FOLKSTIME.ID – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di RW 01 Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, dikemas berbeda dari upacara pada umumnya. Kehidupan petani, pelestarian bahasa Jawa, hingga aspirasi mengenai kesejahteraan petani dipadukan dalam satu rangkaian kegiatan warga, Senin (17/8/2026).
Konsep tersebut ditampilkan melalui pakaian peserta yang menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan. Sebagian warga mengenakan busana petani, sedangkan peserta perempuan tampil dengan kebaya. Sejumlah warga juga menggunakan kostum berbahan daur ulang sampah.
Tidak hanya mengangkat kehidupan petani, warga juga menyisipkan kritik sosial melalui atribut satire. Salah satunya ditampilkan Wahid dengan tulisan, “Juragan Bawang, Mau Mengupas 1 juta per kilogram atau menjadi istri saya.”
Atribut tersebut merujuk pada pernyataan mengenai penghasilan pengupas bawang yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram dalam pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto.
Kritik Disampaikan Lewat Satire
Wahid mengatakan tulisan tersebut sengaja dibuat sebagai bentuk sindiran terhadap pernyataan yang menurutnya sulit diterapkan dalam kondisi masyarakat pencari kerja.
“Saya lihat di media sosial, sangat khayal sekali bagi rakyat, bagi kami yang notabene mencari pekerjaan sulit. Ada istilah kupas bawang Rp700 ribu, maka saya naikkan menjadi Rp1 juta,” kata Wahid.
Menurut dia, penggunaan sosok juragan bawang dipilih karena besarnya penghasilan yang disebut dalam pernyataan tersebut menjadi perhatian masyarakat.
“Kenapa memilih jadi juragan? Karena juragan bawang yang saat ini, di samping viral sekali, kelihatannya kaya sekali. Ini juragan, loh. Yang pekerja saja satu kilo Rp700 ribu,” ujarnya.
Wahid menyebut kritik sengaja dikemas dalam bentuk humor agar dapat disampaikan secara ringan. Namun, ia berharap persoalan mengenai kondisi ekonomi masyarakat tetap menjadi perhatian.
“Kalau saya jadi juragannya, ya duit. Saya cukup ketawa saja. Tidak mungkin, sudah tidak mungkin. Mustahil,” katanya.
Ia juga meminta penyampaian informasi mengenai penghasilan pekerja dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
Mayoritas Warga Kandri Masih Bertani
Di balik kritik tersebut, tema petani dipilih karena sektor pertanian masih menjadi bagian penting kehidupan warga RW 01 Kandri.
Ketua RW 01 Kelurahan Kandri, Mas’udi, menyebut sekitar 60-70 persen warga di wilayahnya masih bekerja sebagai petani. Sementara sebagian lainnya bekerja di berbagai sektor.
“Untuk warga RW 01 itu adanya petani kurang lebih 60 sampai 70 persen. Yang lain adalah pekerja-pekerja,” kata Mas’udi.
Menurut dia, luas lahan pertanian di wilayah tersebut mencapai sekitar 50 hektare. Kondisi itu membuat pertanian dinilai layak diangkat sebagai tema dalam peringatan HUT ke-81 RI.
Selain menjadi sumber penghidupan warga, pertanian juga menjadi bagian dari potensi Desa Wisata Kandri, terutama untuk pengembangan wisata edukasi bagi generasi muda.
“Pertanian ini menjadi ikon kita di Desa Wisata Kandri. Terutama anak-anak muda kita ingin menjangkau informasi bahwa Desa Wisata Kandri menyediakan wisata edukasi yang berbau pertanian,” ujarnya.
Upacara Digelar Swadaya Warga
Peringatan kemerdekaan tersebut diselenggarakan secara swadaya masyarakat. Warga dari tujuh RT turut terlibat dengan jumlah keseluruhan sekitar 400 kepala keluarga.
Lokasi upacara tahun ini dipindahkan ke pintu gerbang masuk wilayah RT 01. Meski lokasi berubah, antusiasme warga tetap tinggi karena upacara kemerdekaan telah menjadi agenda tahunan.
“Upacara ini adalah swadaya warga. Antusiasme daripada warga itu sendiri juga tinggi. Setiap tahun kita cukup mengadakan upacara,” ujar Mas’udi.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai seremoni peringatan kemerdekaan. Interaksi antarwarga, gotong royong, dan kerukunan juga menjadi tujuan yang ingin dipertahankan.
“Harapan kita adalah bisa merukunkan warga dan bisa merayakan, biar warga itu bergaul. Gotong royong juga masih ada,” katanya.
Bahasa Jawa Dipakai dalam Prosesi
Keunikan lain terlihat dari penggunaan bahasa Jawa selama prosesi upacara. Bahasa daerah digunakan dalam penyampaian tugas maupun komunikasi selama kegiatan berlangsung.
Mas’udi mengatakan penggunaan bahasa Jawa merupakan bagian dari upaya mengenalkan kembali unggah-ungguh dan sopan santun kepada generasi muda.
“Upacara ini dikatakan sulit karena anak-anak muda sekarang berbahasa Jawa, yang mana bahasa Jawa sekarang sudah ditinggalkan. Kalau dulu unggah-ungguh tetap ada, sopan santun ada, walaupun sekarang ada tetapi sangat minim,” katanya.
Ia berharap penggunaan bahasa Jawa tidak berhenti sebagai simbol kebudayaan, tetapi menjadi sarana untuk menanamkan nilai kesopanan kepada anak-anak.
“Dengan adanya upacara yang berbahasa Jawa ini, kita bisa mengembalikan Jawa ke Jawa. Itu bukan berarti kita tidak mau maju atau mundur. Jawa itu ya Jawa. Anak-anak biar bisa sopan dan bisa menanamkan akhlakul karimah,” ujarnya.
Warga Soroti Kesejahteraan Petani
Selain persoalan budaya, peringatan HUT ke-81 RI tersebut juga menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi mengenai kondisi petani.
Mas’udi berharap kebijakan pemerintah mengenai ketahanan pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan harga hasil pertanian agar pendapatan petani dapat meningkat.
“Kita berharap pemerintah bisa mengendalikan masalah harga daripada petani untuk menyejahterakan petani. Harga-harga hasil petani yang lain juga bisa diperhatikan pemerintah agar petani sejahtera,” katanya.
Dengan menggabungkan tema pertanian, penggunaan bahasa Jawa, kostum berbahan daur ulang, serta kritik sosial melalui satire, warga RW 01 Kandri menjadikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai ruang untuk merayakan kemerdekaan sekaligus menyampaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan di tingkat kampung tidak hanya menjadi seremoni, tetapi dapat menjadi ruang untuk menjaga budaya lokal, memperkuat gotong royong, serta menyuarakan aspirasi masyarakat.













