sebelumnya pendidikan teknologi banyak berorientasi pada pencetakan programmer, kini kebutuhan terhadap tenaga yang mampu mengembangkan sistem AI semakin mendapat perhatian.
“Kalau dulu kita mencetak programmer-programmer, sekarang kita mulai fokus mencetak AI engineer,” kata Derwin.
Menurut dia, kompetensi AI mahasiswa tidak hanya dibangun melalui teori. BINUS juga menyediakan fasilitas laboratorium yang dapat digunakan untuk melakukan eksplorasi, pengembangan, dan pengujian berbagai gagasan berbasis AI.
“Kita juga menyediakan lab dengan pengaturan yang sangat baik untuk dipakai dengan AI. Kalau kita mau AI tanpa lab, enggak relevan kalau kita kuliah di jurusan teknik tanpa lab. Lab kita sangat memadai,” ujarnya.
Mahasiswa juga akan didorong mulai mengembangkan gagasan sejak semester awal.
“Dari semester satu, semester dua kita sudah dorong punya ide apa yang nanti bisa dikembangkan,” kata Derwin.
Bukan Sekadar Menggunakan AI Generatif
Derwin menegaskan pembelajaran dalam program AI BINUS tidak diarahkan sekadar untuk mengajarkan mahasiswa menggunakan layanan AI generatif atau token pada platform tertentu.
Fokus pendidikan lebih diarahkan pada pemahaman mengenai bagaimana teknologi AI bekerja dan bagaimana mahasiswa dapat membangun serta mengembangkan sistem tersebut.
“Kalau kita bicara token, itu identik dengan kita menggunakan AI dan layanan-layanan tertentu. Jadi kita enggak akan berpikir sampai sana,” jelasnya.
Menurut Derwin, pemahaman mendasar terhadap teknologi menjadi penting agar pengguna tidak selamanya berada pada posisi sebagai konsumen AI.
“Kita buka jurusan ini untuk menegaskan bahwa kita enggak takut dengan perkembangan ini. Justru kita masuk sekalian di sana,” ujarnya.
Pemahaman tersebut juga mencakup bagaimana data diproses, bagaimana sistem AI bekerja, serta bagaimana aspek keamanan diterapkan.
“Kalau kita tidak mengerti AI bagaimana cara kerjanya, kita pasti akan terus-menerus menggunakan. Kita enggak paham bagaimana data itu diolah, kita enggak paham aspek keamanan atau security-nya bagaimana,” katanya.
Kualitas Data dan Hoaks Jadi Tantangan AI
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, kualitas data menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan.
Derwin menyoroti banyaknya informasi yang beredar di internet, termasuk informasi yang tidak benar atau hoaks. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan ketika data digital digunakan dalam proses pengembangan dan pelatihan sistem AI.
“Tantangannya memang sangat besar, yaitu volume data secara online yang kita pakai untuk melatih AI. Itu pasti terpengaruh,” ujarnya.
Karena itu, pendidikan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis. Mahasiswa juga perlu memahami sumber data, kualitas informasi, proses pengolahan data, serta aspek keamanan.
Dorong Inovasi AI dari Semarang
Pengembangan program AI BINUS University @Semarang juga diarahkan untuk mendorong lahirnya inovasi teknologi dari talenta lokal.
Fredy mengatakan kemampuan mengembangkan AI diharapkan dapat membuka peluang lahirnya produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha maupun masyarakat di Indonesia.
“Tujuan lebih lanjutnya lagi, kita ingin banyak inovasi AI. Kalau uang berputar di negara ini, ekonomi kita bertumbuh karena pelaku bisnisnya di sini dan orang yang membeli servis AI-nya juga di Indonesia,” tuturnya.
Dengan pembukaan program AI pada tahun ajaran 2027, BINUS University @Semarang menempatkan pendidikan kecerdasan buatan sebagai salah satu bagian dari persiapan menghadapi perubahan kebutuhan industri digital.
Angkatan pertama yang diproyeksikan berjumlah sekitar 30 hingga 40 mahasiswa akan mendapatkan kombinasi pembelajaran akademik, eksplorasi teknologi, fasilitas laboratorium, serta pengembangan ide sejak semester awal.













