FOLKSTIME.ID — Bagi sebagian anak, menari mungkin sekadar aktivitas untuk mengisi waktu bermain. Namun, bagi Ariendra Reiga Santoso, menari seolah menjadi kegemaran yang tumbuh secara alami sejak usia dini.
Di usianya yang baru menginjak 4,5 tahun, Reiga sudah terlihat luwes ketika mengikuti gerakan tari. Menariknya, kemampuan tersebut tidak diperoleh melalui sanggar ataupun latihan khusus. Ia justru belajar dengan cara sederhana, yakni dengan menonton berbagai video di YouTube dan memperhatikan pertunjukan kesenian yang ada di sekitarnya.
Kegemaran Reiga terhadap seni tari mulai terlihat ketika ia masih kecil dan kerap diajak sang kakek menonton berbagai pertunjukan kesenian di kampung tempat keluarga ibunya tinggal. Setiap kali ada kegiatan atau acara warga, hiburan seperti jaran kepang dan lengger kerap menjadi tontonan.
Dari sana, perhatian Reiga terhadap gerakan para penari mulai tumbuh. Ia tidak sekadar menonton, tetapi juga mencoba mengingat dan mempraktikkan kembali gerakan yang dilihatnya ketika sudah berada di rumah.
“Kalau di kampung istri itu setiap ada kegiatan atau acara, rata-rata hiburannya seni tari seperti jaran kepang dan lengger. Dia sering diajak nonton sama kakungnya. Biasanya memperhatikan terus, kemudian sampai rumah dipraktikkan, joget-joget seperti itu,” tutur ayah Reiga, Santoso (29).
Kegemaran tersebut ternyata tidak berhenti ketika keluarganya pindah ke Semarang. Santoso sempat mengira Reiga akan melupakan ketertarikannya terhadap dunia tari karena usianya masih kecil. Namun, perkiraan itu justru meleset.
Ketika diberi kesempatan memilih mainan, Reiga tetap menunjukkan ketertarikannya terhadap berbagai benda yang berkaitan dengan kesenian. Mulai dari pecot, kerincingan hingga gamelan berukuran kecil menjadi benda yang menarik perhatiannya.
“Setelah pindah ke Semarang, saya kira sudah lupa karena masih kecil. Ternyata masih sering minta dibelikan mainan seperti pecot, kerincingan, sama gamelan kecil. Jadi masih berlanjut,” kata Santoso.
Kebiasaan Reiga menari juga kerap terlihat ketika ia ikut orang tuanya berjualan di warung. Tanpa merasa canggung, Reiga terkadang berjoget meski berada di tengah banyak orang.
Kepercayaan dirinya semakin terlihat ketika lingkungan tempat tinggalnya menggelar kegiatan warga. Dalam sebuah acara perayaan Agustusan, misalnya, Reiga dengan percaya diri menyampaikan keinginannya untuk menari.
“Waktu awal di sini kebetulan ada acara Agustusan. Dia langsung bilang kepada saya, ‘Aku mau joget.’ Saya bilang, ya sudah, sana nanti,” ujar Santoso.
Hingga kini, Reiga telah beberapa kali tampil dalam kegiatan lingkungan. Ia pernah menunjukkan kemampuan menarinya dalam acara tingkat RT dan RW, termasuk kegiatan Agustusan. Penampilannya tersebut dilakukan tanpa latihan khusus.
Justru, sebagian besar gerakan yang ditampilkan Reiga dipelajarinya secara mandiri dari video-video yang ditontonnya di YouTube.
Bagi Santoso dan istrinya, Ernie Rihanah (29), kemampuan Reiga menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, keduanya mengaku bukan orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi untuk tampil di depan banyak orang.
“Orang tua malah pemalu semua. Jadi kami juga tidak menyangka dia bisa seperti itu,” ungkap Santoso.
Di balik kelucuan Reiga ketika menari, kedua orang tuanya menyadari bahwa bakat anaknya masih membutuhkan waktu untuk berkembang. Santoso tidak ingin terlalu membebani Reiga dengan target tertentu. Baginya, yang terpenting adalah membiarkan sang anak menikmati apa yang disukainya.
Ia juga belum mengetahui bagaimana kegemaran tersebut akan berkembang ketika Reiga semakin besar. Apakah tetap menyukai tari atau justru menemukan ketertarikan lain, semuanya masih menjadi bagian dari perjalanan Reiga.
“Belum tahu ke depannya bagaimana. Tidak tahu nanti semakin dewasa akan bosan atau tidak. Yang penting kalau sekarang masih percaya diri dan masih suka, ya kami lihat saja,” tuturnya.
Reiga sendiri kini tengah menempuh pendidikan di tingkat taman kanak-kanak. Di usia yang masih belia, ia sudah menunjukkan keberanian untuk tampil di hadapan orang lain sekaligus kemampuan mengikuti gerakan tari hanya dari apa yang ia lihat.
Bagi keluarga kecil Santoso dan Ernie, setiap penampilan Reiga bukan sekadar hiburan. Ada rasa bangga ketika melihat anak mereka berani tampil dan mengekspresikan dirinya melalui gerakan-gerakan tari yang dipelajarinya sendiri.
Santoso berharap kegemaran tersebut dapat terus berkembang seiring pertumbuhan Reiga. Ia tidak menuntut anaknya untuk menjadi penari ataupun mengejar prestasi tertentu. Harapannya sederhana, selama Reiga masih menyukai dunia tari, ia dapat terus mendapatkan ruang untuk belajar dan mengembangkan bakatnya.
“Semoga bakatnya bisa terus berkembang. Kalau memang dia masih suka dan masih percaya diri, kami sebagai orang tua tentu mendukung,” kata Santoso.
Dari kebiasaan sederhana menonton pertunjukan di kampung hingga belajar gerakan melalui YouTube, Reiga menunjukkan bahwa bakat terkadang tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan keseharian seorang anak. Tanpa latihan formal, tanpa paksaan, dan tanpa target besar, kecintaannya terhadap tari perlahan menjadi sesuatu yang membuat kedua orang tuanya bangga.(mus)













