FOLKSTIME.ID – Jawa Tengah bukan wilayah yang sepenuhnya baru bagi Irjen Pol Roy Hardi Siahaan. Jauh sebelum ditunjuk sebagai Kapolda Jawa Tengah, perwira tinggi Polri tersebut pernah bertugas di Kota Semarang sebagai Kasat Reskrim Polrestabes Semarang.
Kini, pengalaman di bidang reserse itu kembali membawanya ke Jawa Tengah dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar. Roy Hardi dipercaya menggantikan Irjen Pol Ribut Hari Wibowo sebagai Kapolda Jateng.
Penunjukan tersebut sekaligus membawa rekam jejak panjang Roy dalam penanganan perkara kriminal dan pemberantasan narkotika, termasuk pengalaman mengejar buronan yang melarikan diri ke luar negeri.
Roy Hardi lahir di Medan, Sumatra Utara, 16 Februari 1970. Lulusan Akpol 1993 ini mengawali karier kepolisian melalui sejumlah penugasan di bidang kewilayahan dan reserse.
Jejaknya kemudian berlanjut ke Badan Narkotika Nasional (BNN). Di lembaga pemberantasan narkotika tersebut, Roy dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis.
Ia pernah menjabat Kepala BNNP Maluku Utara, Kepala BNNP Kalimantan Tengah, Direktur Narkotika BNN, hingga Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN.
Dari posisi terakhir inilah pengalaman Roy dalam memburu jaringan narkotika lintas negara semakin menonjol.
Terlibat Pengejaran Dewi Astutik
Salah satu operasi yang mencatatkan nama Roy dalam pemberantasan narkotika internasional adalah pengejaran Dewi Astutik alias Mami.
Dewi Astutik merupakan buronan kasus narkotika yang berhasil diamankan di Sihanoukville, Kamboja, pada 2025. Proses pengejaran dan penangkapannya melibatkan kerja sama lintas negara dan lintas institusi.
Dalam operasi tersebut, BNN berkoordinasi dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, serta Bea dan Cukai.
Dewi Astutik dikaitkan dengan jaringan penyelundupan narkotika yang berhubungan dengan pengungkapan sekitar dua ton sabu dari jaringan Golden Triangle.
Pengungkapan tersebut memperlihatkan salah satu sisi pekerjaan Roy ketika berada di BNN, yakni tidak hanya menangani perkara narkotika di dalam negeri, tetapi juga mengejar jaringan yang memiliki jejaring hingga mancanegara.
Kembali ke Jawa Tengah
Kembalinya Roy ke Jawa Tengah sebagai Kapolda juga memiliki catatan tersendiri karena wilayah ini pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
Saat bertugas sebagai Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, Roy telah berhadapan dengan berbagai persoalan kriminalitas di Kota Semarang. Pengalaman tersebut kemudian dilanjutkan dengan sejumlah penugasan di bidang reserse di daerah lain.
Roy pernah menjabat Kasat Reskrim Polrestabes Medan serta mengemban tugas di bidang reserse Polda Jawa Barat. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Dirreskrimsus Polda Bengkulu.
Rangkaian penugasan tersebut membentuk perjalanan karier Roy yang kuat di bidang reserse, penyidikan, hingga pemberantasan narkotika.
Dengan latar belakang tersebut, Roy kini kembali ke Jawa Tengah bukan sebagai orang baru. Ia datang sebagai pimpinan Polda Jateng dengan pengalaman yang terbentuk dari berbagai penugasan, termasuk operasi pemberantasan jaringan narkotika internasional.
Sementara itu, Irjen Pol Ribut Hari Wibowo yang sebelumnya memimpin Polda Jateng mendapat penugasan baru sebagai Wakalemdiklat Polri. Rotasi tersebut menjadi bagian dari dinamika organisasi dan pembinaan karier di tubuh Polri.












