FOLKSTIME.ID – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik di sektor transportasi publik.
Salah satunya melalui pengoperasian 27 bus listrik untuk melayani Koridor 1 Trans Semarang, rute Terminal Mangkang-Terminal Penggaron.
Direktur Utama VKTR, A. Ardiansyah Bakrie, mengatakan kehadiran bus listrik di Semarang bukan hanya berkaitan dengan penggantian kendaraan berbahan bakar konvensional menjadi kendaraan listrik.
“Bagi VKTR, kehadiran bus listrik di Semarang bukan sekadar mengganti kendaraan konvensional menjadi listrik, tetapi bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi publik yang lebih nyaman, bersih, dan inklusif,” kata Ardiansyah.
Menurutnya, karakteristik bus listrik memberikan sejumlah keunggulan untuk mendukung pengalaman masyarakat dalam menggunakan transportasi umum.
“Melalui armada yang lebih senyap, tanpa emisi gas buang langsung, serta berdesain low deck yang lebih aksesibel, kami ingin mendukung pengalaman masyarakat dalam menggunakan transportasi publik,” ujarnya.
Ardiansyah mengatakan penggunaan bus listrik juga menjadi bagian dari upaya VKTR mempercepat elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia, khususnya pada sektor transportasi publik.
“Pengoperasian bus listrik Trans Semarang merupakan bagian dari komitmen VKTR untuk mendukung pemerintah daerah menghadirkan solusi transportasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mempercepat elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia,” katanya.
Selain aspek kenyamanan dan aksesibilitas, penggunaan kendaraan listrik juga berkaitan dengan efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Menurut Ardiansyah, kendaraan listrik memiliki kebutuhan perawatan yang lebih sederhana dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal.
“Tidak adanya kebutuhan penggantian oli mesin dan sejumlah komponen mesin konvensional menjadi salah satu faktor yang mendukung efisiensi tersebut,” ujarnya.
Dengan karakteristik tersebut, manfaat kendaraan listrik tidak hanya dilihat dari biaya pengadaan, tetapi juga dari biaya perawatan dan operasional selama masa penggunaan kendaraan.
Sementara itu, 27 bus listrik yang disiapkan untuk Trans Semarang akan menjadi bagian dari tahap awal elektrifikasi transportasi publik di Kota Semarang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 unit digunakan untuk operasional dan dua unit lainnya disiapkan sebagai armada cadangan.
Pengoperasian bus listrik tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses peremajaan armada Trans Semarang. Saat ini, total armada Trans Semarang mencapai sekitar 283 unit.
Infrastruktur Halte Ikut Berubah
Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, mengatakan penggunaan bus listrik dengan desain low deck membuat infrastruktur halte harus menyesuaikan.
“Sepanjang Koridor 1 Mangkang-Penggaron, halte yang semula bentuk high deck di tengahnya kita renovasi, kita beri anak tangga. Kemudian ada beberapa halte yang memang sengaja kami bangun langsung sesuai tipe bus, low deck,” kata Haris, Kamis (24/9/2026).
Menurut Haris, sekitar 50 persen halte di Koridor 1 telah mengalami penyesuaian untuk mendukung operasional bus listrik.
Penyesuaian tersebut dilakukan agar jarak dan ketinggian antara lantai bus dengan akses halte lebih sesuai dengan karakteristik kendaraan low deck.
“Harapan kami dengan ketinggian yang terjangkau itu juga mempercepat proses mobilisasi penumpangnya, naik turunnya,” ujarnya.
Haris mengatakan rata-rata pengguna Trans Semarang mencapai sekitar 35.000 orang per hari. Sekitar 7.000 di antaranya merupakan lansia atau orang tua.
Namun, penggunaan bus low deck juga menghadirkan tantangan terhadap kondisi infrastruktur, terutama ketika terjadi hujan atau genangan.
“Yang namanya low deck ini riskan dengan yang namanya hujan atau banjir,” kata Haris.
Karena itu, Trans Semarang melakukan identifikasi terhadap titik-titik yang berpotensi mengalami banjir untuk menjadi perhatian dalam pengoperasian bus listrik.
Haris menambahkan, elektrifikasi seluruh armada Trans Semarang tidak dilakukan secara sekaligus.
Penggantian kendaraan akan mengikuti usia armada dan siklus peremajaan di masing-masing koridor.
“Targetnya di atas lima tahun kita harus listrik semua,” ujarnya.
Setelah Koridor 1, Trans Semarang mengusulkan elektrifikasi Koridor 5 rute PRPP-Meteseh pada 2027 dengan kebutuhan sekitar 18 unit bus.
Haris mengatakan proses elektrifikasi tersebut akan berjalan bertahap seiring dengan kesiapan armada dan infrastruktur pendukung.
Dengan 27 bus listrik yang mulai digunakan pada 2026, elektrifikasi Trans Semarang saat ini baru mencakup sekitar 9,5 persen dari total armada.
Proses peralihan menuju kendaraan listrik pun akan berjalan beriringan dengan peremajaan armada dan penyesuaian infrastruktur pada setiap koridor.(Rin)













